RAPAT REDAKSI NUsa

Akhmad Zaini (Pimred Tabloid NUsa) memimpin rapat redaksi di halaman kampus STITMA Tuban.

DIKLAT JURNALISTIK

Peserta diklat jurnalistik dan crew Tabloid NUsa berpose bersama usai kegiatan diklat.

SILLATURRAHMI

Ketua LP. Ma'arif NU Kab. Tuban dan Pimred Tabloid NUsa berkunjung ke Rumah Gus Rozin (Putra KH. Sahal Mahfudz).

NUsa PEDULI SPESIAL

Mustain Syukur (Ketua PCNU Kab.Tuban) dan Fathul Huda (Penasehat LP. Ma'arif NU Tuban) berpose bersama siswa yang mendapatkan santunan NUsa Peduli.

STUDY BANDING LP. MA'ARIF NU KAB. TUBAN

Akhmad Zaini, ketua LP. Ma'arif NU Kabupatn Tuban saat menerima cinderamata dari LP. Ma'arif Kab. Pasuruan.

RAPAT BERSAMA

Pengurus PCNU, Pengurus LP. Ma'arif NU, PC.Muslimat Tuban, PC.Fatayat NU Tuban saat rapat bersama membahas pendidikan di Kabupaten Tuban.

GROUP SHOLAWAT SMK YPM 12 TUBAN

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

TURBA MAARIF NU TUBAN KE RENGEL

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

NUsa PEDULI EDISI 23

Tiga siswa berada di naungan LP. Ma’arif menerima santunan yang diberikan langsung oleh Dirjen Pendis (kanan) dan Kapala Kemenag Tuban.

PENGURUS PC. LP MA’ARIF NU

Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban.

AVANZA UNTUK OPERASIONAL MA’ARIF NU TUBAN

Zaini (Ketua PC. LP. Ma'arif) menerima hadiah mobil dari Bupati Tuban secara simbolis pada acara Rakor kepala sekolah dan pengurus yayaasan se-kabupaten Tuban.

PRESTASI FATAYAT

Fatayat NU Tuban Masuk 10 Besar Lomba Rias Provinsi.

JUARA MTK

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

TIM TABLOID NUsa

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

Tampilkan postingan dengan label RUBRIK SEKOLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUBRIK SEKOLAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2014

Geliat MTs Ma’arif Membangun Kepercayaan Masyarakat Kota


Jaga Kualitas, Tanamkan Karakter Agama  

Kantor MTs Ma'arif Tuban.


Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’arif Tuban adalah salah satu lembaga pendidikan berbasis agama yang berada di tengah kota, tepatnya di kelurahan Sukolilo RT 03 RW 04 Tuban. Meski posisinya tidak persis di pinggir jalan besar, namun sekolah ini cukup eksis.


