RAPAT REDAKSI NUsa

Akhmad Zaini (Pimred Tabloid NUsa) memimpin rapat redaksi di halaman kampus STITMA Tuban.

DIKLAT JURNALISTIK

Peserta diklat jurnalistik dan crew Tabloid NUsa berpose bersama usai kegiatan diklat.

SILLATURRAHMI

Ketua LP. Ma'arif NU Kab. Tuban dan Pimred Tabloid NUsa berkunjung ke Rumah Gus Rozin (Putra KH. Sahal Mahfudz).

NUsa PEDULI SPESIAL

Mustain Syukur (Ketua PCNU Kab.Tuban) dan Fathul Huda (Penasehat LP. Ma'arif NU Tuban) berpose bersama siswa yang mendapatkan santunan NUsa Peduli.

STUDY BANDING LP. MA'ARIF NU KAB. TUBAN

Akhmad Zaini, ketua LP. Ma'arif NU Kabupatn Tuban saat menerima cinderamata dari LP. Ma'arif Kab. Pasuruan.

RAPAT BERSAMA

Pengurus PCNU, Pengurus LP. Ma'arif NU, PC.Muslimat Tuban, PC.Fatayat NU Tuban saat rapat bersama membahas pendidikan di Kabupaten Tuban.

GROUP SHOLAWAT SMK YPM 12 TUBAN

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

TURBA MAARIF NU TUBAN KE RENGEL

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

NUsa PEDULI EDISI 23

Tiga siswa berada di naungan LP. Ma’arif menerima santunan yang diberikan langsung oleh Dirjen Pendis (kanan) dan Kapala Kemenag Tuban.

PENGURUS PC. LP MA’ARIF NU

Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban.

AVANZA UNTUK OPERASIONAL MA’ARIF NU TUBAN

Zaini (Ketua PC. LP. Ma'arif) menerima hadiah mobil dari Bupati Tuban secara simbolis pada acara Rakor kepala sekolah dan pengurus yayaasan se-kabupaten Tuban.

PRESTASI FATAYAT

Fatayat NU Tuban Masuk 10 Besar Lomba Rias Provinsi.

JUARA MTK

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

TIM TABLOID NUsa

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

Tampilkan postingan dengan label RUBRIK TOKOH INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUBRIK TOKOH INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

KH. Nur Hasyim, Pahlawan Pendidikan dan Pejuang ‘’Jadilah Generasi-Generasi Macan”


Nama KH. Nur Hasyim bin Muhammad Rowi sudah tak asing di telinga warga Tuban, khususnya warga nahdliyin Bumi Wali ini. Tokoh termashur dengan julukan ‘macan dari Tuban’ ini adalah seorang orator ulung, pejuang umat dan pahlawan serta pelopor pendidikan.

