RAPAT REDAKSI NUsa

Akhmad Zaini (Pimred Tabloid NUsa) memimpin rapat redaksi di halaman kampus STITMA Tuban.

DIKLAT JURNALISTIK

Peserta diklat jurnalistik dan crew Tabloid NUsa berpose bersama usai kegiatan diklat.

SILLATURRAHMI

Ketua LP. Ma'arif NU Kab. Tuban dan Pimred Tabloid NUsa berkunjung ke Rumah Gus Rozin (Putra KH. Sahal Mahfudz).

NUsa PEDULI SPESIAL

Mustain Syukur (Ketua PCNU Kab.Tuban) dan Fathul Huda (Penasehat LP. Ma'arif NU Tuban) berpose bersama siswa yang mendapatkan santunan NUsa Peduli.

STUDY BANDING LP. MA'ARIF NU KAB. TUBAN

Akhmad Zaini, ketua LP. Ma'arif NU Kabupatn Tuban saat menerima cinderamata dari LP. Ma'arif Kab. Pasuruan.

RAPAT BERSAMA

Pengurus PCNU, Pengurus LP. Ma'arif NU, PC.Muslimat Tuban, PC.Fatayat NU Tuban saat rapat bersama membahas pendidikan di Kabupaten Tuban.

GROUP SHOLAWAT SMK YPM 12 TUBAN

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

TURBA MAARIF NU TUBAN KE RENGEL

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

NUsa PEDULI EDISI 23

Tiga siswa berada di naungan LP. Ma’arif menerima santunan yang diberikan langsung oleh Dirjen Pendis (kanan) dan Kapala Kemenag Tuban.

PENGURUS PC. LP MA’ARIF NU

Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban.

AVANZA UNTUK OPERASIONAL MA’ARIF NU TUBAN

Zaini (Ketua PC. LP. Ma'arif) menerima hadiah mobil dari Bupati Tuban secara simbolis pada acara Rakor kepala sekolah dan pengurus yayaasan se-kabupaten Tuban.

PRESTASI FATAYAT

Fatayat NU Tuban Masuk 10 Besar Lomba Rias Provinsi.

JUARA MTK

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

TIM TABLOID NUsa

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

Tampilkan postingan dengan label DARI KAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DARI KAMI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 42//Berkah, Semakin Banyak Pelanggan NUsa


“Tolong siapkan 100 lembar format surat pernyataan berlangganan dik ya. Soalnya besok tanggal 15 Fatayat akan memiliki gawe. Pada saat itu nanti saya tawarkan pada mereka untuk langganan NUsa,” ungkap Hj. Umi Kulsum (ketua PC Fatayat NU Tuban) kepada salah satu tim NUsa.
Mendengar hal itu, tentu hati kami sangat senang. Bukan hanya karena jumlah eksemplarnya, tapi juga karena niat Mbak Umi yang mau turut serta memikirkan eksistensi NUsa. Kami yakin, tanpa rasa ikut memikirkan NUsa, tidak akan mungkin Ketua Fatayat yang kembali dilantik pada periode kedua ini mau mempromosikan kepada anggotanya untuk berlangganan NUsa.
Sebenarnya, sudah sekitar 2 bulan lalu Mbak Umi mewacanakan mengajak anggotanya berlangganan NUsa. Namun, karena berbagai kegiatan beliau baik yang di organisasi maupun yang di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban, akhirnya wacana itu bergulir sampai sekarang.
Sebelumnya, kami juga patut berterima kasih kepada Ketua PC NU Tuban KH. Mustain Syukur yang telah membuka berlangganan 200 eksemplar NUsa untuk disebarkan kepada seluruh pengurus MWC NU se-Kabupaten Tuban. Kedua, Ketua PD IGRA Kabupaten Tuban Siti Nur Aini kembali membuka kerja sama dengan NUsa. Sejumlah 178 lembaga RA se-Kabupaten Tuban berlangganan NUsa. Jauh sebelum, kerja sama ini, seluruh lembaga di bawah naungan Ma’arif telah berlangganan NUsa. Kemudian, akhir-akhir ini disusul PC Fatayat.

Tentu saja, dengan hasil ini saya ingin menyimpulkan sementara bahwa sebenarnya NUsa tidak sendirian. NU dan Banomnya sungguh-sungguh mau memikirkan NUsa. Semoga kerja sama dengan Fatayat benar-benar deal. Karena PC Muslimat juga kami harapkan respon positivenya. (*)

Kamis, 01 Oktober 2015

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 41//Belajar dari Pola Ciptaan Allah



Pada suatu ketika, kami mendengar sebuah ceramah yang segar dari MH Ainun Najib, atau yang sering disapa Cak Nun. Ceramah itu sejatinya membicarakan tentang membaca Al-Qur’an dengan langgam jawa. Meski banyak pendirian para alim-ulama dalam menanggapi hukumnya, Cak Nun nampaknya mengambil sisi kebolehannya. Namun, harus tetap memperhatikan sisi makhorijul huruf, tajwid dan maknanya. Dan yang paling penting adalah langgam itu tidak dibuat-buat sendiri, semau hati sendiri, sehingga merusak ketiga elemen tersebut.
Namun, di sini kami tidak mau mendalilkan tentang siapa yang benar dalam permasalahan itu. Hanya saja, ada hal baru yang mampu dipetik dari diskusi Cak Nun, Sujiwo Tedjo dan para jamaah Maiyah itu. Hal baru tersebut adalah pola yang selalu Allah tampilkan dalam semua ciptaannya ini. Alam jagad raya ini terdiri dari planet-planet yang bergerak membentuk pola. Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita sering menyaksikan pola-pola yang ada di hadapan mata kita. Mungkin pola perilaku yang ditunjukkan teman-teman kita, pola system tempat kita bekerja, bahkan apa yang terjadi pada diri kita sendiri, kita akan menemukan pola. Dan pola itu, diyakini, selalu dibentuk dari titik-titik yang tidak terhingga, namun mengikuti ritme tertentu. Dan diyakini pula, ritme tersebut pada ujungnya membentuk pola gambar lingkaran.
Di dalam NUsa, kami pun merasakan hal itu. Ada pola-pola yang sampai sekarang ini terbentuk sejalan dengan berjalannya NUsa. Mulai dari pola keredaksian, pemasaran, iklan, keuangan, kemanusiaan, dan masih banyak pola yang lainnya. Semua masih berjalan dan masih menentukan titik-titik yang belum selesai.
Dalam kasus manajemen perguruan tinggi di Tuban yang hari-hari ini mengguncang jagad Tuban pun demikian. Ada pola yang berjalan. Entah kini sudah dalam bentuk apa pola itu. Namun, bila dicermati ada pola yang terbentuk. Misalnya, manajemen lembaga yang mengikuti aturan, pasti akan terasa polanya. Kemudian, ada penyimpangan-penyimpangan. Penyimpangan itu kian hari kian tambah. Dan pada akhirnya akan ketemu polanya. Jika kita merenung dengan pola-pola ini, maka kita akan menjadi orang yang bijak.