         Keberadaan sekolah ini tidak lepas dari jerih payah Ahmad Barowi, S.Pd.I yang saat ini menjabat sebagai kepala sekolah. Dia adalah salah satu tokoh penting yang mempelopori keberadaan sekolah di tengah-tengah kota ini. 
             MTs Ma’arif Tuban berdiri pada 1998 di komplek Bumi Ma’arif Manunggal dan bernaung di bawah lembaga pendidikan Ma’arif. Keberadaannya berdampingan dengan RA Muslimat NU 04 Tuban yang gedungnya berada di sebelah utaranya. Sebelah timurnya berdiri tegak Kampus  STITMA (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Mahdum Ibrahim), SMA Muallimin dan SMK YPM 12.
         “Madrasah ini dulunya bernama SMP Manunggal Tuban (Tahun 1988). Semenjak banyaknya sekolah-sekolah yang baru dan lebih banyak diminati oleh masyarakat, maka saya dan Pak Asnawi (mantan ketua PC LP Ma’arif Tuban) mendirikan sekolah lagi yakni MTs Ma’arif. Yang sekolah MTs mendapatkan  8 siswa , sedangkan SMP dapat 2 siswa. Karena jumlah muridnya sedikit,  akhirnya kami jadikan satu menjadi MTs Ma’arif Tuban,” cerita Barowi saat ditemui NUsa.
          Saat ini, tenaga pengajar yang ada di MTs Ma’arif  Tuban  ada 18 dewan guru dan 1 staf. Serta  jumlah siswanya ada 104, terdiri  kelas 7 A ada 21 siswa,  kelas 7 B ada 21 siswa. Kelas 8 ada 27 siswa. Kelas 9 A ada 17 siswa dan kelas 9 B ada 18 siswa. Semua itu adalah siswa yang yang inputnya rendah serta ekonomi keluarga yang kurang memadai. Tapi cukup bagus dalam perkembangan selama ini. Dalam kelulusan ijian nasional prosentasenya dinilai cukup bagus apabila dibandingkan dengan sekolah-sekolah swasta yang ada di kota.
       Penanaman karakter agama sangat ditanamkan oleh para guru di situ. Itu semua diwujudkan dengan adanya extra kurikuler baca kitab kuning dan MTQ. Pada setiap paginya pukul 06.45 siswa-siswi dianjurkan mengikuti Tiwalatil Qur’an yang dipandu salah satu dewan guru dari kantor. Setelah itu siswa-siswi diajak untuk melaksanakan Sholat Dhuha terlebih dahulu. Kalau ada siswa yang terlambat dan tidak mengikuti, diberi sanksi dengan disuruh membaca di depan kantor.
        Sama halnya dengan sekolah-sekolah lainya yang ada di kota, MTs Ma’arif juga mempunyai extra kurikuler lainya, seperti komputer, olah raga dan pramuka. Semua itu dilakukan untuk membakali siswa-siswinya supaya bisa melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi. Pada 2013 lalu, MTs Ma’arif Tuban mendapatkan bantuan dana Block Grant untuk membangun gedung baru. Gedung baru tersebut berada  di sebelah timurnya kantor dan sekarang digunakan untuk pembelajaran kelas 9 A dan B.   
Kemajuan MTs Ma’arif Tuban tidak hanya terlihat dari jumlah siswanya yang semakin meningkat, tetapi juga dari deretan piagam penghargaan yang diraih cukup membuktikan bahwa keeksisan, keaktifan, serta kesungguhan MTs Ma’arif berjalan dengan baik. Juga merupakan bukti adanya tekad untuk tidak mau kalah dengan sekolah-sekolah negeri yang ada di kota.
“Banyak dari siswa-siswi MTs Ma’arif yang melanjutkan pendidikan SMA-nya ke sekolah-sekolah unggulan, seperti SMAN 1 Tuban, SMAN 2 Tuban, SMAN 3 Tuban dan ada juga yang melanjutkan ke SMKN 2 Tuban. Walaupun dari swasta tapi mereka tidak kalah dari siswa-siswi yang berlatar belakang dari sekolah negeri,” ungkap Barowi bangga. (amin)  