Kiai Nur Hasyim juga  mempunyai jiwa enterpreneur (penguasaha)yang tinggi. Masa hidupnya dia berprinsip ‘’hidup matiku untuk umat’’. Prinsip itu ternukil dalam buku catatan pribadinya yang masih ada. Motto perjuangannya yang terkenal adalah ‘Samatni samatni alkhoidah’ artinya jadilah generasi-generasi macan. Kiai Nur Hasyim begitu bersemangat untuk menjaga kemurnian agama, pendidikan yang mencerdaskan dan keutuhan bumi pertiwi. Dia memperjuangankan umat dan mempertahankan panji-panji pendidikan ma`arif di Tuban sejak tahun 1924-1994
Kiai Nur Hasyim adalah sang pelopor pendidikan sekaligus guru bangsa pada masa orde lama dan pra-orde baru. Menumpas kebatilan, membasmi penjajah yang merongrong dan perusak kedaulatan serta keutuhan negara adalah tujuan hidupnya. Kiai Nur Hasyim adalah salah satu pelaku sejarah dalam perjalanan Nahdlatul Ulama di Tuban.  Kiai Nur Hasyim fokus menggeluti pengembangan pendidikan Ma`arif NU Tuban, khususnya di Kecamatan Soko. Saat itu, tahun 1965 NU Tuban di bawah pimpinan Rois Syuri’ah tahun 1965 KH. Abdul Fatah, Plumpang yang merupakan ayah dari A.S. Hikam mantan menristek ketika presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat.
Wakil Syuri’ah kala itu KH. Murtadji, dan pucuk pimpinan ma`arif untuk kali pertama kala itu KH Ali Tamam. Dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah modal memperbaiki umat dari segala lini dan sendi kehidupan itulah yang membuat Kiai Nur Hasyim gigih memperjuangkan pendidikan.
Selain memperjuangkan pendidikan umat, perjuangan yang dia lakukan sekaligus untuk menyelamatkan aset-aset NU dan ideologinya dari faham komunis yang waktu itu dibawa oleh kaum atheisme (PKI). NU saat itu juga menjadi partai politik hasil pemisahan diri dari partai Masyumi pada 1952. Sehingga NU berhak menjadi peserta pemilu pertama kali tahun 1955 dengan menempatkan diri menjadi partai tiga besar nasional di bawah Masyumi dan PNI.
Hal itu tak berbeda dengan suasana di Tuban.  NU saat itu bertengger nomor dua dalam pemilu. Namun setelah itu, tahun 1973 saat orde baru memerintah, pemerintah melakukan penyederhanaan dan penggabungan partai politik (defuse), hingga hanya ada tiga partai yaitu PPP (Partai Persatuan Pembangunan), Golkar (Golongan karya) dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia). Sejak itu, Mbah Nur Hasyim terjun menjadi kader PPP dan mengantarkannya menjadi anggota DPRD sampai tiga periode, hingga wafatnya.
Mbah Nur Hasyim adalah salah satu tokoh muda NU yang berani menentang kebijakan pemerintahan Belanda. Juga sangat gentol memperjuangkan kaum tertindas, fakir miskin, serta menjadi sosok yang disegani di kalangan pejabat negara, masyarakat, sekaligus menjadi tokoh yang ditakuti kaum komunis. Pada 1968 dialah yang menjadi penggerak untuk membasmi PKI dan antek-anteknya. Kala itu di Rengel dan Soko adalah tempat gembong PKI bersembunyi.
Garis nasab
Kiai Nur Hasyim, menurut catatan silsilah yang dibuat di Soko pada September 1990, merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara yang lahir di Desa Mojoagung, Kecamatan Soko, tanggal 24 April 1924 Masehi atau 20 Ramadan 1342 Hijriyah. Merupakan anak hasil pernikahan Mohammad Rowi Mojoagung, Soko dengan  Siti Habibah asal Lamongan yang memiliki garis keturunan sampai ke pangeran Hadi Widjaya atau Sultan Pajang yang dikenal dengan sebutan Joko Tingkir.
Ayahnya termasuk sosok yang teguh pendirian dan berwibawa. Dengan sikap yang tegas dan santun. Saat itu ayah Kiai Nur Hasyim menjadi seorang pengusaha di pasar Soko, dan  masyarakat mempercayainya menjadi kiai desa. Dalam manuskrip, menurut salah satu putra tertuanya, Kiai M. Ali Mufthi Soko, bahwa garis keturunan dari ayahnya tidak dibukukan, tapi silsilah dari ibunya masih ada sampai sekarang.  “Semua masih saya simpan, silsilah ini adalah tulisan abah,’’ terangnya.
Lembaran silsilah itu ditulis  dengan tulisan arab pegon. Dengan keterangan “niki silsilah dikutip dene Nur Hasyim Soko Tuban mboten nambahi lan ngurangi artinya (ini silsilah ditulis oleh Nur Hasyim Soko Tuban tidak mengurangi dan menambahi)”.
Dalam manuskrip disebutkan, keturunan Kiai Nur Hasyim dari jalur ibunya bermula dari Pangeran Pajang Hadi Widjaya atau Joko Tingkir berputra Pangeran Sumayudha, dikenal sebagai Abdul Jabbar yang makamnya di bukit Nglirip, Kecamatan Singgahan.
Diceritakan, dalam dakwahnya Abdul Jabbar memakai nama samaran Purboyo, yang berputra tiga orang yakni (Kiai Mursyid, Kiai Anom dan Nyai Dalem. Dari Nyai Dalem berputri Nyai Jamilah yang berputra Kiai Yahya, Kiai Abdurrohman, Nganjar Lasem, Nyai Baithit, Nyai Lajuk Cepu. Dari Kiai Abdurrohman asal Nganjar, Bonang, Lasem Jawa Tengah berputra Kiai Juma’in yang berputra Kiai Abdurrohman, Lamongan. Kiai Abdurrohman Lamongan memiliki empat anak, yakni  Kiai Marthowi, Nyai Siti Khotimah, Nyai Siti Habibah, dan Kiai Nasruddin, Jathos Lamongan. Dari Nyai Siti Habibah berputra 10 anak, Kiai Nur Hasyim Soko adalah yang bungsu.
Pendidikan
Kiai Nur Hasyim mengenyam pendidikan formalnya di Sekolah Dasar (SD) Tanggungan, Desa Pandanwangi Soko, karena waktu itu pendidikan agama masih dibatasi. Apalagi berbasis NU masih dilarang. Tapi,hal itu tidak menyurutkan niat untuk belajar. Selain itu, dia juga tekun mengaji di abahnya.
Setelah lulus SD, dia ingin mendalami pendidikan agamanya, sehingga melanjutkan ke pondok mondok di pondok pesantren Abu pesantren di Dusun Beron, DEsa  Punggulre jo Rengel selama 5 tahun dengan asuhan Kiai Musyafak. Dirasa kurang dalam mendalami ilmu agama, dia melanjutkan Darin Ngumpakdalem, Kendal Bojonegoro. Berbagai ilmu dia kuasai, di antaranya fiqih dan tasawuf. Bakat menjadi mubalig sudah terlihat sejak usia 20 tahun.
Dia tak kenal lelah menuntut ilmu, sehingga kembali mondok. Pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, yang pengasuhnya waktu itu adalah tokoh sekaligus pelopor berdirinya NU, KH Hasyim Asy’ari menjadi tujuannya. Kala itu jiwa mandirinya sudah terbentuk. Dia membiayai dirinya sendiri selama mondok dengan mengumpulkan uang dari menjahit. Hal itulah, yang membuat dia disegani oleh para kiai dan gurunya. Dari situlah kemandiriannya terlatih sampai akhirnya di tahun 1949 dia pulang kampung untuk berjuang di Soko.
Karena sejak kecil sudah hidup di keluarga yang kental nilai agama, dengan didikan sang ayah yang tegas dan keras, menjadikan dia tokoh masyarakat sekaligus seorang pengusaha dengan manajemen yang bagus.
Di Soko berdakwah melalui surau-surau yang ada, juga mendirikan pondok pesantren Nurul Huda yang berada di komplek yayasan Islam Nurul Huda. Ada madrasah Tarbiyatul Islam yang sekarang diteruskan anak dan cucunya.
Anak yang ke 7 Asadullah Khoiri, menceritakan tentang salah satu karomah tersembunyi Kiai Nur Hasyim. Bahwa musala dari Mojo ke Soko dipindah oleh Kiai Nur Hasyim sendiri dengan bantuan para kodam (pembantunya) berupa macan putih. ‘’Aneh juga paginya tidak ada musala di situ, kok malamnya bisa ada. Padahal abah waktu itu sedang istirahat di rumah, ungkap Kepala Sekolah MA Tarbiyatul Islam itu.
Sejak tahun 1949, sepulangnya dari pondok Tebu Ireng Jombang, memang Kiai Nur Hasyim langsung membantu mengajar ngaji. ‘’Sejarah mencatat pendidikan islam untuk pertama kalinya yang didirikan di Soko dipelopori oleh Kiai Nur Hasyim,’’ tambah  Kiai Mu’thi,  putra Kiai Nur Hasyim lainnya. Dia meniruman ucapan Kiai Nur Hasyim bahwa mencerdaskan generasi dan kader bangsa harus melalui pendidikan,  khususnya agama. Sejak berdiri Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Soko. Sampai sekarang MI menyebar sampai pelosok desa di Soko.