Lalu, bagaimana dengan LAZISNU Tuban? Digadang PCNU Tuban untuk menjadi sumber keuangan dakwah, bagaimana pola yang akan dibentuk ke depan? Kami menunggu. (*)

Kamis, 01 Januari 2015

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 32//PCNU Kembali Langganan NUsa



Semoga Banom Menyusul

     Semenjak Pimred NUsa seklaigus Ketua PC LP Ma’arif NU Tuban Akhmad Zaini menyatakan bahwa beban NUsa harus dibagi pada yang muda, maka pada saat itu kami, para punggawa muda NUsa, kelabakan mencari formula agar NUsa selamat. Hal ini terjadi karena kami menyadari bahwa NUsa belum “dewasa”. NUsa masih butuh kerja sama dengan bebagai pihak. NUsa butuh insentif penyegar agar tetap bisa hidup.
       Sejak saat itu, kami berdiskusi dengan berbagai tokoh NU. Berbagai ide kami lontarkan dan kami mencoba menyaring masukan. Banyak masukan yang kami dapatkan, mulai dari ide yang menjulang sampai ide yang serba pas-pasan. Dari berbagai ide itu, nampaknya apa yang dilontarkan Amenan, wakil sekretaris PCNU Tuban, ada baiknya. Dia memberikan desain bagaimana seharusnya posisi NUsa dalam dinamika eksistensi PCNU Tuban. Dia sangat menyayangkan jika NUsa dijual pada pemodal, karena menurutnya, NUsa telah terbukti kebal, kuat, tahan gempuran dan ulet untuk tetap eksis mengiring dinamika PCNU Tuban. Karena itu, dia menginginkan NUsa sebagai aset PCNU Tuban; menaikkan grade-nya dari di bawah PC LP Ma’arif menjadi di bawah langsung PCNU Tuban.
    Ide Amenan itu direspon baik oleh H. Sutrisno Rahmat, wakil PCNU Tuban yang membawahi bidang pendidikan. Selama ini, dia belum menganggap eksistensi NUsa sebagai suatu unit yang menginduk kepada NU, meskipun secara tersirat NUsa di bawah LP Ma’arif. Setelah ada komunikasi yang baik dengan kami, Sutrisno welcome dengan ide segar bahwa NUsa menyatakan diri sebagai bagian dari NU. Untuk itu, Sutrisno meminta komposisi pengurus PCNU harus dilibatkan dalam struktur keorganisasian NUsa.
   Sembari terus berusaha dan berdoa, tepat pada saat PC LP Ma’arif NU Tuban mengadakan sosialisasi perubahan akta notaris kepada pengurus lembaga Ma’arif se-Kabupaten Tuban pada Desember lalu, H. Mustain Syukur (ketua PCNU Tuban) menawarkan diri untuk berlanggganan NUsa lagi, agar di sebar kepada seluruh pengurus MWC NU se-Kabupaten Tuban. Ucapan Pak Mustain itu seketika membuat hati kami gembira. Di tengah peran lebih yang harus kami pikul, Pak Mustain memberikan angin segar kepada kami. Meskipun jumlah dana yang akan kami terima dari Pak Mustain hanya cukup untuk 4 kali terbit, tapi jumlah itu telah memberikan oase dalam diri kami. Semoga, berbagai Banom NU juga mau berbagi dengan NUsa. (*)

Senin, 01 Desember 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 31//Saatnya yang Muda Ambil Tanggung Jawab



Situasi itu terulang lagi; hampir sama dengan ketika NUsa edisi 10 (Edisi Maret 2013) akan terbit. Di mana, ketika proses pembuatan tabloid dilakukan, pemimpin Redaksi NUsa Akhmad Zaini mendadak memiliki kegiatan yang luar bisa padat, sehingga tidak memungkinkan lagi baginya untuk menangani penerbitan tabloid secara penuh. Saat itu, agar tabloid NUsa tetap terbit, tidak ada jalan lain kecuali yang muda-muda harus mengambil alih tanggung jawab.
Layaknya dalam sebuah keluarga, keberadaan Pemimpin Redaksi Akhmad Zaini bagaikan orang tua. Berbagai persoalan penting, dialah yang harus menyelesaikan. Namun, bagaikan dalam sebuah keluarga juga, jika orang tua sibuk atau ada urusan yang sangat penting, maka mau tidak mau berbagai persoalan penting itu harus diambil alih oleh anak-anak yang sudah besar. Mereka harus mengambil alih tanggung jawab. Dan alhamdulillah, mereka ternyata bisa.
Dalam konteks NUsa, mereka yang bisa dianggap sebagai anak-anak yang sudah besar itu adalah Wakhid Qomari, Suwandi dan Suaidi. Sudah dua setengah tahun mereka digodok dalam pembuatan tabloid. Wakhid mengambil tanggung jawab  dalam  hal keredaksian yang meliputi pengeditan naskah dan pengkoordinasian naskah. Suwandi, selain menyiapkan naskah-naskah laporan, juga mencari terobosan-terobosan iklan. Sedang Suaidi mengambil bagian pada penataan halaman (lay out) dan percetakan.
Jadi, jika njenengan saat ini menikmati (membaca NUsa), maka sama saja dengan menyantap hasil masakan mereka. Tentu ada sedikit aroma perbedaan. Namun itu hanya soal cita rasa. Yang penting, masakan tetap tersaji. Yang muda bisa mulai mengambil tanggung jawab. Lama-lama mereka akan semakin lihai membuat masakan. Ini adalah kondisi yang patut disyukuri. Secara alamiah, berarti regenerasi di NUsa berjalan dengan baik. NUsa tidak lagi bergantung satu figur. Namun, telah berdiri di atas sebuah sistem yang ditopang oleh sebuah tim.
Dengan posisinya saat ini yang juga menjabat sebagai ketua LP Ma’arif NU Tuban, Pimred NUsa Akhmad Zaini memang semakin sibuk. Banyak urusan yang harus ditangani. Karena itu, sudah sekian lama, dia menghendaki regenerasi di NUsa dilakukan. Namun, karena satu dan lain hal, proses regenerasi itu berjalan relatif lamban. Akan tetapi, kini rasanya regenerasi itu sulit dihindari. Harus diterima sebagai hukum alam (sunatullah). Dan insya Allah, kondisinya sudah lebih kondusif. Semoga! 

Senin, 03 November 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 30//Muharram Yang Mengesankan

TAHUN BARU: Warga NU mrnyambut Tahun Baru dengan berbagai kegiatan.
Bagi keluarga besar L.P. Ma’arif Tuban, Maharram tahun ini terasa begitu penuh berkah dan mengesankan. Beberapa pekan sebelum Muharram tiba, LP Ma’arif berturut-turut menyelenggarakan kegiatan pelatihan untuk kepala sekolah dan guru. Yang pertama dilaksanakan secara mandiri oleh pengurus P.C. Ma’arif Tuban dan yang kedua adalah bekerja sama dengan Pemda, dalam hal ini Bagian Kesra Pemda Tuban.
Nah, melengkapi dua kegiatan yang bisa dilaksanakan dalam kurun yang sangat berhimpitan tersebut, pada 2 Muharram (26 Oktober 2014) PC Ma’arif mengirim seribu tim (guru dan siswa) untuk mengikuti karnaval menyambut datangnya 1 Muharram atau Tahun Baru Hijriyah. Kegiatan karnaval ini sendiri dilaksanakan oleh Bagian Kesra Pemda Tuban.
Semula, sebelum Pemda Tuban menggagendakan dan mengundang Ma’arif Tuban untuk terlibat dalam karnaval tersebut, dua bulan sebelumnya pengurus Ma’arif telah merancang untuk menggadakan karnaval menyambut 1 Muharram. Namun karena Pemda mengadakan, agenda PC Ma’arif ditiadakan dan dileburkan dengan kegiatan tersebut.
Bagi kami, langkah Pemda tersebut patut didukung. Karena sudah selayaknya, lembaga pendidikan Islam seperti madrasah atau sekolah yang berada di bawah Ma’arif menyambut dan memeriahkan datangnya 1 Muharram dengan berbagai kegiatan. Itu adalah syiar Islam. Moment itu adalah waktu yang tepat bagi lembaga di bawah L.P. Ma’arif untuk menunjukkan eksistensinya.
Dan alhamdulilah, dalam karnaval yang dilaksanakan Pemada itu, Ma’arif bisa tampil maksimal. Tim dari Ma’arif bisa mendominasi peserta karnaval. Dari itu, kami yakin pihak-pihak yang selama ini memandang remeh Ma’arif mulai memperhitungkan kalau Ma’arif itu organisasi besar. Lembaga-lemabaga pendidikan yang di bawah Ma’arif bisa tampil menawan, tidak kalah dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain.
Semoga tahu depan event tersebut bisa dilaksanakan lagi. Pemda Tuban yang telah memutuskan untuk menjadikan slogan ‘’Tuban Bumi Wali’’ sebagai ikon, sudah seharusnya mengagendakan acara seperti itu lebih serius dan lebih meriah lagi. Karena dari situlah, penegasan Tuban sebagai Bumi Wali akan mendapatkan penekanan dan penguatan. (*)    