Ciptakan Kebersamaan dan Disiplin
Lambat laun dengan berkembang teknologi yang semakin canggih, MTs Ma’arif Tuban bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain dan lebih banyak diminti oleh masyarakat. Walaupun 80 persen siswa MTs Ma’arif adalah siswa yang tidak diterima di sekolah-sekolah unggulan, namun MTs Ma’arif bisa membuktikan bahwa sekolah swasta juga bisa berprestasi. Itu semua dibuktikan dengan pernah diraihnya penghargaan sebagai juara 2 lomba rebana yang diselenggarakan oleh PC IPNU-IPPNU Tuban. Selain itu, juga pernah meraih juara 2 lomba gerak jalan tingkat kabupaten dalam acara PHBN. Juara 1 lomba MTQ tingkat kecamatan kota, serta juara 3 lomba sepak takrow yang selenggarakan oleh Kemenag Tuban.
Sebagai sekolah yang berada di bawah naungan LP Ma’arif NU Tuban, MTs Ma’arif  punya visi-misi untuk mencetak generasi cerdas, bertaqwa, berahlakul karimah dan berwawasan  ahlusunnah wal jamaah. Diharapkan semua siswa-siswi MTs Ma’arif Tuban bisa mengharumkan nama lembaganya. Dari tahun ke tahun diharapkan MTs Ma’arif bisa setara dengan sekolah-sekolah lain yang sudah maju.
Sri Wahyuningsih. S.Pd.I, waka kurikulum MTs Ma’arif mengatakan, walau MTs Ma’arif biasa-biasa saja dalam pembelajaran, namun MTs Ma’arif mempunyaim potensi besar bila dikembangkan secarea serius. Kebersamaan, kedisiplinan, dan kerja sama yang selalu diterapkan, diyakini akan menjadi kunci kesuksesan.
‘’Dengan suasana kerja seperti itu, kita dapat termotivasi untuk selalu berkembang dan maju. Hal itu pula yang selama ini kami terapkan kepada siswa-siswi MTs Ma’arif Tuban untuk selalu memupuk kebersamaan dan kedisiplinan dalam keseharinnya,’’ tandas Sri.(amin)     

Selasa, 29 April 2014

Perjalanan Panjang MI Salafiyah Mahbubiyah, Bandungrejo, Plumpang

Terpencil tak Halangi Kemajuan


     Dulu bermula dari IPNU-IPPNU, kemudian menjadi madrasah formal tradisional. Kini MI Salafiyah Mahbubiyah pelan-pelan berubah menjadi “modern”. Penerimaan Siswa baru kini bisa online.
Sebelum 1962, belum ada madrasah di Desa Bandungrejo, Plumpang. Kehidupan masyarakat desa masih belum tersentuh dengan pengajaran formal melalui madrasah. Saat itu, pembelajaran yang terjadi baru sebatas anak-anak usia IPNU-IPPNU yang mengaji kitab kepada Kiai setempat, KH. Rohmat. Dari ngaji kitab itu, akhirnya dibentuklah pengurus IPNU-IPPNU.