Pada tahun 1951 berdiri MI Tarbiyatul Islam Sokosari. Berdirinya di pelopori bersama sahabatnya, hingga dikenal dengan sebutan ‘tiga serangkai’, yakni Kiai Nur Hasyim sebagai pelopor yang membidangi pendidikan dan politik kebangsaan, Kiai Rozi membidangi hubungan masyarakat dan diplomatik umat, serta Kiai Kardani membidangi politik kemasyarakatan sekaligus menjadi mata-mata Golkar sebagai strategi pendekatan pemerintahanan kala itu.
Sementara itu, setelah berupaya keras dengan memulai berjuang mendirikan MI, di tahun yang sama, Kiai Nur HAsyim menikah dengan seorang gadis asal Desa Sawahan, Kecamatan Rengel bernama Siti Mu’tiah binti Ahmad Musyafak. Pasangan itu  dikaruniai delapan anak. Di antaranya Umi Nasikhah, Luluk Muftiyah, Anisa’i Khoiriyyah, M. Ali Mufthi, Hadi Masruri, Rofih Kholiliyah, Asadullah Khoiri dan Khoirul Muttaqim.
Meskipun hidup di jaman penjajahan Belanda sampai Jepang, dengan stabilitas keamanan terganggu, tidak menyurutkan langkahnya untuk mengembangkan sistem pendidikan madrasah yang didirikannya. Semula masih menggunakan sistem sorogan (klasikal) ala pesantren. Hingga seiring perjalanan waktu, akhirnya sukses mengembangkan program pendidikan ma`arif. Terbukti, tahun 1957 berhasil mendirikan madrasah tsanawiyah (Mts) Tarbiyatul Islam yang sudah mulai menggunakan kurikulum dinas pendidikan, hasil perjuangannya yang tak kenal lelah itu bersama temannya tersebut.
Akhirnya 1968, bersama sahabat seperjuangannya, Kiai Nur Hasyim mempunyai inisiatif untuk menyelamatkan umat dari rongrongan ideologi komunism dan demi mempertahankan agama dan bangsa, dia memulai menampakkan diri ikut berkiprah dipanggung politik kala itu menjadi kader PPP. Misinya menyebarkan pendidikan agama dan politiknya sampai ke pelosok desa se Kecamatan Soko. Kunci perjuangannya menyatukan tiga pilar yaitu melestarikan ubudiyyah (ibadah-akhlaq), penyebaran pendidikan politik umat dan sikap komunikatif atau musyawaroh bersama rakyat, mendapat dukungan penuh oleh rakyat. Satu persatu berdiri MI di Soko, hampir 16 MI yang berdirinya dipelopori Kiai  Nur Hasyim. “Dengan daya yang tangguh, setiap malam Mbah Nur Hasyim dengan sepeda pancal bersilaturrahmi ke desa-desa. Pertama untuk mengaji dan konsolidasi bersama rakyat. Kemudian membuat stategi mendirikan madrasah. Itulah yang istiqomah dilakukan. Pagi berurusan dengan santri malam berurusan dengan masyarakat, itu yang bikin salut,” tandas Kiai Fauzan Menilo teman seperjuangnnya. 
Pada tahun 1971, selain pendidikan, politik menjadikan salah satu metode dakwahnya. Degan kendaraan PPP telah menguatkan ruh perjuangannya sebagai langkah perlawanan pada pemerintahan yang selalu mengibiri kepentingan umat nadliyin. Harapannya, dengan menjadi wakil rakyat suaranya rakyat akan tersampaikan. Dia terpilih menjadi anggota DPRD Tuban untuk pertama kalinya saat Bupati Tuban dijabat KH Mustain. Selama menjadi angota dewan tiga periode berturut-turut mulai tahun 1971, 1982, dan 1990, Kiai Nur Hasyim mendirikan Madrasah Aliyah (MA) Tarbiyatul Islam pada 1979 dan satu Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda (YAPISNU).
Kiprah dan Keteladanan
Sikap yang santun, sederhana dan penuh wibawa tetap menjadi adalah ciri khas Kiai Nur Hasyim. KH Fauzan Umar Menilo mengatakan, bahwa Kiai Nur Hasyim selalu mengajarkan sifat yang tawaduk pada rakyat. “ Beliau sejak dulu selalu keliling kampung mengunjungi umat sehingga kedekatan beliau tak diragukan lagi, siapa yang tidak kenal beliau dalam keliling yang kala itu harus dia tempuh dengan jalan kaki atau pakai onthel,’’ ujarnya.
Asadullah Khoiri, anak ketujuh Kiai Nur Hasyim menambahkan, bahwa abahnya tipe pekerja keras memperjungakan agama tanpa pamrih, pantang menyerah. Kesulitan apapun tidak menyurutkan niat untuk berjuang, bahkan akan menjadi kekuatan untuk menggapai hari esok lebih baik. ‘’Abah itu orangnya kalem tapi serius dalam berprinsip, salah satu yang pernah dikatakan kalau berjuang jangan setengah-setengah tapi niat hati harus ditata dan sepenuhnya agar bisa runtut,’’ terangnya.
Hal senada disampaikan satu murid MTs Tarbiyatul Islam Soko (1976-1979) M. Sufaat yang menjabat kepala UPTD Disdikpora Soko. Dia mengatakan, sifat kesabaran, keberanian dan konsisten selalu mewarnai sosok Kiai Nur Hasyim. Demi kemaslahatan umat, tak pernah mengeluh, semangat dan keikhlasannya luar biasa. “Yang masih teringat, ketika Kiai mau mengajar, mendengar suara sandal kletek (sandal dari kayu) yang dipakai Mbah Yai saja, anak-anak sudah pada takut, karena wibawa dan karomahnya itu,’’ ungkap Ketua Tanfidziyah MWC NU Soko itu.
pejabat yang penting.
Kiai Nur Hasyim telah membuktikan diri, selama hidupnya selalu digunakan untuk pengabdian dalam urusan pendidikan dan berdakwah. Selain memiliki pendidikan formal dan pondok pesantren, beliau juga meninggalkan majelis ta’lim Ahad Kliwonon, yang sampai sekarang masih diteruskan oleh putra-putranya.
Di antaranya mengajarkan kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rosyid dan Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghozali. Jamaah Ahad Kliwon ini masih eksis sampai sekarang yang dibina oleh putra ke empat yakni Kiai  M Ali Mufti.
Selain aktif di dunia pendidikan, beliau bersama para jamaahnya juga berhasil mendirikan koperasi untuk kemaslahatan ekonomi umat kala itu. Sambil berniaga barang mebeler, jamu, dan peralatan kantor, hasilnya diberikan sebagai permodalan koperasi dengan tanpa bunga, sehingga masyarakat dan jamaah merasa terbantu. Bahkan juga membantu fakir miskin dengan membelikan 100 becak untuk dipinjamkan dengan memberikan setoran setiap hari yang peruntukkan demi kemajaun koperasi dan pendidiknya, tanpa mengambil sepeserpun. ’’Ya begitulah caa abah mengayomi umat. Masyarakat juga merasa dekat dengannya.
Pada hari senin 15 Juni 1994, Kiai Nur Hasyim wafat dan dimakamkam di makam umum Desa Sokosari. Setiap Muharam diadakan haul memperingati perjuangnnya. Terkadang juga bersamaan dengan akhirrusanah YAPISNU, peninggalannya adalah Lembaga YAPISNU dan SMP NU Plus 2 yang didirikan oleh putranya Kiai Ali Mufthi. Karya-karya yang masih ada dan pernah di terbitkan adalah  Pedoman Tashrifan (Ilmu Sharaf), Syarah Ta’lim al-Muta’allim , Hidayatus Shibyan dan masih banyak yang sebagian besar adalah terjemah dalam arti pegon.
 Jasa – jasa
  1. Pelopor berdirinya Lembaga pendidikan Ma`arif (MI, MTs, MA) se Kec. Soko (1951-1990)
  2. Mengajarkan Manajemen Keuangan dengan mendirikan Badan Usaha (Koperasi) Niaga
  3. Mendirikan Media komunikatif antar Santri dan Kyai serta Masyarakat ((KKM) di Soko (1989)
  4. Mendirikan YAPISNU (Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda) Soko Tuban (1990)
  5. Perintis berdirinya MWC NU Kecamatan Soko (1990)
  6. Pengajian Rutin Ahad Kliwonan, Pelestarian Kajian Aswaja yang dilestarikan di seluruh desa di Soko.
  7. Komandan Laskar Jihad saat memerangi PKI di Goa Tluwe Soko
 Prinsip
1.                  Istiqomah adalah Hidupku
2.                  Hidup dan matiku untuk Umat
3.                  Samatni Samatni Al Khoidah, (Jadilah Generasi Macan)
4.                  Semangat berjuang tanpa pamrih, akan jadi modal hidup di masa depan
5.                  Setiap Kesulitan tidak menjadi penghalang untuk berkarya dan berjuang
6.                  Apabila niat baik akan berakar baik pula
7.                  Amalkanlah syariah islam apa adanya itu sudah termasuk TASAWUF
8.                  Berpeganglah pada satu pedoman yang betul jangan guna lain pedoman untuk memusuhi
9.                  Konsisten dalam prinsip dan siap menjalani resiko
10.              Jangan mengeluh dalam berjuang, karena bisa merusak iman