Rabu, 01 Oktober 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 29//Penyesuaian Harga Tabloid NUsa


Aura positif terus kami rasakan terkait dengan keberadaan Tabloid NUsa. Dari hari ke hari, kami semakin merasakan kalau warga NU Tuban semakin menyatu dengan keberadaan NUsa. Beberapa pembaca mengungkapkan bahwa NUsa semakin enak di baca. ‘’Semakin menarik,’’ ungkap Muhlasin, dosen STITMA Tuban yang sudah lama berlangganan NUsa.
Namun, di tengah-tengah makin cintanya masyarakat, khususnya warga NU Tuban kepada NUsa, ada satu persoalan pelik yang belum berhasil kami pecahkan, yakni, soal distribusi atau pemasaran. Hingga kini, kami belum memiliki tim distribusi (pemasaran) yang handal, berdedikasi dan cekatat. Akibatnya, banyak pelanggan yang komplain gara-gara tidak mendapatkan NUsa.
Sungguh kenyataan itu patut disayangkan. Seperti sering kami singgung, bahwa pilar yang menopang sebuah media cetak adalah tiga hal, yakni, redaksi, iklan dan pemasaran (distribusi masuk di bagian ini). Untuk pilar pertama dan kedua, insya Allah kami sudah lebih baik. Namun, untuk yang ketiga rasanya masih sangat kurang.
Terkait dengan kenyataan di atas, saat menggelar Rapat Redaksi pada Selasa (30/9) lalu, kami secara khusus membahas persoalan tersebut. Dari pembahasan tersebut disimpulkan bahwa salah satu kelemahan di bidang pemasaran adalam minimnya anggaran yang kami miliki untuk dana operasional. Karena itu, pencarian dana dinilai menjadi salah satu alternatif yang bisa diambil.
 Dari sekian alternatif penggalian dana, menaikkan harga NUsa menjadi salah satu pilihan yang dianggap tepat. Sebab, sejak awal terbit pada April 2012 harga tabloid masih tetap Rp 5 ribu. Padahal, ongkos cetak sudah berkali-kali naik. Kenaikan ongkos cetak ini terkait erat dengan penurunan atau inflasi nilai tukar rupiah atas dollar Amerika. Jadi, mulai bulan ini eceran NUsa yang semula Rp 5 ribu menjadi Rp. 6 ribu. Sedang untuk langganan satu tahun, dari Rp 60 ribu menjadi Rp 70 ribu.
Perubahan harga NUsa ini, hakekatnya tidak tepat kalau disebut sebagai kenaikan. Lebih tepatnya disebut sebagai penyesuaian. Karena itu, kami berharap warga NU yang selama ini menjadi pelanggan NUsa bisa memahami kebijakan tersebut. Kami berharap, dengan penyesuaian harga itu, pemasaran yang selama ini kurang tertangani dengan baik, bisa diperbaiki kondisinya. Semoga!  
 Semoga  Kepedulian dan keikhlasan terpancar pada diri kita

Senin, 01 September 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 28//Permohonan Maaf


Tanggal berapakah NUsa edisi 27 sampai ke rumah njenengan? Tanggal 20? 21? Akhir bulan? Atau bahkan sampai sekarang belum dapat? Njenengan yang sudah lama menjadi pelanggan setia NUsa, tentu melihat kejadian ini merupakan ketidaklaziman. Selama dua tahun lebih kami hadir, NUsa selalu bisa hadir di awal bulan. Rata-rata kisaran tanggal 5-10. Karena itu, melalui edisi 28 ini, kami menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan tersebut.
Demi mencari pemakluman, alasan yang paling mudah kami sampaikan, keterlambatan itu terjadi karena terbitnya edisi 27 bersamaan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Namun, meski alasan itu mudah dimaklumi, sejatinya tidak benar seratus persen. Sebab, sebelum idul fitri, pengerjaan halaman (lay out) sudah selasai. Jika semua lancar-lancar saja, mestinya, meski tetap ada keterlambatan itu, namun tidak separah itu.
Lalu apa persoalan sesungguhnya? Tentu, kami tidak bisa cerita secara rinci. Intinya, ada persoalan yang cukup serius (untuk ukuran NUsa). Namun alhamdulillah, meski belum bisa terpecahkan seratus persen, persoalan tersebut bisa secepatnya kami tangani. Ke depan, semoga persoalan tersebut benar-benar bisa kita pecahkan. 
Jika ditarik ke belakang, persoalan itu berawal dari hadirnya awak baru di lingkungan NUsa. Tidak seperti biasanya, awak baru tersebut benar-benar hadir dengan membawa warna dan harapan yang berbeda. Bahkan, karena harapan yang diciptakan oleh  si fulan itu pulalah NUsa edisi 26 kita cetak hingga 6 ribu eksemplar. Namun sayang, berawal dari itu pulalah masalah menimpa. Ternyata, tabloid sebanyak itu tidak semuanya kembali jadi uang. Di antara pemesan, hingga kini ada yang belum menyelasaikan kewajibannya.

Ada banyak versi (lebih tepatnya alasan) mengapa pemesan tidak juga menyelesaikan keuangannya kepada NUsa. Namun yang pasti, masalah tersebut benar-benar memukul kami. NUsa edisi 26, nyaris tidak terbit.  Harapan kami, semoga segera muncul kesadaran untuk segera menyelesaikan. Amin! (*) 