 “Ngaji itu seolah seperti madrasah, tapi berbentuk diniyah,” ungkap Moh. Djaeri, komite madrasah yang sekaligus pelaku sejarah beridirnya MI Slafiyah Mahbubiyah itu. Pelajaran yang diajarkan adalah dari kitab Sulam Safinah, Bidayah dan Taqrib.
Kegiatan mengaji itu sempat terhenti setahun, yakni pada 1965. Kemudian pada 1966, atas tekat bersama para kiai, tokoh masyarakat dan desa didirikanlah madrasah dengan gedung pertama berupa rumah bambu “bongkotan”. Dijelaskan Mbah Djaeri, letak madrasah itu dulu di sebelah Masjid Al-Khosmani (kini nama Masjid itu adalah Al-Muttaqin, Bandungrejo). Murid MI Salafiyah Mahbubiyah saat itu mencapai 90 anak dan gurunya berjumlah 5 orang: M. Djaeri, M. Sunoko, Rohman, Kaspu Kasan dan Kiai Miftah Asrori (pengajar ngaji pengganti KH. Rohmat).
Namun, madrasah yang masih seumur jagung itu harus berafiliasi dengan sekolah dasar pada 1970-1971. Hal itu disebabkan faktor politis. Pemerintah, dengan kekuasaannya, memaksa MI Salafiyah Mahbubiyah berubah nama menjadi Madrasah GUPPI (Gabungan Usaha Pendidikan Islam). Namun, madrasah hasil intervensi pemerintah saat itu hanya berjalan 3 bulan. “Saat itu, saya saja yang mengajar. Guru yang lain berhenti dan akhirnya siswa-siswinya habis. Tidak bersisa,” cerita Djaeri. Alhasil, MI Salafiyah Mahbubiyah dikembalikan lagi ke sebelah masjid, dengan pertimbangan kemaslahatan.
Pada 1984 madrasah mendapat hibah tanah desa (yang kini ditempati MI S. Mahbubiyah). Dengan tersedianya tanah itu, MI S. Mahbubiyah mendapat bantuan 3 gedung dari pemerintah pada 1985. Selesai dibangun, siswa-siswi madrasah akhirnya diboyong dari gedung bambu sebelah masjid menuju gedung baru hasil bantuan pemerintah. Saat itu, mata pelajaran yang diajarkan MI S. Mahbubiyah di antaranya: Tauhid, Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Ke-NU-an, Ilmu Shot, Nahwu-Shorof dan beberapa ilmu umum. “2/3 ilmu agama dan 1/3 ilmu umum,” ungkap pendiri yang kini menjadi Komite madrasah itu.
Setelah ada kurikulum dari Departemen Agama (Depag) Kabupaten Tuban, akhirnya mata pelajaran yang diajarkan di MI S. Mahbubiyah disesuaikan. Pada 2009 lalu, MI S. Mahbubiyah kembali mendapat bantuan rehab gedung (Block Grant) dari Kemenag Tuban.(wakhid)

