RAPAT REDAKSI NUsa

Akhmad Zaini (Pimred Tabloid NUsa) memimpin rapat redaksi di halaman kampus STITMA Tuban.

DIKLAT JURNALISTIK

Peserta diklat jurnalistik dan crew Tabloid NUsa berpose bersama usai kegiatan diklat.

SILLATURRAHMI

Ketua LP. Ma'arif NU Kab. Tuban dan Pimred Tabloid NUsa berkunjung ke Rumah Gus Rozin (Putra KH. Sahal Mahfudz).

NUsa PEDULI SPESIAL

Mustain Syukur (Ketua PCNU Kab.Tuban) dan Fathul Huda (Penasehat LP. Ma'arif NU Tuban) berpose bersama siswa yang mendapatkan santunan NUsa Peduli.

STUDY BANDING LP. MA'ARIF NU KAB. TUBAN

Akhmad Zaini, ketua LP. Ma'arif NU Kabupatn Tuban saat menerima cinderamata dari LP. Ma'arif Kab. Pasuruan.

RAPAT BERSAMA

Pengurus PCNU, Pengurus LP. Ma'arif NU, PC.Muslimat Tuban, PC.Fatayat NU Tuban saat rapat bersama membahas pendidikan di Kabupaten Tuban.

GROUP SHOLAWAT SMK YPM 12 TUBAN

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

TURBA MAARIF NU TUBAN KE RENGEL

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

NUsa PEDULI EDISI 23

Tiga siswa berada di naungan LP. Ma’arif menerima santunan yang diberikan langsung oleh Dirjen Pendis (kanan) dan Kapala Kemenag Tuban.

PENGURUS PC. LP MA’ARIF NU

Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban.

AVANZA UNTUK OPERASIONAL MA’ARIF NU TUBAN

Zaini (Ketua PC. LP. Ma'arif) menerima hadiah mobil dari Bupati Tuban secara simbolis pada acara Rakor kepala sekolah dan pengurus yayaasan se-kabupaten Tuban.

PRESTASI FATAYAT

Fatayat NU Tuban Masuk 10 Besar Lomba Rias Provinsi.

JUARA MTK

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

TIM TABLOID NUsa

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

Tampilkan postingan dengan label RUBRIK PETILASAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUBRIK PETILASAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

Berdakwah dari Kawasan Tertinggi di Tuban


PUNCAK GUNUNG: Kompleks Makam Syech Shodiqu Desa Ngrejeng Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban

Bila nama Sunan Hasaan Asy’ari atau Sunan Bejagung yang baru saja diperingati (dihauli) kewafatannya sudah sedemikian akrab di telinga masyarakat, tidak demikian dengan santrinya Syekh Shodiqu. Padahal, Syekh Shodiqu atau Mbah Shodiqu adalah murid Sunan Bejagung yang berjuang menyebarkan Islam di Tuban bersama sang guru.
Makam Syekh Shodiqu berada di puncak gunung tertinggi, tepatnya di Desa Ngrejeng, Kecamatan Grabagan. ‘’Beliau diberi wasiat oleh gurunya (Sunan Bejagung, Red) untuk berjuang di dearah paling tinggi di Tuban ini,” kata Patkan, warga yang tinggal di dekat makam Syekh Shodiqu.  Makam Mbah Shodiqu berdampingan dengan murid-murid beliau  yang berasal dari Tuban, yaitu Mbah Kimul dan Mbah Kimpul. Sedikit agak jauh (di luar cungkup), ada makam Nyai Sekar Arum.
Syekh Shodiqu merupakan ulama pendatang dari Hadrotul  Maut. Tidak ada sumber valid tentang kapan Syekh Shodiqu datang di Tuban dan kapan beliau wafat. Informasi tentang dua hal tersebut masih menjadi misteri sampai sekarang.
Semula, masyarakat tak begitu menghiraukan peran dakwah dan perjuangan Mbah Shodiqu dan murid-muridnya. Masyarakat setempat tak begitu menyakini adanya wali di desanya. ‘’Dulu tempat ini hanya berupa gerumbulan pohon kayak hutan, tak terawat,’’ kata Patkan.  Baru kurang lebih 6 tahun lalu, makam itu dibuka oleh K.H. Sholihan, pengasuh Pondok Al-Khoirot (dikenal dengan Kirut), Rengel. Setelah dibuka, makam Mbah Shodiqu sekarang menjadi tempat yang bersih, asri dengan pemandangan alam yang menyejukkan.
 Diceritakan warga, sebelum pembukaan makam dilakukan, ada kejadian ghaib yang dialami KH Sholihan. Diceritakan, ketika Kiai Sholihan duduk dan santai di kursi ruang tamu  rumahnya, secara tiba-tiba datang 4 orang (3 laki-laki dan 1 perempuan) sowan. Kepada Kiai Sholihah, mereka mengajukan permintaan agar Kiai Sholihah membuka dan mengurusi makam yang berada di Desa Ngrejeng. Setelah 4 orang itu pamitan, Kiai sholihan menyadari kalau yang hadir di rumahnya adalah arwah Syekh Shodiqu dan murid-muridnya (Mbah Kimul, Mbah Kimpul dan Nyai Sekar Arum).
Sebelum diurus, makam Mbah Shodiqu banyak digunakan sebagai praktek kemusyirikan dan hal-hal lain yang dilarang agama. Kini praktek tersebut sudah terkikis. Di malam hari, keadaannya terang benderang, setiap malam Jum’at Pahing dilakukan acara rutinan, yakni pembacaan Rotibbul Hadad dan Tahlil  oleh kiai setempat secara bergiliran.
Masyarakat pun sekarang merasa bersyukur atas limpahan nikmat Allah. Sebab setelah makam itu dibuka, berkah pun melimpah. Hasil panen petani tegalan mulai meningkat. Warga merasa tenang dan lebih bisa didekatkan dengan Allah. (edy/haliemah)