Kamis, 01 Oktober 2015

TOKOH INSPIRATIF NUsa EDISI 41/Mengenal Sosok H. Achmad Rohmad, S.H

Gigih Perjuangkan NU Sejak Era Orde Baru
 “Ojo wani kiai, ojo wani NU. Ojo elek-elek kiai, ojo elek-elek NU.” Pesan Kiai Murtadji tersebut menjadi pegangan hidup bagi tokoh NU yang satu ini. Bahkan karena pesan itulah, dia menjadi setia berjuang di NU sejak era orde baru hingga saat ini.

Minggu siang sekitar pukul 11.45 WIB (13/09/2015), wartawan NUsa menuju salah satu rumah tokoh senior NU di wilayah Rengel, tepatnya di Desa Campurrejo. Meskipun jarak rumah cukup jauh dari pusat kota Tuban, tidak menjadi halangan baginya untuk tetap berkiprah di NU Tuban. Jarak puluhan kilometer tak mampu mematikan semangat juangnya. Di usia yang bisa dibilang sepuh, ia tetap setia berjuang membesarkan Nahdlotul Ulama’.
Dialah H. Achmad Rohmad, S.H atau yang lebih sering dipanggil Pak Rahmad. Ia lahir dua tahun sebelum kemerdekaan, saat Jepang masih menguasai Indonesia, tepatnya pada 7 Juli 1943. Ia merupakan putra ke-7 dari 10 bersaudara. Rahmad kecil terlahir dalam keluarga yang kental dengan budaya ke-NU-an. Orang tuanya adalah aktivis NU yang aktif, bahkan sang ayah merupakan pengurus pertama NU ranting Campurrejo sekitar tahun 1955.
Pada tahun 1971, Rahmad muda menikahi perempuan asal desa Beji, kecamatan Jenu yang bernama Siti Ma’rifah. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai 6 orang anak yaitu: 1)M. Tajuddin As-Subhi, 2)M. Mukafi, 3)Siti Ulfatur Rohmah, 4)A. Mufaizin, 5)Siti Farida Nur Ainiyah, 6)Ahmad Hisbullah Huda. Anak-anaknya sudah banyak yang berkeluarga dan tidak tinggal serumah dengan Pak Rahmad dan istri. Hanya anak terakhir yang tinggal serumah, namun si bungsu pun masih kuliah di Gresik, sehingga tiap harinya Pak Rahmad hanya tinggal berdua dengan sang istri.
Meski sudah sepuh, Pak Rahmad aktif mengikuti pengajian dan pertemuan rutin NU, di antaranya adalah kajian rutin sabtu pagi di Pendopo Manunggal Kridho Tuban, kajian Ahad pagi  “Lentera Hati” di masjid Al-Futuhiyah, serta Lailatul ijtima’ rutin di tiap ranting di kecamatan Rengel. Ditanya kesibukan, ia mengatakan bahwa ia sibuk sebagai petani dan peternak. “Kesibukanku yo macul sama ngurusi sapi ini, kotorannya dibuat kompos biar mengurangi pupuk dan juga pernah coba buat biogas tetapi tetangga nggak mau pakai, takut bau kotoran sapi,” ungkap kakek dari 10 cucu ini sambil tertawa.  Pak Rahmad memang orang yang menyukai kerja. Selain menjadi wakil ketua PCNU Tuban, ia juga menjadi wakil ketua MUI Rengel, ketua BAZ kecamatan Rengel, serta mendirikan KBIH Jam’iyatul Hujjat NU sejak 1994. “Saya ini punya kerjaan sampingan ngojek, ngantarkan ibuk ke kecamatan-kecamatan kalau ada acara Muslimat,” ungkap suami dari ketua Muslimat Rengel itu. “Kemarin ada acara di Bancar, di Parengan, saya antar sendiri,” tambahnya.
Haji Rahmad merupakan orang yang mencintai pendidikan. Saat kelas 1-3 SD, Rahmad kecil mengenyam pendidikan di SD Banjararum, sedangkan kelas 4-6 dilanjutkan di SD Prambonwetan. Di sore hari sepulang sekolah, ia melanjutkan belajar agama lebih dalam di Diniyah. Saat SMP, ia mondok di ponpes Matholi’ul Falah Kajen, Jawa Tengah. Dan setelah lulus SMP melanjutkan di PGA Bojonegoro. Tak berhenti di situ, ia juga pernah kuliah jurusan pendidikan di IKIP ISE Bojonegoro, sempat mengambil D3 IAIN Sunan Ampel Surabaya, serta mengambil S1 Hukum di Universitas Darul Ulum Jombang. Pada Oktober tahun 1965, Pak Rahmad diangkat menjadi PNS. Ia menjadi guru agama di banyak sekolah dasar, seperti di MI Prambonwetan, SDN Rengel, SDN 1 Ngerong, SDN Punggul, dan mengajar di MI nya sendiri, yaitu yayasan Al-Islahiyah yang berdiri sejak 1963. Ia pensiun PNS pada tahun 2003.
Pengabdiannya di NU sudah dilakukan sejak masa orde baru, sekitar tahun 1971, yang saat itu NU belum berkembang seperti sekarang. Bahkan pemerintah saat itu tidak mendukung gerakan NU. Karena cintanya pada NU, ia pernah dipecat dari jabatan ketua KPPS. “Saat pertemuan pembinaan KPPS, saya dipanggil pembantu Bupati. Saya masih ingat dengan orangnya. Lalu saya dipecat di hadapan orang banyak. Dia bilang petugas KPPS harus selektif,” kisahnya. Saat ada monoloyalitas tunggal pada satu partai yang berkuasa jaman itu, sebagai PNS otomatis Pak Rahmad juga harus mengikuti, namun jiwanya tetap pada NU. “Saya abot di NU. Saat itu saya langsung sowan ke Mbah Yai Murtadji. Dan pesan beliau masih saya pegang sampai sekarang,” ungkapnya. “Ojo wani kiai, ojo wani NU. Ojo elek-elek kiai, ojo elek-elek NU,” kata Pak Rahmad menirukan pesan Kiai Murtadji.
Kiprahnya di NU berawal dari menjadi wakil ketua MWC NU kecamatan Rengel, lalu menjadi pengganti ketua MWC yang diangkat menjadi ketua partai. Pada tahun 1998 hingga 2013, selama 15 tahun, Pak Rahmad menjabat sebagai Ketua MWC NU kecamatan Rengel. Dan kini adalah periode kedua ia menjabat sebagai wakil ketua PC NU kabupaten Tuban. Loyalitasnya pada NU sudah tidak diragukan lagi. Di usia 72 tahun ini, meski jarak Rengel-Tuban cukup jauh, Pak Rahmad aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di Tuban. “Pernah dulu saat hujan, ada rapat di Tuban malam hari, ya saya berangkat pakai mantel ke Tuban sendirian,” kenangnya. Faktor jarak dan usia tidak menjadi masalah baginya untuk tetap berjuang bersama NU demi menunjukkan wajah Islam yang ramah, Islam rahmatan lil alamin.
Pengalamannya yang paling diingat adalah saat pembangunan gedung PCNU Tuban. Beliau termasuk kader yang aktif mencari dana ke banyak pihak untuk pembangunan gedung NU tersebut. “Dulu kalau rapat itu malam hari setelah isya’, dan selesainya sampai tengah malam. Pulang naik sepeda onthel, sampai rumah jam 2 hingga jam 3 pagi, yo dilakoni. Rapat ya nggak ada makannya, paling kopi sama gorengan itu,” kisahnya. “Guyub jaman dahulu daripada sekarang,” tambahnya.