Daftar dan Lulus Via Online
Kini MI Salafiyah Mahbubiyah telah hidup di zaman modernisasi-globalisasi, di mana dunia IT telah merebak ke seluruh penjuru dunia. Internet telah mampu menyambungkan hubungan-komunikasi masyarakat yang hidup di daerah manapun di dunia ini. Nah, meski letaknya terpencil, jauh ada di pedalaman, MI S. Mahbubiyah tidak mau ketinggalan dari madrasah-sekolah, yang berada di kota sekalipun, dalam menerapkan aplikasi yang muncul dari dunia IT.
Achmad Suyuthi, S.Pd
Kepala MI Salafiyah Mahbubiyah Bandugerejo Plumpang Tuban
Kepala Madrasah Achmad Suyuthi, S.Pd mengatakan bahwa MI-nya telah menerapkan pendaftaran siswa baru secara online. Tidak hanya itu, untuk mengetahui kelulusan siswa-siswinya pun bisa diakses melalui internet, akun websitenya. “Dalam pembelajaran, khusus kelas 6, kami sudah memakai proyektor-LCD. Absen guru telah memakai finger print dan lingkungan sekolah telah tersambung internet dengan Wi-fi,” jelas kepala madrasah alumnus Universitas Wisnuwardana ini.
Meski telah mengikuti kemajuan, MI S. Mahbubiyah tetap tidak meninggalkan pembelajaran-pendidikan karakter keagamaan. Mata pelajaran agama tetap diberi porsi lebih. Ditambah, pembiasaan siswa akan akhlak islamiyah setiap hari. “Datang awal, salam dan cium tangan guru. Ketika bel pertama (06.30) anak-anak membaca surat-surat pendek. Sebelum belajar, mereka menghafal Asmaul Husna. Dan praktek ibadah juga kami biasakan, seperti: Sholat Dhuha dan Dhuhur dan pada saat-saat tertentu kita tahlil, istighotsah, ziarah,” jelas kepala yang kini hampir menyelesaikan S2-nya di Unisla itu.
Untuk menunjang aspek religius itu, kegiatan ekstrapun digalakkan. Drum band, qosidah al-banjari, qiro’ah, teater, pramuka dan istighotsah telah menjadi kegiatan mingguan mereka.
Berbagai prestasi di tingkat kecamatan telah mampu diraih oleh siswa-siswi MI S. Mahbubiyah. Bahkan dalam ajang di tingkat propinsi pun siswa MI S. Mahbubiyah pernah menempati posisi yang cukup membanggakan. Siswanya pernah mencapai posisi 11 dalam Olimpiade MIPA-IPA tingkat propinsi pada 2011. Sedangkan pada 2012, siswanya mampu menempati posisi 9 dalam Olimpiade MIPA-MTK.