Selasa, 29 April 2014

Jejak Sunan Kalijaga di Desa Medalem, Senori Tuban


Dapat Firasat, Gus Dur pun Berziarah

      Masyarakat sekitar menyebutnya makam Sunan Kalijaga Mara Teka atau dikenal Raden Sahid Mara Teka. Sebagian masyarakat juga ada yang menamakan makam Ploso Medalem. Tempat tersebut diyakini sebagai petilasan Sunan Kalijaga yang ada di Tuban.
        Makam tersebut terletak di Dusun Soko, Desa Medalem, Senori. Dari pusat kota Tuban menuju lokasi makam, diperkirakan sekitar kurang lebih 65 km. Sebelum diziarahi oleh masyarakat luar dan dibuka oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), makam tersebut sudah ditemukan oleh seorang penduduk setempat.
Juri kunci makam, Ali Imron saat ditemui dilokasi makam menceritakan, sebelum dibuka dan diresmikan oleh Gus Dur pada 1999 lalu, keberadaan makam tersebut sudah ditemukan oleh seorang warga setempat yang bernama Mulyadi. “Mulyadi itu masih Pak Lek kulo,”ujar Imron.
     Diceritakan, saat itu pamannya termasuk orang kaya di Desa Medalem. Namun suatu hari hartanya semakin habis, lalu membuat rumah di tengah area ladang atau tegalan.  Disitu ia hidup sendirian dan tidak punya tetangga. Dari situlah tiap malam antara sekitar jam 21.00 hingga 23.00, Mulyadi sering didatangi seseorang yang berpakaian serba hitam.
      “Tiap hari didatangi terus. Orang itu bilang agar Pak Lek (Mulyadi, Red) merawat makam yang masih rumbuk. Dan ternyata, ketika kesokan harinya dicek, makam tersebut ternyata ada. Dulu tempat ini memang rungget (banyak semaknya),” imbuh Imron.
        Setelah ditemui beberapa kali, akhirnya Mulyadi datang dan berkonsultasi kepada Kiai Baidi (ayah Gus Mad Tuban). Saat itu, Mulyadi diajak oleh K. Baidi untuk menghadap ke K.H. Hamid Pasuruan. Saat datang ke rumahnya Kiai Hamid, jawaban kiai tersebut sangat mengejutkan Mulyadi. Katanya kiai Hamid juga pernah ziarah di makam tersebut. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan kalau nama dari makam tersebut bernama Raden Sahid Moro Teko. Setelah ditanyakan kejelasan makam tersebut, seminggu kemudian Kiai Baedi bersama warga setempat mulai membukanya.
     “Tapi dulu kondisinya belum secerah ini, keadaannya masih banyak semaknya. Jadi kelihatan angker. Selain itu, pemerintah dulu kan senpat melarang untuk menziarahi,”tandasnya.
       Dijelaskan Imron, saat zamannya Gus Dur menjadi presiden, tepatnya pada 1999, makam tersebut baru dibuka dan direnovasi sedikit demi sedikit. Kedatangan Gus Dur ke makam karena beliau dapat petunjuk, kalau ingin negara makmur harus berziarah ke makam Sunan Kali Jaga. Saat itu Gus Dur datang ke Kadilangu, Demak. Akan tetapi, di situ Gus Dur dapat firasat untuk ziarah ke makam Sunan Kalijaga yang berada di Kabupaten Tuban. Dengan melalui Riyadh Tsauri yang biasa dipanggil Gus Aya, selanjutnya mencari keberadaan makam tersebut. Informasi yang diterima ternyata benar terdapat makam Sunan Kalijaga yang letaknya di Dusun Soko, Desa Medalem, Kecamatan Senori. Sehingga Gus Dur datang dan berziarah ke makam tersebut. Tepatnya pada 17 Ramadhan persisnya 1999. Pada saat itu, makam sudah mulai dibuka. “Kalau menurut penuturan Gus Dur, yang di Kadilangu itu kantornya, akan tetapi di sini makamnya. Tapi semua itu Allahu a’lam,” papar Imron.
        Setelah ditetapkan acara haulnya, selanjutnya di tahun 2000 masehi dibentuk juru kunci oleh pihak desa dan kecamatan setempat. Dalam musyawarah tersebut, lalu ditetapkan sebanyak 5 juri kunci. Di antaranya, Mbah Sangep, Khoribun, Mbah Modin Wanijo, Dimiyati, dan Ali Imron. Di saat itu pula, sekitar makam mulai dibangun dan renovasi. “Akan tetapi kelima juru kunci tersebut empat sudah meninggal, ya tinggal saya juru kuncinya ini,” katanya. (suwandi)