Jumat, 01 Agustus 2014

TABLOID NUsa EDISI 27//Hari Raya dan Pilpres



Di hari yang fitri ini, izinkan kami menyampaikan ‘’Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.’’ Ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin. Taqabbalallahu minna wa minkum taqabala ya kariim. Selepas menjalankan puasa Ramadlan, semoga kita termasuk orang-orang yang berhasil meraih maksud di balik syariat puasa, yakni menjadi muttaqin.
Pembaca budiman, bila njenengan bulan ini menerima NUsa edisi ke 27 tepat waktu,  maka perlu diketahui kalau di balik hal tersebut ada ‘’perjuangan besar’’ yang harus dilakukan oleh tim redaksi. Ini karena pengerjaan edisi ini bertepatan dengan suasana ‘’genggap-gempita’’ para krew NUsa menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri.
Untuk ukuran wartawan profesional, semestinya hadirnya hari raya Idul Fitri tidak boleh mengganggu kerja kejurnalistikan. Namun, hingga saat ini, secara jujur harus diakui, kondisi tersebut belum bisa tercipta di NUsa. Dengan segala keterbatasan yang ada, NUsa belum sepenuhnya terkelola secara profesional. Semua awak NUsa, belum bisa total beraktivitas untuk NUsa. Demi tuntutan hidup, ada pekerjaan-pekerjaan ‘’lain’’ yang harus ditekuni.
Ini adalah tantangan yang harus dihadapi. Entah sampai kapan realitas tersebut bisa dipecahkan dengan smart. Namun, yang perlu kami gariskan, mengingat NUsa adalah milik semua waga NU, maka seyogianyalah kita bersama-sama mengikhtiarkan. Dalam berbagai bidang, warga NU harus mulai bekerja profesional. Kita harus bisa menciptakan sistem agar profesionalitas bisa tercipta di sekitar kita. Bila ditarik agama, kami rasa profesionalitas sangat sejalan dengan Islam.  
Terakhir, kami ingin mengucapkan syukur kepada Allah SWT terkait dengan keberhasilan bangsa Indonesia melewati agenda besar pemilihan presiden pada Ramadlan lalu. Memang hingga kini riak-riaknya belum lenyap seratus persen. Namun, kami yakin Allah akan tetap menjaga ketentraman di republik ini. Rakyat di negeri ini yang mayoritas muslim, sudah cukup dewasa untuk menerima perbedaan. Mereka tidak akan mudah terbakar oleh ambisi-ambisi perseorangan yang akan mengorbankan keutuhan bangsa ini demi kepentingan pribadinya.Warga NU harus menjadi pelopor untuk menjaga keutuhan bangsa ini.

Tidak dinafikan, selama pilpres lalu, di kalangan warga NU juga terjadi perbedaan pilihan politik. Namun, perbedaan pilihan politik itu tidak boleh memisahkan kita sebagai keluarga besar Nahdlatul Ulama. Tidak boleh pula memecah kita sebagai keluarga besar Bangsa Indonesia. Ukhuwah nahdliyah dan ukhuwah wathoniyah harus kita pegang erat-erat. (*)

Selasa, 01 Juli 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 26//Marhaban Ya Ramdahan!



Sungguh waktu terasa begitu cepat. Bulan Ramadhan yang rasanya belum lama meninggalkan kita, kini sudah hadir kembali. Rasa suka cita menyambut bulan nan suci tersebut, kini kembali menyertai hati kita umat Islam.
Pembaca yang budiman, di bulan istimewa ini, kami pertama-tama ingin mengucapkan, ‘’ Selamat Menjalankan Ibadah Puasa’’. Semoga kita bisa menjalani bulan puasa dengan penuh kerikhlasan hati. Semoga apa yang kita lakukan selama sebulan ini, semata-mata mencari ridla Allah SWT. Dan ending-nya kita berharap, di akhir puasa nanti kita tergolong orang-orang mutaqqin seperti yang menjadi target utama dari diwajibkannya puasa Ramadhan.
Dengan maksud untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, pada edisi ini kami mengangkat laporan soal tradisi minum toak pada sebagian masyarakat Tuban. Laporan ini kami angkat, dengan maksud untuk melihat lebih dekat mengapa tradisi itu begitu mengakar di sebagian masyarakat di bumi wali ini. 
Dari data-data yang dikumpulkan, terungkap bahwa di balik tradisi minum toak ini ternyata ada beberapa nilai positif yang terkandung,  yakni bolo ngombe yang memiliki nilai dasar pertemanan, persaudaraan dan persahabatan. Juga keyakinan kalau toak bisa menghancurkan kandungan kapur di dalam tubuh manusia, mengingat air di bumi Tuban mengandung zat kapur yang begitu tinggi.
Di sisi lain, tidak bisa dinafikan kalau tradisi ini juga mengandung unsur negatif, yakni unsur mabuk yang kemungkinan besar akan menimpa orang yang meminumnya. Karena mabuk (memabukkan), maka kalau dilihat dari kaca mata agama, jelas hal itu tidak diperbolehkan alias haram. Karena itu, kearifan atau kebijakan dalam melihat persoalan tersebut harus dikedepankan. Diperlukan kiat-kiat khusus untuk tetap mempertahankan nilai-nilai positif, semberi membuang nilai-nilai yang negatif yang terkandung di balik tradisi minum toak tersebut.

Selain menyoroti tradisi minum toak, kami juga mengangkat berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan Ramadhan. Dari tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan (megengan), membangunkan orang sahur, makanan yang sehat untuk buka dan sahur, serta amalan-amalan yang bisa dilakukan perempuan yang sedanag haid selama bulan Ramadhan. Kita berharap, laporan-laporan tersebut menjadi sanjian menarik dan menambah wawasan terkait dengan datangnya bulan mulia ini . Selamat menikmati! (*)  

Minggu, 01 Juni 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 25//Berkah Akhirussanah


Akhir tahun ajaran (akhirussanah) 2014 ini, membawa berkah tersendiri bagi Tabloid NUsa. Beberapa lembaga pendidikan di bawah lingkungan L.P. Ma’arif berkomitmen untuk membeli NUsa dalam jumlah besar (bahkan untuk Sunatunnur Senori pesan sebanyak 2500 eksemplar, Al Hidayah, Lajukidul Singgahan 800 eksemplar) guna dibagikan kepada wali murid, undangan dan beberapa pihak yang nanti diundang dalam acara tutup tahun (akhirussanah) tersebut.
Dengan adanya ‘’order’’ tersebut, maka untuk edisi 25 ini, kami harus melipargandakan oplah, yakni hingga 6000 eksemplar. Ini berarti naik hingga 600 persen. Sungguh ini angka yang fantastis. Karena itu, tidak ada kata lain kecuali kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan kepercayaan kepada Tabloid NUsa. Yang lebih penting, kami tentunya memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang tidak terhingga. Karena Allah-lah semua itu bisa terjadi.
Perlu kami tekankan di sini, rasa bahagia dan syukur tadi, insya Allah bukan semata-mata karena oplah NUsa meningkat berlipat-lipat. Lebih dari itu, kami menangkap adanya nilai yang lebih berharga yang terselip di baliknya. Yakni, semakin meningkatnya kepercayaan dan kebutuhan warga NU Tuban kepada Tabloid NUsa. Mereka sudah bisa melihat bagaimana manfaat adanya tabloid ini.
Berikutnya, kami bersyukur karena momentum ini juga terjadi karena adanya ‘’tangan-tangan’’ yang mengolahnya. Artinya, meski NUsa sudah cukup eksis, namun kalau tidak ada tangan kreatif yang menanganinya dengan penuh kesungguhan dan keseriusan, maka hal itu pun kemungkinan tidak akan terjadi. Karena itu, kami bersyukur dari hari ke hari, NUsa semakin kedatangan ‘’tamu’’ anak-anak muda NU yang kreratif, berdidikasi dan berkomitmen untuk membesarkan NUsa.
Jika NUsa dari bulan ke bulan semakin eksis –meski berbagai persoalan tetap ada--, salah satunya faktor utamanya karena di dalam awak redaksi NUsa senantiasa kedatangan ‘’tamu’’ tadi. Dan yang paling terkini, ‘’tamu’’ tersebut bernama Hidayatullah. Anak muda dari Bangilan ini mengajukan diri untuk bergabung dengan NUsa karena merasa terpanggil untuk ikut membesarkan tabloid ini. Kini, dia bergerak menggarap pemasaran. Dan hasilnya, alhamdulillah seperti kami sebutkan di atas, beberapa lembaga berkomitmen untuk membeli NUsa dalam jumlah besar.
Perjalanan masih panjang. Semoga yang terjadi pada edisi ini adalah awal dari kemajuan Tabloid NUsa. Masih banyak mimpi yang harus digapai. Komitmen dan kerja keras masih sangat dibutuhkan! (*)