Kini MI S. Mahbubiyah Bandungrejo, Plumpang memiliki siswa-siswi sejumlah 145 anak dan guru yang mengajar, serta karyawan, sejumlah 11 orang. Bahkan di kompleks MI S. Mahbubiyah telah berdiri RA dan PG. “Siswa RA mencapai 60 anak, terbagi 2 kelas. Dan siswa PG 23 anak,” tandas Suyuthi. (wakhid)

Jumat, 03 Agustus 2012

Perjalanan Panjang SD Islam Makamagung Tuban

Sempat Diisukan Ijazahnya tak Laku
Penulis: Wakhid Qomari
EKSIS DAN BERPRESTASI: Gedung SD Islam (kiri) dan Bili Firdaus Hanafi yang berhasil mendapat kejuaraan Ol-impiade Sains Tingkat Propinsi Jawa Timur dan mewakili Jawa Timur mengikuti Olimpiade Sains Tingkat Nasional.

SD Islam Makamagung, adalah SD Islam pertama di Tuban.Usianya lebih dari setengah abad. Dinamika politik di Indonesia, sempat membuat sekolah ini dikeluarkan dari Depag dan ijazah yang dikeluarkan hanya berasal dari Ma’arif. Kini, sekolah ini tetap eksis di bawah naungan Dikbud. 

Sekitar 1951, belum banyak lembaga pendidikan formal umum untuk warga NU. Karena warga NU adalah warga mayoritas di Tuban, maka pendirian lembaga pendidikan formal yang mengajarkan materi umum dianggap sangat perlu. Ibu Nyai Fatkhurrohman Kafrawi (istri dari salah satu menteri Agama Indonesia) muncul sebagai penggagas berdirinya sekolah umum yang islami untuk warga NU. Dia bersama para tokoh yang lain berusaha mendirikan SRI (Sekolah Rakyat Islam) di Kutorejo.
Saat awal berdiri itu, SRI harus bergantian gedung sekolah dengan Nasiatul Banat, sekolah dasar milik Muhammadiyah.  Pagi hari gedung sekolah dipakai SRI, sedangkan sore harinya Nasiatul Banat yang memakai gedung sekolah itu. “Dulu semua rukun, Mas,” ungkap H. Abdul Mu’in, tokoh NU yang saat ini menjabat kepala SDI Makamagung.
Pada 1960 Madrasah Islam NU (MINU) berdiri di masjid Agung (kini sebelah selatan masjid). Karena para tokoh pendiri SRI adalah juga para tokoh NU, maka sekitar 1964 SRI berfusi dengan MINU, yang kemudian berubah nama menjadi SD Islam. Waktu itu kepala SRI adalah Sadiran, sedang kepala MINU adalah Kiai Toyib. Dan akhirnya Sadiran terpilih untuk menjadi kepala SD Islam. Sejak saat itulah nama SD Islam muncul sebagai SD Islam pertama di Kabupaten Tuban.
Mu’in yang kini menjadi kepala sekolah merupakan alumni SD Islam. Dia menjadi pengajar di SD Islam sekitar 1975, setelah tamat dari perguruan tinggi. Tahun 1977 dia diangkat sebagai kepala SD Islam. Saat dia memimpin, dia merasakan dinamika perjalanan SD Islam. Saat itu, SD Islam masih bernaung di Depag Kabupaten Tuban. Kasi Pendaisnya adalah seorang yang berasal dari ormas lain yang tidak berhaluan ahlussunnah waljama’ah nahdliniyah. “Kondisi politik Indonesia saat itu beda dengan sekarang. Jadi depag Tuban juga dikuasai orang ormas lain.”
Dengan kondisi yang seperti itu, diduga karena adanya alasan politik, SD Islam dikeluarkan dari depag sekitar 1978. Hal ini mengakibatkan satu tahun pelajaran lulusan SD Islam tidak mendapatkan ijazah negeri. Mereka yang lulus hanya mendapat ijazah dari Ma’arif. Namun anehnya, ijazah Ma’arif saat itu sudah bisa dipakai mendaftar di sekolah setingkat SLTP.
Karena ada sebagian masyarakat yang kurang menyukai SD Islam, maka saat itu berhembus isu di masyarakat bahwa Ijazah SD Islam tidak laku. Isu itu mengakibatkan ketakutan bagi wali murid yang menyekolahkan anaknya di SD Islam, sehingga banyak sekali murid yang ke luar dari SD Islam. Dari murid yang asalanya150 anak berubah tinggal 100 anak.
Kondisi itu memaksa Mu’in untuk berpikir keras agar segera mendapatkan legalisasi pada pihak yang berwenang. Depag sudah tidak mungkin dimintai perijinan lagi, maka dia berusaha mengirim surat perijinan pada disdikbud kabupaten Tuban. Saat itu yang menerima surat darinya adalah Supatmo. Setelah melalui proses perijinan, akirnya 1979 SD Islam diterima di Disdikbud Kabupaten Tuban dan melaksanakan ujian pertamanya, di bawah Disdikbud, bersama dengan SDN Kebonsari I.
Setelah melaksanakan ujian bersama SDN Kebonsari I itulah, Mu’in mengumpulkan seluruh wali murid dan guru dalam sebuah acara musyawarah dengan menghadirkan Kepala Kandepdikbud Ahmad Kabul. Setelah pertemuan itu, masyarakat kembali percaya kepada SD Islam bahwa isu yang berkembang di masyarakat tidak benar.
Pada 1981SD Islam yang asalnya bertempat di Masjid Agung dipindah ke Makamagung (kini kompleks ponpes As-Shomdiyah) karena ada rehab Masjid Agung Tuban. Saat itulah SD Islam menetap di Makamagung sampai sekarang.
Tahun 1984 Mu’in diangkat sebagai pegawai negeri, sehingga dia tidak bisa maksimal mengurusi SD Islam lagi. Akhirnya dia diganti dengan Hanif untuk memimpin SD Islam.