Semilir Dinaungi Ploso Songo

     
      Ada yang menarik, ketika berziarah di makam di Dusun Soko, Medalem, Senori. Selain angin sawah yang semilir membelai rambut para peziarah, makam yang berada di tengah sawah tersebut ditumbuhi pohon ploso. Karena itulah makam tersebut dinamakan makam ploso. Hal ini, menimbulkan hawa sejuk dan kenyamanan untuk berteduh di siang hari. Warga sekitar biasanya beristirahat di sekitar makam sambil menjemur hasil panen di halaman makam. Dengan demikian, makam yang berada di tengah sawah tersebut tak pernah sepi lalu lalang aktivitas warga setempat.
      Tidak hanya warga saja, bahkan peziarah pun banyak yang beristirahat di kompleks pesarean tersebut. Salah satu peziarah, Rudi (25) dari Kalitidu, Bojonegoro, mengatakan nyaman dan teduh ketika berada di pesarean makam. Ketenangan ia rasakan bersama satu temannya siang itu.
Panorama Ploso Songo yang tumbuh di kompleks makam sunan Kali Jaga, memayungi beberapa makam aulia lainnya. Makam auliya lain yang berada dalam satu kompleks dengan makam sunan Kali Jaga yaitu makam Syekh Badawi (Solo), makam Abdurrahman (Janjang, Blora), Makam Dewi Amiroh (Istri Sunan Kalijaga), makam Abdul Aziz Abdul Basith (saudara Mbah Jabbar, Nglirip, Singgahan), Mpu Supa (adik sunan Kalijaga),  Patih Wana Salam dan Abdul Qodir (putra Raden Patah), Raden Semangun (senopati Banyuwangi), dan satu makam yang terletak 1 Km dari makam Sunan Kalijaga yaitu makam Rasa Wulan atau dikenal dengan nama Nyai Dembaga (adik sunan Kalijaga).
      Keberadaan pohon Ploso yang memayungi pesarean dan musala, ternyata memiliki cerita lain. Cerita tersebut merupakan simbol nama makam itu sendiri. Sembilan pohon ploso dimaknai sebagai jumlah wali sanga. “Ada juga yang memaknai sebagai simbul Rasulullah, empat sahabat rasul, dan empat madzab. Ada beberapa tafsiran dari mulut ke mulut mengenai pohon ploso di makam ini,” jelas Imron yang  juga pengajar di salah satu MI di Desa Medalem.
      Imron menambahkan, jauh sebelum makam ditemukan, pohon ploso sudah ada. Sekarang pohon itu tinggal 8 batang, karena yang berada di sebelah selatan pesarean Dewi Amiroh, tumbang. (antok)