  

Kamis, 01 Mei 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 24//NUsa Genap Dua Tahun


Suasana rapat redaksi  NUsa Edisi 24 di halaman kantor PC.LP.Ma'arif NU Tuban

      Tabloid NUsa yang njenengan baca saat ini adalah edisi 24. Ini artinya, pada saat ini NUsa telah berusia 2 tahun. Ini adalah capaian yang layak disyukuri. Hanya karena pertolongan Allah-lah hal itu bisa terjadi. Apalagi, sejak terbit pertama kali pada Juni 2012, NUsa tidak pernah jeda barang sekalipun. Setiap awal bulan, tim NUsa berhasil menyajikan laporan-laporan yang disajikan kepada pelanggan setia yang mayoritas adalah warga nahdliyin di Kabupaten Tuban.
      Jika NUsa hadir di rumah njenengan pada awal bulan, itu tidak semata-mata menunjukkan kalau tim yang menggawangi tabloid ini masih solid, namun juga memberikan isyarat kalau dana yang digunakan untuk membayar percetakan dan operasional masih ada. Padahal, dana yang dibutuhkan bukanlah jumlah yang sedikit. Untuk sekali terbit, paling tidak dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Rp 3 juta untuk membayar ongkos cetak, sisanya Rp 2 juta digunakan untuk transportasi dan dana distribusi. 
      Ini perlu kami paparkan kepada njenengan sebagai pelanggan NUsa. Mengingat, dana sejumlah itu tidak lain kami harapkan bersumber dari pembaca setia NUsa. Baik berupa uang langganan, pemasangan iklan atau donasi. NUsa adalah tabloid komunitas (warga NU). Karena itu hidup matinya tabloid ini masih banyak bergantung kepada kepedulian dan rasa memiliki warga NU itu sendiri.
       NU adalah organisasi besar. Di balik kebesaran organisasi ini, tentu tersimpan potensi yang besar pula. Karena itu, kami berusaha sekuat tenaga agar potensi besar tersebut bisa kami menej dengan baik dan bisa dijadikan sandaran bagi keberlangsungan tabloid ini.
     Kami yakin sejauh ini kehadiran Tabloid NUsa di tengah-tengah warga NU Tuban telah dirasakan manfaatnya. Karena itu, harapan kami kemudian adalah tumbuh dan berkembangnya rasa memiliki dan peduli warga NU terhadap eksistensi NU. Jika hal demikian terjadi, tentu upaya kami memenej potensi warga NU sebagai pondasi keberlangsungan NUsa akan lebih mudah direalisasikan.
      Yakinlah…kami yang mengelola NUsa tidak menyimpan ‘’nafsu’’ komersialisasi. NUsa benar-benar kami hadirkan untuk memberikan pengabdian terbaik untuk jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Kami ingin, warga NU yang sedemikian besar, memiliki kebanggaan kepada organisasinya. Bersamaan dengan itu, kami juga ingin pihak lain di luar NU bisa menghargai dan menghormati organisasi para ulama ini.
   Perjalanan masih panjang. NUsa harus bertahan…, berkembang…, berkembang… dan terus berkembang. Mimpi kami, NUsa ke depan harus menjadi sebuah perusahaan profesional yang bisa dijadikan tempat berkarier anak-anak muda NU. Bidang garapan NUsa, harapan kami juga tidak hanya sebatas menerbitkan tabloid, namun juga bisa menayangkan sebuah siaran teve. Ya…Teve NUsa! Ini adalah mimpi besar! Namun, jika warga NU Tuban bisa bersama-sama membulatkan tekat, tidak mustahil, bahkan insya Allah sangat mungkin hal itu bisa menjadi kenyataan. Marilah bermimpi senyampang mimpi belum dikenai ‘’PAJAK!’’ (*)  

Sabtu, 01 Maret 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 22//Raker Ma’arif dan Laporan Lazisnu

DUKUNGAN: Pengurus NU Tuban turut hadir dalam pembukaan raker Ma'arif 2014 di Kampus STITMA Tuban.
Pembaca yang budiman, pada edisi 22 ini, secara khusus kami hendak mengucapkan selamat atas pelaksanaan Rapat Kerja L.P. Ma’arif NU Cabang Tuban pada 1 Februari lalu yang telah terselenggara dengan sukses.  Sebagai anak kandung L.P. Ma’arif Tuban, Tabloid NUsa ikut berbangga, sekaligus bersyukur atas kesuksesan tersebut.
Tentu, ucapan selamat tersebut tidak semata-mata kami tujukan kepada jajaran pengurus Ma’arif baru yang menjadi tuan rumah atas raker tersebut. Namun, juga kepada semua pihak yang terlibat dalam raker tersebut. Khususnya kepada para delegasi dari kecamatan yang telah dengan ikhlas datang dan mengikuti acara tersebut dengan penuh antusias.
Antusiasme mereka untuk hadir di Raker Ma’arif sungguh memiliki makna yang luar biasa. Ini menunjukkan kalau kecintaan mereka pada NU (khususnya Ma’arif) sanggat tinggi. Mereka masih ingin terhimpun dalam rumah besar yang bernama Nahdlatul Ulama. Dalam konteks Ma’arif Tuban, kesuksesan pelaksanaan raker, sungguh memiliki makna yang sangat penting. Mengingat, beberapa tahun belakangan, suasana seperti itu jarang terjadi. Itu pertanda kalau kekompakan dan soliditas keluarga besar Ma’arif Tuban masih terpelihara dengan baik.
Kami menilai Raker Ma’arif Tuban adalah momentum yang sangat penting. Karena itu, kami mengabadikannya secara khusus dalam bentuk laporan utama. Di laporan itu, kami potret suasana dan keputusan-keputusan penting yang dihasilkan dari raker. Dengan laporan itu, kami berharap para guru, kepala sekolah, pengurus sekolah dan warga NU pada umumnya yang tidak mengikuti raker, bisa ikut merasakan suasana raker yang penuh semangat itu.
Selain laporan tentang raker, kami juga melaporkan berbagai kegiatan yang dilaksanakan pengurus Ma’arif baru, yakni diskusi terbatas dengan Dirjen Pendidikan Agama Islama Kemenag Pusat Prof Dr Nur Syam dan turba pengurus Ma’arif ke beberapa kecamatan. Di luar laporan tentang Ma’arif, mulai edisi ini, kami juga memuat laporan keuangan Lazisnu (lembaga amil zakat, infaq, shodaqoh Nahdlatul Ulama). Dengan dimuatnya laporan keuangan tersebut, kami berharap masyarakat, khususnya warga NU bisa terdorong untuk menyalurkan zakat, infaq dan shodaqohnya ke Lazisnu Tuban.
Sebagai bagian dari keluarga besar NU, kami sangat berharap Lazisnu bisa menjadi tempat penyaluran dana zakat, infaq dan shodaqoh masyarakat. Karena dengan dana yang terkumpul itu, ke depan NU bisa berbuat lebih banyak. Khususnya di lingkungan pendidikan (Ma’arif), masih terlalu banyak madrasah/sekolah tidak memadai, guru yang hidupnya masih jauh dari layak, serta siswa-siswi yatim atau berasal dari keluarga fakir miskin yang butuh sokongan dana. Mereka adalah aset penting NU di masa mendatang. (*)   

Senin, 01 April 2013

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 11//Segera Evaluasi Orientasi

JELANG SETAHUN: Beberapa Tabloid NUsa yang sudah diterbitkan sejak April 2012 lalu.