Tahun 1988 Abu Amin menggantikan posisi Hanif sebagai kepala SD Islam. Abu Amin adalah seorang pegawai negeri. Dia menjadi DPK yang ditugaskan memimpin di SD Islam itu. Sekitar 1992 Mu’in kembali lagi menjadi kepala SD Islam. Saat itu dia juga menjadi DPK yang ditugasi memimpin SD Islam. Sampai sekarang dia memimpin di SD Islam. (wakhid)


Berbasis Kerakyatan, Pertahankan SPP Murah
Abdul Muin

“Sekolah swasta yang didirikan ulama’ berbasis kerakyatan. Begitulah wacana yang dikeluarkan Kepala SD Islam, H. Abdul Mu’in, guna tetap mempertahankan kepercayaan masyarakat Tuban terhadap sekolah dasar yang dipimpinnya itu.
Wacana itu dimunculkan karena Mu’in ingin melawan wacana umum yang berkembang di masyarakat, yakni “sekolah swasta biayanya mahal”.
Menurut Mu’in tidak mesti sekolah swasta itu mahal dan tidak mesti pula sekolah murah itu tidak berkualitas. Dia menjelaskan bahwa meskipun biaya SD Islam yang dipimpinnya sangat terjangkau masyarakat di berbagai tingkatan, prestasi akademiknya tidak kalah dengan sekolah-sekolah lain yang biayanya sangat mahal.
Hal ini dibuktikan dengan seabrek tropi yang terjajar di ruang tamu kantor SD Islam. Namun, yang paling menonjol adalah pada 2008 SD Islam, saat sekolah ini mampu menjuarai lomba sempoa tingkat internasional yang diselenggarakan di Malaysia. Pada 2009 SD Islam menjuarai lomba sempoa tingkat nasional yang diselenggarakan di Bali.
Pada 2010 SD Islam mewakili kabupaten Tuban untuk mengikuti Olimpiade Mipa di Surabaya. Dalam olimpiade itu, SD Islam mampu menyabet juara III. Yang terakhir ini, pada 2012, SD Islam berhasil menjurai Olimpiade Saint Sekolah Dasar tingkat Propinsi Jawa Timur, yang kemudian membuatnya ditunjuk untuk mewakili Tuban mengikuti Olimpiade Saint Tingkat Nasional di Jakarta. Meskipun yang terakhir ini tidak mampu menyabet gelar juara, menjadi delegasi yang mewakili Jatim mengikuti olimpiade saint tingkat nasional sudah membuatnya bangga.
“Hal ini membuktikan kita tidak kalah dengan sekolah-sekolah yang mahal itu,” ungkap kepala sekolah sekaligus ketua tanfidliyah PC NU Tuban ini.
Selain mendorong prestasi, SD Islam juga telah menerapkan sistem sekolah berkarakter. “Jauh sebelum wacana sekolah berkarakter yang dimunculkan kemendikbud, kami telah menerapkan sekolah berkarakter itu,” ungkapnya.
Kegiatan rutin setiap hari siswa-siswi SD Islam untuk menunjukkan dia sebagai sekolah berkarakter adalah bersalaman antara siswa-siswi dengan guru sebelum masuk kelas, membaca asma’ul husnah, dan menghafal beberapa bacaan-bacaan khusus, termasuk do’a-do’a.
Ditambah, siswa-siswi SD Islam telah dibiasakan dengan multi bahasa (Indonesia, Mandarin dan Inggris) dan dunia IT. “Ketiga bahasa itu telah diajarkan pada anak mulai kelas 1 sampai kelas 6. Anak-anak juga sudah diajari tentang komputer,” ungkap Waka Kesiswaan SD Islam Mahmudi Ilcham.
Karena terbiasa dengan lingkungan seperti itulah, siswa-siswi SD Islam terbentuk menjadi anak-anak yang unggul dalam bidang agama dan umum. Oleh karena itulah kepercayaan masyarakat masih sangat tinggi pada SD Islam. “Kini jumlah murid keseluruhan 423. Siswa baru sebanyak 72 anak. Setiap kelas dibagi dalam 2 ruang,” ungkap Mahmudi Ilcham.
“Alumni-alumni SD Islam banyak yang masuk di SMP maupun MTs negeri unggulan dan ada juga yang masuk di pondok pesantren besar,” ungkap Mahmudi. Bahkan alumni SD Islam yang telah dewasa banyak yang menjadi orang unggulan. “Abdul Mu’in menjadi staf Mensesneg, Ansori menjadi marinir, dan Ahalla Sauro berhasil ikut pertukaran pelajar Indonesia-Australia dan masih banyak lagi yang lain,” tandas Mu’in.
Ditanya mengenai kiat-kiat yang dilakukan guna tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap SD Islam, H. Abdul Mu’in menjelaskan ada 5 hal, di antaranya: meningkatkan kualitas lulusan. Menurutnya, peningkatan kualitas lulusan sangat urgen dilakukan pada waktu-waktu sekarang karena persaingan antar lembaga sudah begitu ketat.
Untuk meningkatkan kualitas lulusan itulah dia selalu mendorong dewan guru untuk selalu meningkatkan kreatifitas dan kualitas belajar di kelas. Penambahan beberapa mata pelajaran khusus juga diberikan, seperti bahasa asing dan bacaan-bacaan do’a serta asmaul husna. Selain itu, karena wacana yang dikeluarkan adalah sekolah berbasis kerakyatan, maka biaya sekolah di SD Islam juga sangat terjangkau bagi masyarakat.
Dengan penerapan kiat-kiat semacam ini, Mu’in mengatakan bahwa sampai sekarang para alumni yang kini telah mempunyai anak usia sekolah dasar banyak yang menyekolahkan anaknya di SD Islam Makamagung. (wakhid)