Pesarean Berbentuk Segi Delapan
     

Makam yang dulunya dipercayai sebagai rumah Sunan Kali Jaga, memang belum ditemukan bukti peninggalan-peninggalan yang berarti, kecuali cincin dan tasbih. Akan tetapi, peninggalan tersebut juga tidak ada artinya lagi, karena sudah raib. Namun demikian, pesarean yang berada di bawah pohon ploso, nampak berbeda dari pesarean-pesarean makam lainnya. Makam tersebut berbentuk segi delapan dengan empat saka guru. Bentuk bangun tersebut berawal, ketika membuat cungkup tidak lagi mencukupi panjang makam. Setiap cungkup diperluas dan ukuran sudah sama dengan ukuran panjang makam, tetap saja cungkup tersebut tidak mencukupi panjang makam. “Hari ini diukur, besuk didirikan, cungkup masih saja kurang luas. Hal itu, berulang-ulang,” ungkap Imron.
      Dari kejadian itu, warga lantas berinsiatif untuk tetap mendirikan cungkup tersebut dengan membuat sudut baru pada sisi-sisi luar cungkup. Akhirnya, terbentuklah cungkup segi delapan dengan pintu yang menyudut. “Seperti itulah bentuknya, mirip pagoda di Semarang,” ungkap Imron.

Selain itu, untuk mencukupi kebutuhan peziarah, di area kompleks makam dihadirkan pula gentong tempat wudu dan  minum. Selain  itu, terdapat ruang kantor untuk juru kunci. Sedangkan untuk menambah kekhusyukan peziarah, dibangun sebuah musala yang nyaman untuk para peziarah. Di samping itu, acara istigosah selapanan, rutin diadakan warga sekitar. Acara tersebut dilaksanakan setiap kamis kliwon malam jumat legi. (antok)

Jumat, 01 Maret 2013

Jejak Kiai Ahmad Mutamakin Kajen, Pati di Desa Sugiharjo, Tuban

Ada Nampan Hingga Gentong di Masjid Karomah

BELUM DIPUGAR:Masjid Karomah Winong peninggalan Kiai Ahmad Mutakim.

KH Ahmad Mutamakin, Kajen Pati Jawa Tengah, diketahui memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Bejagung, Semanding Tuban. Di Masjid Karomah, Winong, Sugiharto, Tuban, ada petilasan yang menunjukkan kalau Kiai Mutamakin juga pernah menyebarkan Islam di daerah ini.  