Baginya, kunci untuk tetap sehat dan semangat adalah dengan mengendalikan pikiran agar tetap bahagia dan rajin berolah raga. “Kuncinya seneng. Jangan sampai susah. Kalau ada masalah jangan dipikir terus. Kalau orang ngguyu, itu kan stress bisa hilang,” ungkap bapak yang hobi baca koran itu. “Kalau dulu saya suka olah raga sepak bola, voli, badminton. Saya pernah jadi juara badminton kecamatan. Tapi sekarang ya sering gak kena kalau mukul kock. Ya ganti olah raganya sama macul, jalan-jalan muter dari rumah ke sawah. Pagi hari itu mungkin ada sekitar 2 kilo saya jalan kaki,” jelasnya sambil tertawa. Mendengarkan cerita Pak Rahmad sangat menyenangkan, karena ia sering menyisipkan humor di sela ceritanya. (ria)

Rahmad: Yang Muda Harus Belajar Aswaja
Prinsip hidup Pak Rahmad adalah hidup ini untuk ibadah dan kerja. Ibadah untuk urusan akhirat, kerja untuk kebutuhan, agar seimbang. Dan selalu menjaga kesehatan agar tetap bisa bermanfaat untuk agama dan masyarakat. “Selama kita sehat, kita bisa ikut berjuang ngurusi agama,” katanya.  Pesannya bagi warga NU, khususnya yang muda adalah agar memperbanyak belajar tentang Aswaja. “Yang muda-muda itu harus benar-benar belajar Aswaja, biar tahu bedanya NU dengan yang lainnya. Anshor, IPNU-IPPNU itu harus aktif mengumpulkan remaja kalau libur sekolah, datangkan kiai untuk mengajari Aswaja,” katanya.
“Sekarang enak mau acara apa saja NU diijinkan, kalau dulu mau tahlilan saja harus ijin dahulu, mau ngumpulin orang disuruh ijin. Bahkan dulu orang masang gambar NU di rumah sendiri saja tidak berani. Lha beda jauh dengan sekarang, NU bisa berkembang, pertemuan pakai seragam NU, bahkan kondangan pun seragamnya NU. Apalagi sekarang orang-orang NU sudah banyak yang berani jadi pemimpin,” pungkasnya. (Ria)

Kamis, 01 Januari 2015

TOKOH INSPIRATIF NUsa EDISI 31//Mengenal Sosok Hj. Marsunah Fardiyati Fauzan

Tokoh penggagas arisan persahabatan santunan yatim dan dhuafa Perempuan Bangsa (dulu PPKB)