Satu langkah lagi, Tabloid NUsa akan memasuki usia satu tahun. Sungguh, sesuatu yang patut disyukuri kalau hingga edisi ke 11 ini, NUsa masih bisa bertahan hidup. Namun, rasa syukur tersebut, tentu tidak menjadikan kami tutup mata atas realitas yang ada. Di mana, hingga edisi ke 11 ini, NUsa yang gagasan awalnya adalah untuk menjadi tabloid komunitas warga NU, belum tumbuh subur dan sehat seperti yang diharapkan. Napas tabloid ini masih ngos-ngosan dan sangat rentan terserang penyakit mematikan.
Semula, dengan menetapkan diri sebagai tabloid komunitas, maka orientasi profit benar-benar dijauhkan dari benak pengelola NUsa. Yang penting bisa hidup dan bisa memberikan pengabdian yang terbaik, berupa adanya informasi yang positif dan inspiratis bagi warga komunitas, mendidik dan mencerdaskan warga komunitas. Namun, ketika perjalanan hampir satu tahun, kami dihadapkan pada realitas yang delematis. Untuk hidup ternyata butuh berbagai asupan gizi yang berbiaya tinggi. Dan itu, ternyata tidak cukup tersedia di komunitas ini.
Karena itu, mau tidak mau sekarang kami harus melakukan evaluasi orientasi. Kami harus berpikir keras agar media yang sudah terlanjur lahir ini bisa tetap hidup dan eksis di tengah-tengah masyarakat Tuban, khususnya warga NU. Dalam bahasa kerennya, kami sekarang dituntut oleh keadaan agar menerapkan menejemen profesional. Profesional di sini, tentu bukan membabi buta mengejar profit yang menjurus kapitalisasi. Namun, kami akan profesional, sebatas bisa menghidupakan dan menyehatkan. Insya Allah kami akan tetap berusaha menyeimbangkan antara pengabdian dan profesionalitas.

Ikhtiar perbaikan tersebut, insya Allah akan secara menyeluruh kami lakukan. Dari mengevaluasi sejumlah rubrik yang selama ini ada, hingga kebijakan-kebijakan mendasar yang selama ini kami gariskan. Yang jelas, semua akan kami kaji terlebih dulu. Dan pada edisi ke 12 mendatang, ketika NUsa genap satu tahun, kami harapkan ada langkah ‘’radikal’’ yang bisa kami tempuh guna menyelamatkan tabloid ini. (*)

Jumat, 01 Maret 2013

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 10//Mengawali Regenerasi

SERAGAM BARU: Sebagian Crew NUsa berpose baju baru.
Ini adalah sebuah kebetulan. Menjelang NUsa edisi 10 terbit, di saat proses penataan halaman (lay out) harus dimulai, Pemimpin Redaksi NUsa Akhmad Zaini, sedang dalam kondisi yang sangat sibuk. Sibuk pikiran dan tenaga. Sebab, selain ada pekerjaan menumpuk terkait dengan pengembangan usahanya, juga ada tugas dadakan  yang harus dia selesaikan.
Tentu kondisi ini kurang baik bagi NUsa. Tabloid milik L.P Ma’arif Tuban ini, bisa terbit terlambat. Tidak mau hal itu terjadi, pemimpin redaksi meminta tim NUsa yang muda-muda mengambil alih tugas. Mereka diminta melakukan proses editing naskah dan lay out. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. 
Peristiwa di atas, secara langsung telah mengantarkan proses regerasi terjadi di NUsa. Secara sekilas, itu kebetulan. Namun sebenarnya tidak. Sejak edisi ke-6 proses regenerasi telah dilakukan. Beberapa pekerjaan keredaksian –rapat redaksi, penugasan, editing naskah—yang semula ditangani langsung pemimpin redaksi, pelan-pelan telah dilimpahkan kepada dua redaktur NUsa, Syihabuddin dan Wahid Khomari. Kepada mereka telah diamatkan agar secara perlahan mengambil alih sebagian tugas keredaksian.
Beda orang beda pemikiran. Karena itu, bisa jadi pada edisi 10 ini, pembaca akan menemukan sejumlah perbedaan. Yang kita harapkan, semoga perbedaan itu tidak terkait dengan kualitas. Bahkan, harapannya kualitasnya semakin baik.
Regenerasi memang harus terjadi pada setiap organisasi. Itu sunatullah! Generasi pertama meletakkan dasar-dasar organisasi, generasi berikutnya mengembangkan dan mencari terobosan-terobosan inovatif.

Selain, proses regenerasi, pada edisi 10 ini, NUsa juga memiliki kabar menggembirakan. Seragam tim NUsa yang sudah digadang-gadang jauh hari telah selesai. Dengan seragam baru itu, diharapkan kepercayaan diri dan semangat tim NUsa bisa terbangun. Semoga!

Jumat, 01 Februari 2013

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 09//Dua Masalah Hambat NUsa Edisi 8

KERJA CEPAT: Bagitu terbit NUsa edisi 8 langsung diedarkan ke pelanggan.
Mengapa NUsa edisi 8 terbit agak terlambat? Bukankah biasanya di awal bulan, NUsa sudah bisa menyapa pembaca?
Mungkin pertanyaan ini muncul di benak sebagian pembaca setia NUsa.  Sebab, sejak pertama terbit pada April 2012 lalu, baru edisi ke-8 ini agak terlambat cukup serius;  terbit di atas tanggal 10. Sebelumnya memang pernah agak telat, namun tidak ‘’separah’’ keterlambatan yang menimpa edisi ke-8 pada Januari lalu.
Tentu, sebagai pengelola NUsa, kami sangat menyesal dengan kejadian itu. Untuk itu, pada edisi ke-9 ini, kami hendak menyampaikan kata maaf yang sebesar-besarnya. Seiring dengan itu, kami berdoa semoga pada edisi-edisi berikutnya, kejadian pahit tersebut tidak terjadi lagi.
Sungguh merupakan penyesalan yang sangat amat ketika kami menerima kenyataan itu. Namun, apa boleh buat. Kami sudah membuat rencana sedemikian rupa agar NUsa bisa terbit on time, namun taqdir berbicara lain. Ada dua masalah yang menjadikan kami tidak berdaya.
Masalah pertama adalah cobaan dari Allah SWT yang kebetulan menimpa tim lay out NUsa Suaidi Muharron. Laptop miliknya, diambil orang ketika dia berada di Masjid Agung Tuban. Padahal dengan laptop itu pulalah dia selama ini me-lay out (menata halaman) NUsa, termasuk edisi ke-8.
Hilangnya laptop milik Suaidi, sungguh menjadi persoalan serius bagi NUsa pada waktu itu. Bukan karena laptop pengganti tidak ada. Namun, karena ketika musibah itu menimpa, posisi lay out edisi ke-8 sudah hampir rampung (sekitar 80 persen). Karena itu kami sempat syok, dan hampir tidak yakin bisa menghadirkan edisi ke-8 pada Januari lalu. Namun alhamdulilah, Suaidi adalah termasuk orang yang tabah dan bertanggung jawab. Meski terkena musibah, dia secara bertanggung jawab mengatakan kalau NUsa edisi 8 harus tetap terbit pada Januari. Dia siap melakukan lay out ulang kendati dalam kondisi kesusahan.
Dengan susah payah, alhamdulillah lay out ulang bisa dilakukan. Namun, keterlambatan tidak bisa dihindari. Celakanya lagi, karena akhir tahun dan banyak garapan, pihak percetakan juga tidak sanggup mencetak dengan cepat seperti biasanya. Mereka meminta tempo lebih lama. Ini adalah masalah kedua yang menghambat. Jadi, rasanya lengkap sudah dua persoalan itu membuat NUsa terbit tidak tepat waktu. Kami pun pasrah!
Dengan pemaparan ini, kami berharap pembaca NUsa bisa memaklumi terjadinya keterlambatan edisi ke 8. Yakinlah bahwa tim NUsa tetap solid, bekerja secara profesional dan tetap punya semangat membara untuk terus memberikan pengabdian terbaik untuk warga NU! Wassalam.  