Di antara petilasan yang ada di Tuban adalah Masjid Karomah Winong. Masjid ini terletak di Dukuh Winong, Sugiharjo, Kecamatan Tuban Kota. Situs masjid yang berjarak sekitar 7 km dari pusat perkotaan kota itu, merupakan salah satu tempat semacam padepokan milik Kiai Mutamakin saat menyebarkan agama islam. Sebelum dipugar oleh warga menjadi masjid yang lumayan besar pada tahun 1977, dulu tempat itu hanyalah tempat kecil yang digunakan oleh Kiai Mutamaqin untuk berriyadhoh dan bermunajat kepada Allah SWT.
Di sekitar masjid juga terdapat satu pohon sawo kecik yang sangat besar, diperkirakan berumur ratusan tahun. Pohon itu diyakini oleh masyarakat sekitar, sudah ada sejak zamannya Kiai Mutamakin. Tidak hanya itu, sebuah gentong dan benda persegi terbuat dari kayu seperti nampan juga termasuk peninggalannya.
Konon, gentong tersebut merupakan tempat menyimpan air untuk kebutuhan Kiai Mutamakin sehari-hari. Selain gentong, juga terdapat sebuah benda seperti nampan. Benda tersebut diyakini masyarakat sebagai alat yang digunakan di saat menyuguhi para tamunya Kiai Mutamakin. Masuk lagi ke dalam masjid, di situ tersimpan kayu berbentuk lonjong agak bulat konon digunakan Kiai Mutamakin dalam menaruh peci atau baldu.
 Selain itu juga terdapat sebuah batu kecil dan tumpul yang perkiraan digunakan untuk menumbuk. Di sebelah barat masjid terdapat sebuah sungai. Menurut cerita masyarakat sekitar, sungai tersebut merupakan tempat berwudhunya Kiai Mutamakin.
Sebelum masuk kawasan masjid Karomah Winong, di situ akan melewati sebuah gapura. Di mana gapura tersebut merupakan pintu masuk ke arah kawasan tempat pasujudan Kiai Mutamakin. Menurut cerita masyarakata sekitar, dulu saat orang masuk tanpa niat yang baik dan tidak sopan, maka orang tersebut tiba-tiba tidak bisa melihat orang lain.
Ta’mir Masjid Karomah Winong, H.Warsilan saat ditemui mengatakan, Kiai Mutamakin ini merupakan asli penduduk Winong, Desa Sugiharjo. Masyarakat biasa memanggilnya dengan sebutan Mbah Mutamakin. Kata sebagian ulama yang pernah datang ke Masjid Karomah Winong, Mbah Mutamakin masih keturunan bangsawan Jawa yang masih punya garis keturunan dengan Raden Patah (Kesultanan Demak) yang berasal dari Kesultanan Trenggono.
Sultan Trenggono mengawinkan salah satu putrinya dengan Jaka Tingkir (Sultan Hadiningkrat) yang mempunyai putra bernama pangeran Sambo (Raden Sumohadinegoro) yang menurunkan putra Kiai Mutamakin. Sedangkan dari jalur ibu, Kiai Mutamakin masih keturunan dari Syaid Ali Akbar dari Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban. Syaid Ali Akbar mempunyai seorang putra bernama Raden Tanu. Selanjutnya Raden Tanu mempunyai seorang putri. Putri tersebutlah yang menjadi ibunya Kiai Mutamakin.
Dijelaskannya oleh Ta’mir masjid Karomah Winong, bahwa semasa hidupnya Kiai Mutamakin sepenuhnya hanya mengabdikan diri untuk menyebarkan agama islam di daerahnya. Konon Kiai Mutamakin saat mudanya dulu pernah nyantri di di Sayyid Assyari sekarang Sunan Bejagung Lor. Hingga sampai dipinang menjadi menantunya. Selama menyebarkan agama Islam, Kiai Mutamakin selalu berpindah tempat. Kalau tempat tersebut dalam penyebarannya dianggap sudah berhasil, maka akan berpindah tempat. Seperti halnya sumur tua di Kuthi Desa Sumurgung, Tuban banyak yang meyakini bahwa sumur itu juga peninggalan Kiai Mutamakin.
”Kiai  Mutamakin katanya mbah buyut saya dulu, orangnya itu suka mengembara. Ke mana-mana selalu menyebarkan agama Islam. Dan selalu berpindah-pindah tempat yang bertujuan menyebarkan agama Islam,’’ kata Warsilan.
Menurut sebagian ulama, Kiai Mutamakin juga selalu berpegang teguh pada prinsip dan kepribadian tentang aqidah Islam. Sosoknya juga alim, terbuka dan berani. Tidak hanya itu, Kiai Mutamakin juga termasuk orang yang luwes dan kuat menahan hawa nafsu.
Selama perjalanan pengembaraannya dalam menyebarkan agama Islam, akhirnya Kiai Mutamakin menetap di Desa Cebolek, lalu di Kajen, Pati Jawa Tengah. Diceritakannya, saat berada di Kajen, Kiai Mutamakin bertemu dengan ulama lokal bernama Mbah Syamsudin. Dalam pertemuan tersebut terdapat dialog yang pada akhirnya berisi penyerahan wilayah Kajen dari Mbah Syamsudin untuk Kiai Mutamakin untuk merawat dan selalu mensyiarkan agama Islam dengan baik.
”Makam Kiai Mutamaqin tidak di Winong, namun berada di Kajen, Pati. Setiap tahunnya selalu diadakan acara haul untuk Kiai Mutamaqin. Tepatnya pada bulan suro, mulai tanggal 7 diadakan tahtimul Qur’an dan tanggal 10 acara puncaknya haul. Di sana makamnya Kiai Mutamakin juga bersandingan dengan Makam Mbah Syamsuddin,” tutur Warsilan, yang asli kelahiran Dukuh Winong ini.

Di Kajen tersebut kini bertebaran puluhan pondok pesantren yang pengasuhnya rata-rata keturunan Kiai Mutamakin. Di antara ulama yang mengasuh salah satu pondok di Kajen adalah KH M.A. Salah Mahfudz, mantan rais aam PB NU yang wafat pada 24 Januari 2014 lalu. (wandi)


GENTONG: gentong ini merupakan tempat menyimpan air untuk kebutuhan Kiai Mutamakin.


BATU TUMBUK: Batu kecil dan tumpul yang perkiraan digunakan untuk menumbuk

TARUH: Kayu ini konon digunakan Kiai Mutamakin dalam menaruh peci atau baldu.


MASIH HIDUP: Pohon sawo kini masih hidup sejak Kiai Mutamakin masih hidup.