Hj. Marsunah Fardiyati Fauzan. 
Di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) nama Hj Marsunah memang tidak begitu mentereng. Akan tetapi dibalik kegigihan dan naluri yang dimiliki, membuat perempuan kelahiran Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang selalu giat berkiprah dalam organisasi sosial masyarakat.
Pengalaman organisasinya terbilang luas, sebab selain mengikuti fatayat dan muslimat perempuan yang lahir 22 Maret 1948 itu juga giat di organisasi sosial kemanusiaan lainnya.
“Sebelum gabung di muslimat saya lebih dulu ikut fatayat, kala itu sebagai bendahara dan ketuanya Istiana Cholil (istri KH. Cholilurrohman) itupun karena disuruh almarhum Kiyai Murtadji, dari situlah mulai senang dan ada naluri untuk selalu mengikuti kegiatan,” ujar Hj. Marsunah Fardiyati Fauzan saat ditemui di kediamannya, Jalan Pramukan Tuban.
Menurutnya, setelah di fatayat pada tahun 1982 hingga 1985, ia melanjutkan perjuangannya di PC Muslimat NU Tuban mulai tahun 1985 hingga sekarang. Ketika berkecimpung di muslimat, dipercaya sebagai bendahara yang saat itu diketuai Nyai Munir Maliki. Kemudian pada periode berikutnya dipercaya menjabat wakil ketua muslimat tepatnya tahun 1994 hingga 1999. Meskipun usianya hampir memasuki kepala tujuh, namun tak membuatnya kendor untuk berjuang dimuslimat. Kini selain sebagai pembina di Muslimat, juga aktif diikatan hajah milik muslimat.
Tidak berhenti disitu,  perempuan yang pernah belajar di pondok pesantren Denanyar, Jombang selama 4 tahun tersebut kini aktif juga di organisasi Perempuan Bangsa (PB) dulu Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB) dan sudah berganti nama sejak hasil munas III pada Agustus lalu. Di salah satu organisasi sayap PKB itu, Hj. Marsunah termasuk sebagai pendiri Perempuan Bangsa di Kabupaten Tuban. Bahkan dengan giatnya, saat ini telah dipercaya sebagai penasihat sekaligus sebagai penggagas dan koordinator kegiatan arisan persahabatan santunan yatim dan dhuafa Perempuan Bangsa di Kabupaten Tuban.
“Alhamdulillah sampai saat ini, saya masih bisa mengikuti kegiatan di muslimat maupun di Perempuan Bangsa, selama mendapat undangan, Insya Allah akan datang kok,” ucapnya dengan senyum.
Meskipun pernah aktif di fatayat dan kini menjadi pengurus muslimat serta Perempuan Bangsa, namun tak membuat Hj. Marsunah menutup diri untuk ikut kegiatan organisasi lainnya. Buktinya, pernah bergabung dan menjadi ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) mulai  tahun 1990 hingga 1995. Selain itu, juga ikut bergabung di organisasi Penyelenggara Taman Kanak indonesia (GOPTKI) sejak 1985 hingga sekarang. Bahkan karena saat itu PKB belum berdiri, sempat pula aktif di salah satu sayap organisasi milik partai Golkar. Namun ketika pada tahun 1998 NU membentuk PKB, dengan terang-terangan dan secara resmi telah keluar dari organisasi tersebut. Kemudian melanjutkan perjuangannya di muslimat NU serta aktif di PPKB sekarang PB.
“Karena saya merasa kader NU, saat NU mendirikan PKB, ya saya menyatakan keluar dari organisasi yang ada di partai golkar itu, lalu saya melanjutkan perjuangan di PKB yaitu di PPKBnya,” terangnya.

Pendidikan                
Hj. Marsunah Fardiyati Fauzan merupakan kader NU yang kependudukannya asli Tuban. Ia dibesarkan dan dididik ayahnya yang bernama KH. Moch Taslim dan ibunya bernama Hj Siti Zainab. Sebelum belajar di ponpes Denanyar, Kabupaten Jombang, semasa kecil telah mengampu di sekolah dasar. Bahkan setelah selesai sekolah pagi, pada sore harinya melanjutkan belajar di madrasah diniyah atau dikenal dengan sekolah sore. Kemudian setelah lulus dari sekolah dasar, melanjutkan proses belajarnya di ponpes selama 4 tahun. Ketika keluar dari pesantren, lalu dipersunting oleh KH. A. Fauzan Umar. Dari hasil pernikahannya, ia dikarunia seorang 3 putra bernama Zainal arifin, Yoni Anshori, Mirza Ali Mashur, sedangkan putrinya bernama Luky sa’adah.
“Karena ayah seorang PNS, jadi sering pindah-pindah, otomatis sekolah saya ketika SD pun pindah-pindah. Pernah di SD Pelumpang, Bulu dan Tuban,” ceritanya
Meskipun sudah memiliki cucu, namun tak membuatnya berhenti belajar dalam dunia pendidikan. Buktinya, saat ini perempuan pemilik CV Shita Jaya ini tetap mengurusi yayasan pendidikan TK FAST Tuban. Diyayasan pendidikan tersebut Hj Marsunah sebagai pembina sekaligus ikut menghendel dilembaga pendidikan itu.
“Umi ini adalah sosok yang peduli lingkungan, selain menjadi pembina diyayasan penddidikan FAST, juga aktif ikut mengurussi pendidikan disitu,” ujar Hj. Ratna Juwita menantunya.
Menurut Hj. Ratna, dimata keluarga sosok Umi adalah seorang aktifis yang penuh semangat diorganisasi. Meskipun saat ini usianya sudah tua, namun kegigihan dan nalurinya untuk aktif diorganisasi tetap semangat. Hal itu dibuktikan, dengan ikutnya dimuslimat yang menjabat sebagai pembina dan aktif pula diPerempuan Bangsa dimana berperan sebagai penggagas sekaligus koordinator arisan persahabatan santunan yatim dan dhuafa.
“Alhamdulillah dengan adanya arisan untuk yatim dan dhuafa ini pesertanya tidak hanya dari ibu-ibu NU dan PKB saja, tetapi dari luar partai juga ikut, bakhan warga muhamadiyah dan tionghoa juga ikut dikegiatan arisan utnuk yatim dan dhuafa itu,” terangnya.

Senin, 01 Desember 2014

TOKOH INSPIRATIF NUsa EDISI 31//KH. Kafrawi, Penghulu Tuban Masa Penjajahan Belanda