Selasa, 01 Januari 2013

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 08//NUsa Rekrut Staf Pemasaran

LANGKAH BARU: Staf Pemasaran NUsa Sumardiyono (Dion), siap mendistri-busikan tabloid NUsa ke tangan pembaca dan pelanggan.
Waktu berlalu begitu cepat. Tahun 2012 yang rasanya belum lama disambut kedatangannya, kini harus dilepas untuk pergi dan tak pernah kembali lagi. Sebagai gantinya, kini datang tahun 2013. Seiring pergantian waktu ini, banyak hal telah terjadi. Tabloid NUsa yang kami rasa belum lama kami bangun,  ternyata kini telah memasuki edisi ke-8.  
Hadirnya edisi ke-8 ini benar-benar kami syukuri. Kami yang membangun NUsa hanya bermodalkan keyakinan dan keinginan untuk memberikan khidmat yang terbaik kepada Jam’iyah Nahdlatul Ulama, ternyata ‘’diberi umur panjang’’ oleh Allah SWT. Mengingat tidak adanya modal yang memadai –sehingga banyak yang meragukan—maka bertahannya NUsa hingga saat ini benar-benar merupakan sebuah anugerah. 
Bagaikan orang membangun rumah tangga, NUsa sukses membangun keharmonisan keluarga hingga keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Tentu, sebagai keluarga baru, benturan-benturan kecil terjadi di ‘’rumah tangga’’ NUsa. Namun Alhamdulillah, hal itu bisa dilalui dengan baik. Percikan-percikan persoalan tersebut tidak sampai merobohkan bangunan rumah tangga yang dibangun.  
Sebagai rumah tangga baru, kendati tetap utuh dan solid, namun keberadaan NUsa belumlah mapan. Apa yang akan dimakan besok (baca: untuk biaya cetak dan operasional), masih harus dicari hari ini. Kalau ternyata tidak menemukan dan akhirnya tidak ada bahan makanan yang bisa dimakan atau ada tapi masih kurang, maka dengan rasa malu terpaksa harus minta bantuan kepada orang tua, dalam hal ini LP. Ma’arif NU Tuban.
Ke depan, tentu kami malu kalau sering-sering ngrepoti orang tua. Kami ingin betul-betul mandiri. Karena itu, sejumlah ikhtiar terus kami lakukan. Yang terbaru, dengan persetujuan orang tua (Ketua LP Ma’arif Tuban Mahfud) kami memberanikan diri mengangkat seorang staf yang khusus akan menangani pemasaran tabloid. Jalan ini kami tempuh karena dari tiga soko guru yang menopang kehidupan tabloid –redaksi, pemasaran, dan iklan--, pemasaran-lah yang masih paling rapuh. Kami berharap dengan direkrutnya staf baru itu, masalah pemasaran (distribusi) tabloid bisa tertangani dengan baik.
Terakhir kami hanya bisa berharap, semoga ikhtiar tersebut bisa semakin mengukuhkan bangunan rumah tangga NUsa. Kukuh tidak hanya dalam arti bertahan hidup, namun bisa mandiri (tidak lagi minta subsidi kepada Ma’arif), bisa memberikan manfaat dan membanggakan warga NU. Semoga!  

Sabtu, 01 Desember 2012

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 07//Berani Tampil dalam Keterbatasan

DEMI EKSISTENSI NUsa: Beberapa crew Tabloid NUsa berjaga di stand NUsa pada acara Haul Sunan Bonang pada awal Nopember lalu.
Tabloid NUsa baru berusia tujuh bulan. Namun, usia yang semuda itu tidak menjadikan tabloid L.P. Ma’arif Tuban ini takut untuk tampil di muka umum. Paling tidak, dalam sebulan kemarin, tabloid ini tampil dua kali di hadapan khalayak. Pertama tampil pada acara Haul Sunan Bonang dan kedua di pameran dagang dan industri dalam rangka Hari Jadi Tuban ke 719 yang digelar oleh Pemda Tuban.
Dalam dua event itu, NUsa memang belum tampil maksimal. Namun paling tidak, dengan keiikut sertaan mengisi stand di dua acara tersebut, masyarakat Tuban menjadi semakin tahu tentang keberadaan NUsa. ‘’Bahkan ketika Haul Sunan Bonang, yang banyak membeli Tabloid NUsa adalah para peziaran dari luar Kabupaten Tuban,’’ tutur  sekataris Nusa Arif dan Koordinator Pemasaran Hadi  yang aktif mengelola stan yang berada di depan Masjid Agung Tuban.
Ikut buka stan atau pameran adalah salah satu strategi yang digunakan tim NUsa untuk semakin memperkenalkan NUsa kepada warga Tuban. Kendati masih terkendala banyak masalah, namun kami akan berupaya agar tabloid ini bisa terkelola dengan pfofesional. Kamai yakin, dengan jalan itulah eksistensi NUsa akan bisa dipertahankan.
Dari sini redaksi, kami sudah sedikit bisa berbangga. Crew Nusa yang mayoritas tidak memiliki latar belakang jurnalistik, sekarang sudah mengalami kemajuan yang sangat baik. Mereka sudah lihai meliput berita dan menulisnya menjadi laporan yang baik. Namun untuk pemasaran dan iklan, kondisinya masih belum sebaik itu. Karena itu, berbagai langkah masih dibutuhkan, termasuk di antaranya ikut andil dalam pameran tersebut.