Jumat, 05 Oktober 2012

Habib yang Lebih Suka Disebut Mbah Guru




PENULIS: Suwandi (Tulisan Oktober 2012)

Mungkin sebagian orang Tuban, belum begitu familier dengan Mbah Guru alias Mbah Husein. Namun, beliau diyakini sebagai salah satu wali Allah yang menyebarkan ajaran agama Islam di Tuban dan Rembang. Makam Mbah Guru berada di Desa Sukolilo, Bancar. Nama asli sosok yang sangat berjasa dalam menyiarkan agama Islam ini adalah Syaid Husein Bin Ja’far al Wahad.
 “Mbah Guru merupakan sosok yang disegani oleh warga di kala itu, karena dengan sifatnya yang baik pada masyarakat,”kata Syaifudin, cucu keponakan dari Mbah Siti Aminah istri Mbah Guru.
Menurut cerita Syaifudin, Mbah Guru sebenarnya merupakan syaid atau habaib (masih keturunan Nabi Muhammad SAW). Tetapi, Mbah Guru sendiri tidak mau kalau dipanggil ‘’Syaid’’, ‘’Yek’’ maupun ‘’Habaib’’. Mbah Guru lebih suka  kalau dipanggil Mbah Guru saja. “Sosok Mbah Guru merupakan sebagai panutan orang banyak di kala itu,”tandas Syaifudin
Diceritakan, semasa menyiarkan agama Islam, Mbah Guru selalu berpindah-pindah tempat. Tujuannya adalah untuk mencari tempat yang tenang untuk mengajarkan agama Islam. Selain itu juga mengajak masyarakat Islam untuk senang bekerja dan menciptakan lapangan kerja. Mbah guru sendiri merupakan keturunan dari Yaman, beliau adalah seorang saudagar yang selalu berpindah-pindah tempat.
Tempat yang pernah disinggahi yaitu Tuban, Lasem, Rembang dan akhirnya Mbah Guru menetap di Bancar. Di sini, Mbah Guru menikah dengan Mbah Putri Siti Aminah, putri dari Mbah Ibrohim, salah satu kiai atau sesepuh yang ada di daerah Bancar. Namun ada versi lain kalau Mbah Guru-lah yang babat tanah Bancar sebelum zaman penjajahan. ’’Soal tahun kewafatannya, belum ada yang tahu kejelasannya,”tandas Syaifudin.
Tempat pemakaman Mbah Guru berada di pinggir perkampungan warga. Dulu sebelum dihuni oleh warga, tempat itu merupakan makam Mbah Guru dan keluarga, hingga akhirnya dibangun sebuah masjid besar yang berdampingan dengan makam.

Biasanya pada Kamis malam Jumat, banyak peziarah yang datang ke makam Mbah Guru. Para peziarah tidak hanya dari warga sekitar tetapi juga banyak yang dari luar kota, lebih khususnya dari daerah Jawa Tengah. Secara rutin, warga sekitar mengadakan haul Mbah Guru bertepat pada 2 malam 3 Muharrom. (wandi)

Selasa, 04 September 2012

Tempat Bersila Walisongo di Pantai Gadon Tambakboyo Tuban

SEPI: Cungkup yang menaungi batu merah petilasan Walisongo (atas) dan suasana dalam cungkup.

Penulis: Thoni Mukharrom (Tulisan Oktober 2012)