KH. R. Kafrawi.
KH. R. Kafrawi merupakan seorang ulama dari lingkungan Nahdlatul Ulama yang menjadi Ketua Pengadilan Agama atau Penghulu Tuban pada masa penjajahan Belanda. Beliau adalah ayah KH Fathurrahman (Menteri Agama Kedua RI). Penghulu pada masa itu merupakan jabatan administrasi di bidang keagamaan yang diangkat sebagai pegawai Belanda. Dengan demikian Kiai Kafrawi adalah seorang ulama sekaligus priyayi. Sebelum Kiai Kafrawi menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama (Penghulu), beliau adalah seorang yang alim yang diberi kepercayaan dalam segala bidang ilmu agama. KH. Kafrawi sendiri berasal dari Klopo Telu Merakurak dan masih keturunan dari Kiai Arifin bin Abdul Kodir (Mbah Diro).
 Kiai Kafrawi menikah dengan Siti Aisyah, dan dikaruniai empat orang anak. Mereka adalah: Munjiyat/Kaspiyatoen, Roesdiyah, Moesyarofah, dan KH. Fathurrahman. Menurut penuturan H. Masduqi, cucu keponakan dari KH Fathurrahman Kafrawi, sebenarnya Kiai Fathurrahman masih mempunyai kakak laki-laki tetapi meninggal ketika masih kecil. Konon, saudaranya itu pernah mengolok-olok ayahnya yang menjadi penghulu di Tuban dengan mengatakan jabatan penghulu dengan kata-kata “pang-pang diulu”. Anehnya, tak lama kemudian kakaknya itu meninggal dunia.
Kiai Kafrawi menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama pada masa kepemimpinan Raden Adipati Ario Koesoemodigdo (Bupati Tuban ke-35) yang memerintah mulai tahun 1892-1911. Raden Adipati Ario Koesoemodigdo telah berjasa membangun kembali Mesjid Agung Tuban pada tahun 1894. Mesjid Agung Tuban telah dibangun kembali oleh sang Bupati dengan gaya Eropa campur tradisional. Arsitek mesjid tersebut berkebangsaan Belanda bernama H.M.Toxopeus. Sang Bupati wafat pada tahun 1911, setelah memerintah Kabupaten Tuban selama 16 tahun dan dimakamkan di Astana Makam Pati Kebonsari, Tuban.
KH Kafrawi wafat tahun 1910 dan dimakamkan di pemakaman Desa Bejagung Lor Kecamatan Semanding, Tuban. Makam KH Kafrawi terletak di sebelah utara makam Syekh Abdullah Asy’ari (Sunan Bejagung). Lokasi makamnya sekarang sudah dipindahkan dan dijadikan satu dengan makam keluarga di pemakaman Desa Bejagung Lor. Sedangkan istrinya, Hj. Siti Aisyah, meninggal pada 1949 dan dimakamkan di kompleks Makam Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo, Tuban.

Guru Kiai Umar bin Harun Sarang
Menurut cerita yang lebih mashyur lagi, sumber ilmu yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Sarang (Rembang) konon berasal dari Kiai Klopo Telu. Karena banyak sekali para santri yang menimba ilmu di Kiai Klopo Telu pada saat itu berasal dari daerah Sarang, Jawa Tengah. Tampaknya hal itu bisa dibenarkan, terbukti KH. Umar bin Harun pernah berguru pada KH Kafrawi. KH. Imam Kholil, pendiri Pondok Pesantren MIS Sarang, dulu juga pernah berguru pada Kiai Badlowi di Santren, Merakurak. Sehingga ada anekdot kalau ada santri dari Merakurak yang ingin mondok di Sarang, maka oleh kiainya dikatakan bahwa ia bukan mau mondok melainkan mau mengambil ilmu leluhurnya yang telah ‘diambil’ oleh para Kiai Sarang.
Salah satu murid kinasih Kiai Kafrawi adalah Kiai Umar bin Harun dari Sarang (Rembang). Kiai Umar bin Harun (1855-1910) merupakan ulama yang terkenal sebagai salah seorang ulama Nahwu pada saat itu. Kiai Umar bin Harun lahir di Sarang pada tahun 1855 M /1270 H. Tumbuh dan belajar dalam bimbingan Kiai Ghozali (Sarang), lalu juga belajar kepada kiai-kiai lain seperti Kiai Syarbini (Sedan, Rembang), Kiai Kafrawi (Merakurak, Tuban) dan Kiai Sholeh (Langitan, Tuban). Beliau juga belajar agama di Mekkah, seperti Syekh Nawawi bin Umar al-Banteni (w. 1813 H/1897 M), dan Syeikh Abu Bakar asy-Syatho al-Makki, salah satu ulama Mekkah yang amat terkenal pada zamannya.
Setelah pulang ke tanah air pada tahun 1319 H dan mengabdikan hidupnya kepada pengajaran keagamaan, maka beliau berjuang dengan sangat gigih dan bekerja keras untuk mengangkat citra pondok pesantren menuju puncak kejayaannya sehingga bisa terkenal ke segala penjuru. Pesantren Sarang pun semakin bersinar, maju dan berkembang pesat dan menjadi tujuan para santri dari berbagai penjuru. Kiai Umar bin Harun merupakan pengasuh Ponpes Sarang pada periode kedua setelah penyerahan mandat dari guru beliau, Syekh Ghozali, yang tak lain adalah mertua Kiai Umar sendiri. Kiai Umar bin Harun wafat pada tahun 1328 H/1910 M, pada usia 55 tahun dan dimakamkan di kompleks pemakaman ulama Sarang. Beliau pernah menikah dua kali, namun dari keduanya tidak dikaruniai keturunan.(cholis)


Rabu, 29 Oktober 2014

Jejak perjuangan Pendidik Muda Asal Gresik di, Mlangi, Widang Tuban


Mengikuti Panggilan Jiwa

KELUARGA INTI: Khoirul Anam, S.Pd.I bersama istri dan putrinya.

Penampilannya sederhana. Namun, dibalik kesederhanaannya itu, dia telah mengukir perjalanan hidup yang layak diteledani oleh banyak orang. Dia rela menjadi guru dan berdakwah di kawasan cukup terpencil, Dermalang, Mlangi, Widang.

Nama lengkapnya, Khoirul Anam, S.Pd.I. Dia terlahir di Gresik pada 17 November 1984 sebagai putra keenam dari delapan bersaudara pasangan Utsman dan Karmani. Saat ditemui Tim NUsa di kediamannya, yang berada di belakang ruang kantor MI Tarbiyatul Islamiyah Dusun Dermalang, Mlangi, Widang, Anam menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya menetap di Dermalang.
Meski berada di wilayah Kecamatan Widang, Dermalang merupakan dusun yang terpencil. Dengan dusun lainnya di Desa Mlangi, Dermalang dipisahkan oleh kawasan tambak yang cukup luas. Dari dusun terdekat, jaraknya sekitar 3 kilometer. Akses menuju ke dusun itu hanyalah jalan bertanah yang lebarnya hanya 3 meter. Selain berkelok-kelok, jalannya juga sangat terjal. Pada saat musim hujan, jalan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan karena berlumpur. Sebagai penggantinya, masyarakat menggunakan perahu sebagai alat transpotasi.
Saat ini, Dermalang didiami oleh 87 KK. Namun, di antara 87 KK itu, banyak yang kepala keluarganya (laki-laki) merantau ke luar Jawa (kebanyakan ke Ternate). Sehingga, kawasan ini lebih banyak didiami kaum hawa dan anak-anak. ‘’Kalau Shalat Jumat paling 35 orang,’’ tutur Anam.
Bapak 1 anak ini lalu mengungkapkan, sebelum dia menetap di Tuban, terlebih dahulu kakaknya mengajar di Widang dan Rengel. Karena sering nyambang ke rumah kakaknya,  akhirnya dia pun tertarik untuk ikut berjuang  menyebarkan Islam di wilayah orang awam (baca: abangan). Dan, Dusun Dermalang-lah yang akhirnya dijadikan pijakan untuk berjuang tersebut.
” Inilah jalan hidup saya bersama keluarga dan kami sangat senang bisa menginjakkan kaki di bumi wali ini,’’ ujar Anam.
Dia mengungkapkan, di awal kedatangannya, masyarakat Dermalang kurang bisa menerima kehadirannya.  Namun, bisa menghadapi hal itu dengan baik. Anam selalu ingat petuah para pinisepuh agar dirinya  “kuat ati lan kuat kupinge”. ‘’Alhamdulillah tantangan itu bisa kami hadapi, sehingga kami  sekeluarga sampai sekarang bisa berjuang di sini,’’ ungkap Anam.