Petilasan ini sudah diketahui keberadaannya sejak jaman pendudukan Jepang. Mbah Hambali, sesepuh desa Gadon Kecamatan Tambakboyo yang pertama membukanya—sekitar tahun 50-an. Setelah itu diteruskan oleh Mbah Modin Mahfud, warga Mander bersama Mbah Gampang. Setelah keduanya wafat, petilasan ini diurus oleh Mbah Tardji dan Mbah Wawan, keduanya warga desa Pulogede, Tambakboyo. Sejak ditinggal wafat Mbah Tardji dan Mbah Wawan, sekitar tahun 1990-1995 petilasan ini tidak ada yang mengurus sehingga kembali singit, akibatnya tak ada orang yang berani menyambanginya.
Baru akhir 1995 ada seorang yang begitu peduli dengan peninggalan bersejarah umat Islam itu. Dia adalah Marzuki warga desa Gadon, Tambakboyo. Dia memperjuangkan agar petilasan Walisongo ini kembali dikunjungi dan tidak menyeramkan.
Petilasan ini dulu berbentuk batu merah dengan bekas orang sedang bersila. Sekarang di atasnya sudah dibangun rumah kecil. Dulu ada keluarga dari Jombang yang mengusulkan untuk dibangun rumah kecil. Rumah kecil ini baru berdiri 2010 lalu. Sebab, kalau ada pezirah yang datang, ada saja ulahnya, ada yang mengambil batu merah petilasan dengan sendok.
Menurut juru kunci pertama, petilasan ini adalah bekas Sunan Bonang. Tapi kalau ada orang yang datang, tempat ini berbeda-beda ceritanya. Dulu pernah ada peziarah bernama Kyai Muksin dari Malang.  “Mbah Yai kok sumerap, lah Malang mriki kan tebih?” tanya Marzuki.
“O, nggeh, kulo winginane dalu diimpeni Sunan Kalijogo, terose teng mriki enten petilasan,” jawab Pak Kyai Muksin.
Kebenaran tentang apakah itu petilasan Sunan Bonang atau Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan. Sebab dari penuturan juru kunci dan pezirah yang datang berbeda versi. Dulu saat pertama kali ditemukan oleh kakeknya Marzuki, diyakini sebagai petilasan Sunan Bonang. Setelah banyaknya pengakuan pezirah yang mengatakan petilasan Sunan Kalijaga, petilasan ini dinamakan petilasan Walisongo.
Pada 1987 ada seorang warga bernama Hambali menyuruh membangun mushola di petilasan ini. Saat itu Marzuki belum berani mengiyakan karena memang belum mempunyai kewenangan. Setelah para sesepuh meninggal dunia, baru beberapa tahun lalu, tepatnya 2010 mushola ini selesai dibangun. Dia berani melaksanakan niat tersebut. Kebetulan ada ustad dari Pemalang yang menikah dapat orang Gadon, ustad tersebut setuju dengan pembangunan mushola di komplek petilasan ini. Sedangkan biaya pembangunan mushola didapat dari swadaya masyarakat
“Kalau ada yang mengasih sumbangan ya saya belikan material. Saya sendiri  malu meminta,” ungkapnya.
 Niat Marzuki membangun mushola ini agar bisa dibuat beribadah. Bukan malah dibuat membakar menyan dan perbuatan menyimpang dari ajaran Islam.
 “Saya juga selalu mengingatkan agar para peziarah tidak meminta kepada selain Allah. Di sini cuma menghormati saja,” tandas Marzuki.
Soal peristiwa aneh aneh yang pernah terjadi, Marzuki menuturkan, dulu pernah ada kejadian pencurian selambu petilasan oleh empat anak kecil dan dibuat celana pendek. Setelah dipakai, ada yang lehernya menoleh dan tidak bisa kembali, yang satu pinggangnya melintir. Dan yang satunya dengkulnya bengkak. ‘’Pokoknya empat orang itu dapat penyakit semua. Dan sembuh setelah meminta maaf kepada Allah di tempat ini,” cerita Marzuki.
“Ada juga yang pernah mau menggusur tempat ini. Oleh masyarakat yang tidak suka. Karena dianggap menyekutukan Allah. Orang itu akan menggusurnya, malam harinya ia melihat ada ular besar dan akan menggigitnya. Akhirnya niat itu tidak jadi dilaksanakan,” imbuh Marzuki.
Terlepas dari peristiwa tersebut, Marzuki berharap hendaknya kita turut serta menhormati dan menjaga  sejarah berkembangnya Islam di tanah Jawa.
Ditambahkan, setiap malam Kamis Legi ada kegiatan ngaji manaqib yang dipimpin oleh kiai setempat. Ada sekitar 20 orang yang datang setiap bulannya. Setiap malam jumat ada kegiatan tahlilan. Pengunjung petilasan ini per hari rata-rata hanya empat orang.

Selain itu setiap malam Kamis Kliwon ada banyak peziarah dari desa Tanjang. Tapi datangnya hanya sebelum panen dan sesudah panen. Mereka juga melakukan manaqib. Kegiatan tersebut masih berlangsung hingga sekarang.(thoni)

Petilasan Walisongo yang berada di pinggir pantai Gadon Tambakboyo Tuban.