Panggilan Jiwa
            Anam mengawali pendidikannya di MI Al Amin Balung Panggang Gresik lulus tahun 1995. Setelah itu, dia meneruskan di Sekolah SMP 1 Balung Panggang yang selanjutnya  meneruskan di SMA Cerme Gresik. Setelah lulus pada 2001, Anam melanjutkan study di IAIN Sunan Ampel Surabaya (Sekarang UINSA) pada 2009 jurusan PGMI. Karir pendidik dan pengajarannya dimulai di sekolahnya yang dulu yaitu di MI Al Amin. Namun, karena faktor ekonomi dan harus mencari nafkah buat adik-adiknya dan keluarga sehingga pengabdiannya hanya 1 semester. Setelah itu Anam menjadi karyawan di salah satu prabik di Sidoarjo.
Selama berprofesi sebagai karyawan pabrik, Anam pernah menjadi karyawan di pabrik springbed selama 1 tahun. Setelah itu, dia pindah menjadi karyawan di PT. Unilever Pusat di Simo Pomahan Surabaya  bagian Marketing (Baca: sales) dan distributor  selama kurang lebih 7 tahun.Saat usia 25 tahun, Anam  dipindah di Cabang Lamongan. Setelah itu, Anam pindah lagi ke Petrokimia Gresik selama 2 tahun.
Meski sudah malang melintang di sejumlah perusahaan, Anam tidak bisa lupa dengan ajakan kakaknya yang tinggal di Tuban agar dia mau menjadi pendidik di Dermalang meneruskan kakaknya yang sudah terlebih dahulu mengabdi di kawasan itu. “Panggilan jiwalah yang membuat saya kembali menjadi pendidik,’’ tutur Anam.

Perjuangan di Dermalang
Meskipun kondisi Dermalang relatif terpencil, namun hal itu tidak menyurutkan semangat suami dari Ninik Erna Hidayati (30Thun) yang menikah sejak 2006 ini. Anam yang dikenal warga sabar dan santun itu mampu melestarikan ajaran aswaja di dusun yang hanya di huni 87 KK tersebut. Saat ini, suasana Dermalang cukup religius.
Pada 2008, Anam menjadi kepala sekolah menggantikan kepala sekolahnya yang berasal dari Widang. Sejak itulah dengan kegigihan dan kerja kerasnya bersama istrinya dan swadaya masyarakat, Anam berhasil menata Administrasi/Tata Usaha Madrasah, mendirikan gedung untuk MI pagi dan mendirikan TPQ dan Diniyah untuk sore harinya. Di dusun tersebut juga berdiri bangunan masjid cukup besar yang berlokasi di depan MI Tarbiyatul Islamiyah.
Anam bersyukur, pada 2009 dan 2013 lembaga yang dia pimpin mendapatkan Block Grant dari Kementrian Agama Tuban. Saat itu bantuan diserahkan langsung oleh Kakemenag Tuban Drs. Leksono, M.P.dI dan Pendma Tuban Drs. Muhlisin Mufa, M.Pd.I.
Anam menceritakan, untuk menuju seperti saat ini, dibutuhkan perjuangan sangat berat dan penuh tantangan. Namun, semua itu bisa diatasi dengan selalu mengingat motivasi dari Kiainya waktu mengaji di desa asalnya. ‘’Saya selalu dimotivasi, apa pun yang dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang baik pula maka semua akan menjadi baik di masa yang akan datang,’’ ujarnya.
Anam menandaskan kalau materi duniawi baginya tidak menjadi tujuan nomor satu. Menularkan ilmu sebari hidup kesederhanaan menjadi pilihan hidupnya. “Hidup kudu nrimo opo sing dadi pandumani sing kuoso” katanya. Dengan gaji sebagai guru yang tak seberapa  buat menyambung hidup bersama istri dan satu anak  itu dia syukuri dengan ikhlas. Untuk mencukupi kebutuhan, perekonomian keluarga di topang dengan berjualan isi ulang air minum. Selain itu, dia juga berjualan air mineral segala merek untuk menyediakan serta membantu warga di dusun itu. “Alhamdulilah sedikit-sedikit bisa membantu jajan anak dan membantu perekonomian keluarga, ” tutur Anam sembari tersenyum.(edy/hafidh)

Motivasi dan Prinsip Hidup Khorul Anam
1.      Berjuang harus siap segalanya baik tenaga, pikiran dan harta benda bahkah nyawa Berani cumpleng kupinge, panas sirahe lan loro atine”
2.      Kalau ingin berjuang jangan melihat duniawi atau materi.
3.      Ikhlas berjuang akan dapatkan segalanya baik rizqi dan kepuasan/ketengan hati
4.      Setiap apapun yang baik harus dilakukan dan yang tidak baik harus ditinggal
5.      Kita tidak boleh fanatik dengan sesuatu hal, dan tetap hati-hati dengan apapun yang bertentangan dengan ajaran yang kita anut.
6.      Pemud harus berkiblatlah kepada para pendahulu atas perjuangan dan jerih payahnya dalam memperjuangkan bumi pertiwi dan agama.
7.      Alam adalah guru, maka tafakkur billah kepada alam akan mengingatkan kita kepada Allah SWT

8.      Tiga motivasi diri harus diingat; carilah ridho Allah, merebut kesalahan dan jangan merasa benar, selalu dzikrullah.