Jumat, 03 Agustus 2012

Gembul yang Diyakini Tempat Berkumpulnya Walisongo

Capai Lokasi harus Naik Tangga 2,5 M

Penulis: Kangaidi

BELUM TERURUS: Lokasi Gembul di Desa Jadi, Semanding berada di atas pegunungan kapur. 
Petilasan yang menempel di dinding gunung kapur bertutupkan kain putih itu terdiri dari dua pintu, ada gambar sketsa Walisongo sebagaimana gambar-gambar yang dijual di pasar-pasar dengan bahu harum semerbak bunga kencana dan bunga bureh. Untuk menuju lokasi itu, terlebih dahulu harus melewati tikungan, tanjakan gunung-gunung kapur. Setelah itu, harus naik tangga setinggi 2.5 meter. Di sanalah tempat petilsan Walisongo yang dikenal dengan sebutan “Petilsan Gembul”. Letaknya ada di Desa Jadi, Semanding Tuban.
Bagi masyarakat Tuban, petilasan gembul memang tidak begitu banyak yang mengetahui. Yang datang ke sana juga tidak banyak. Justru yang banyak datang ke sana adalah masyarakat Lamongan, Semarang, Bojonegoro, Kalimantan, Sumatera, dan Malaysia.
“Dinamakan Gembul karena tempat itu merupakan tempat berkumpulnya Walisongo. Gembul berasal dari kata gembu yang artinya tempat berkumpul” kata Samidin, juru kunci patilasan Gembul. Dia menjadi juru kunci Gembul sudah 20 tahun setelah menggantikan bapaknya.
“Kalau pembukuan tentang asal mula Gembul itu memang tidak ada. Saya pernah ingat Mbah Syifa’ pernah mengatakan kalau Walisongo memang pernah berkumpul di sini. Sebelumnya sudah ada Syekh Muhyidin sedang Riyadhoh di sana. Baru  kemudian Walisongo berkumpul di situ,’’tutur Mashadi, kepala desa Jadi.
Mashadi menambahkan, berkumpulnya Walisongo di kawasan itu adalah guna membahas rencana pembangunan masjid Demak. Dari pertemuan itu disepakati kalau masjid Demak harus menjadikan. ‘’Karena itu, desa ini namanya Desa Jadi karena keputusan pokoknya masjid Demak harus jadi.”
 Bangunan petilasan Gembul, memang sejak dulu hingga sekarang masih seperti itu. Tidak ada yang merubahnya atau merenovasi. Hanya ada penambahan sedikit seperti keramik, sedang kain putih yang sudah lusuh dan sobek hanya ditambahi di atasnya dengan kain putih yang baru. Kain putih yang lama tetap dipasang.
“Dulu Bupati Hindarto punya rencana akan membangun untuk dijadikan obyek wisata. Beliau sudah datang bersama rombongan. Mereka bawa foto, ada yang bawa shooting, sudah ada gambar calon bangunannya. Namun ketika difoto dan disyuting, tidak tampak. Disyuting juga tidak muncul. Sehingga niatan itu tidak dilaksanakan,” ungkap Samidin, warga Rengel yang sedang berkunjung ke Gembul.
Sejauh ini memang belum ada keinginan untuk dijadikan sebagai tempat obyek wisata atau wisata religi. Selain karena akses menuju ke sana yang sulit, kebersihan juga belum terjaga. Di sekitar petilasan Gembul masih banyak kera yang berkeliaran.
“Kalau dijadikan obyek wisata, sebelum ada petunjuk, tidak akan dilaksanakan Mas,” kata Samidin.
“Anggota DPRD Tuban pernah ke Gembul sana Pak Warsito dan Pak Kasmani. Meski mereka datangnya tidak bersamaan tapi keduanya punya maksud yang sama yaitu mengusulkan ke bupati agar petilasan gembul dijadikan sebagai obyek wisata. Dan menurut saya juga bagus, saya sangat setuju karena tempatnya strategis tapi harus dijaga kebersihannya dulu,” kata Mashadi.
Selain di atas ada petilasan, di bagian bawah juga ada satu batu yang berbentuk lonjong berdiri. Ada yang mengatakan bahwa dulu itu pada saat Walisongo berkumpul di sana digunakan sebagai tempat ikatan gajahnya walisongo. Memang sepintas batu itu kecil dan bisa dipeluk, akan tetapi tidak semua orang yang mampu memeluk batu itu. Sebagian pengunjung meyakini jika memeluk batu itu dan bermunajat kepada Allah segala yang menjadi keinginannya akan tercapai asal pelukannya bisa menjangkau tangan satunya.
Meski di petilasan gembul ini tidak ada makam, namun setiap pengunjung harus tetap selalu menjaga hatinya dari segala niat yang buruk dan selalu menjaga kesucian.

“Dulu pernah ada anak-anak SMA dari Pondok Lamongan. Mendadak ada 10 santri yang tiba-tiba kesurupan dan baru sembuh setelah minum air di situ. Setelah ditelusuri ternyata 10 santri tadi sedang bulanan atau menstruasi tetapi tetap naik dan tidak mengaku. Padahaal sebelumnya sudah diingatkan,” ungkap Samidin. (kangaidi)
TAK MENJANGKAU: Wartawan NUsa (Wakhid) mencoba merangkul batu yang diyakini masyarakat sebagai pengikat gajah Walisongo di Gembul.