Kamis, 01 November 2012

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 05//Banjir Berita Melanda NUsa

BAGI PENGALAMAN: Ketua Ma’arif Lamongan Imam Ghozali (tengah) men-rima Tim NUsa yang dipimpin Pemimpin Redaksi NUsa Akhmad Zaini (kanan)
Dibanding edisi-edisi sebelumnya, edisi keenam ini sedikit berbeda. Selain ada penambahan rubrik Tausyiah, edisi ini dibanjiri berita dari sejumlah daerah (kecamatan) di Tuban. Layaknya banjir, tentu merepotkan. Tiga lembar halaman yang sedianya untuk menampung berita, kini tidak bisa menampung lagi.
Kendati merepotkan, namun kami senang dan bersyukur. Sebab, gejala tersebut memberikan dua isyarat sekaligus. Isyarat pertama, berarti teman-teman reporter yang bergabung di NUsa semakin pandai dan produktif dalam mencari dan menulis berita. Isyarat kedua, berarti rasa memiliki dan rasa membutuhkan warga NU terhadap NUsa semakin tumbuh dan berkembang. Sebab, tidak sedikit, berita itu muncul karena permintaan warga NU agar reporter NUsa meliput dan menulis acara yang mereka laksanakan.
Menyikapi situasi itu, kami sempat berpikir untuk menambah halaman. Mengingat, selain berita yang masuk begitu banyak, iklan pada edisi ini juga meningkat. Namun, keputusan penambahan halaman itu tidak jadi kami ambil. Sebab, jika menambah (minimal 4 halaman), maka resikonya harus ada sejumlah tulisan tambahan yang harus dibuat. Karena itu butuh waktu dan kerja tambahan, kami khawatir hal itu akan mengganggu jadwal penerbitan NUsa. Dan itu, tentu akan berdampak kurang baik terhadap citra NUsa di mata pembaca.
Karena itu, akhirnya kami hanya bisa menyampaikan kata maaf bila ternyata ada beberapa berita yang tidak bisa termuat. Selain itu, sejumlah tulisan juga terpaksa harus tersaji relatif pendek karena harus berbagi halaman dengan iklan.
Terkait dengan perkembangan positif ini, apresiasi yang sebesarnya patut diberikan kepada crew NUsa yang telah bekerja keras untuk menjaga ‘’kehidupan’’ NUsa yang baru berusia 6 bulan ini. Mereka telah melakukan sejumlah terobosan untuk memperkenalkan NUsa kepada masyarakat di Tuban. Terobosan terbaru yang dilakukan adalah dengan menjual NUsa di arena Pekan Raya Semen Gresik yang berlangsung pada 9-14 Oktober 2012 lalu.
Tim NUsa yang masih muda dan energik (rata-rata mahasiswa semester), benar-benar pantang menyerah untuk berbuat yang terbaik untuk NUsa. Mereka telah melakukan peran yang terbaik, baik yang berada pada posisi sebagai wartawan, pemasaran maupun yang di bagian iklan. Semoga di kemudian hari, kerja keras itu akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan bagi NU dan NUsa pada umumnya dan diri mereka pada khususnya. Amin!
Terakhir, kami perlu menyampaikan terima kasih kepada KH Ahmad Mundzir (ketua PC NU), Didik Purwanto (wakil ketua PC NU) dan Fuad El Amin (eks ketua Ansor) yang bersedia direpoti untuk menjadi donatur NUsa. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal.(*)

Sabtu, 01 September 2012

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 04//Makin Eksis, NUsa Peduli Yatim

KEBERSAMAAN: Ketua LP. MA’arif NU Tuban Drs. Mahfud, M.Pd.I (dua dari kiri), memimpin doa pada acara buka bersama dengan anak yatim di rumah Pem-impin Redaksi NUsa Akhmad Zaini, Karang Pucang Tuban.
Tentu tiada kata yang paling indah yang layak kami sampaikan pada edisi ke-4 ini kecuali kami menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal aidin wal faizin, taqabalallahu minna wa minkum taqabbal yaa karim. Kami seluruh jajaran redaksi NUsa mohon maaf bila ada salah dan khilaf.
Beikutnya, kami perlu menyampaikan puji syukur yang tiada kira, karena tabloid ini terus bergeliat. NUsa berkembang secara konsisten dan semakin mendapat kepercayaan masyarakat. Saat diadakan acara buka bersama dan evaluasi di rumah Pemimpin Redaksi NUsa, Akhmad Zaini, Jl. Karang Pucang, Tuban pertengahan Agustus lalu, staf Pemasaran NUsa, M. Zainal Arifin melaporkan NUsa telah beredar di hampir seluruh wilayah Tuban. “Hanya Widang dan Soko yang masih belum terjangkau,” ungkapnya.
Selain masalah pemasaran, iklan juga menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Beberapa pihak, baik perorangan, pengusaha, perusahaan, partai politik, dinas, sampai DPRD kabupaten Tuban mulai mempercayai tabloid ini untuk beriklan.
‘’Melihat kenyataan itu, saya yakin insya Allah NUsa akan eksis dan terus berkembang,’’ kata Pemimpin Redaksi NUsa Akhmad Zaini sembari mengungkapkan kegembiraannya atas kinerja anak-anak muda NU yang bergabung menggawangi penerbitan NUsa. ‘’Mengembangkan usaha keluarga secara sendirian hanya ditemani istri, saya bisa. Tapi kalau menerbitkan sebuah tabloid, tanpa adanya tim yang kompak dan solid, jelas tidak bisa. Sebab dibutuhkan kemampuan menulis, disiplin, kerja keras dan kekompakan anggota tim. Jadi, terbitnya NUsa ini adalah hasil kerja kolektif anak-anak muda NU yang patut dibanggakan,’’ tambah mantan redaktur Jawa Pos ini.    
Kini, NUsa juga membuat terobosan baru, yaitu NUsa Peduli. Program ini bertujuan untuk menggalang dan menyalurkan dana sosial dari masyarakat. Selain dana dari masyarakat, dana yang masuk ke dalam program ini berasal dari potongan prosentase hasil perolehan iklan. Sekian persen dari dana perolehan iklan akan dialokasikan untuk dana NUsa Peduli ini. ‘’Dengan kebijakan itu, saya berharap Allah memberikan keberkahan dan kesuksesan pada Tabloid NUsa,” tandas Zaini.
Dana tersebut, akan diproyeksikan untuk membantu anak-anak yatim dan tidak mampu, namun memiliki prestasi akademik yang bagus di lingkungan LP. Ma’arif Tuban. Soal mekanisme pemberian santunan, nanti akan bekerjasama dengan kepala sekolah dan guru. (*)

Rabu, 01 Agustus 2012

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 03//Butuh Dukungan Semua Elemen NU

TROBOSAN: Tim NUsa Suwandi (kiri) saat menawarkan Tabloid Nusa Edisi 02 kepada penjual Toko Buku Pustaka Ilalang Manunggal Tuban.

Ikhtiar agar NUsa eksis terus kami lakukan. Menjelang penerbitan ketiga ini, kami terus melakukan terobosan agar tabloid yang sudah berhasil diterbitkan ini terus langgeng dan hadir setiap awal bulan.  
Langkah pertama yang kami lakukan adalah membentuk tim pemasaran yang fokus menangani distribusi tabloid. Alhamdulillan ada beberapa personel yang semula aktif di redaksi, menyatakan diri akan fokus di pemasaran (distribusi). Selain itu, ada beberapa personel baru yang memang bergabung ke NUsa untuk menangani pemasaran.
Berikutnya adalah tim iklan. Sejauh ini –karena keterbatasan dana dan personel--, kami belum berhasil membentuk tim khusus yang menangani iklan. Untuk pencarian iklan, sementara di-handle oleh tim redaksi. Alhamdulillah, meski belum ada tim khusus, namun iklan mulai bisa kita peroleh. Ke depan, kami berharap tim ini akan terbentuk dan bisa menjadi urat nadi kehidupan NUsa. Sebab, tanpa pemasukan dari iklan, NUsa tentu berat untuk terus hadir menyapa pembaca.
Sedang untuk tim redaksi, alhamdulillah kini jumlahnya semakin memadai. Bebarapa kader NU mulai bergabung di bagian ini. Dan yang patut disyukuri, anak-anak muda NU ini ternyata memiliki bakat yang baik dalam bidang tulis menulis. Mereka juga memiliki kinerja yang baik. Ini –untuk kesekian kalinya--membuktikan bahwa kader-kader NU adalah kader-kader yang hebat. Bila selama ini ada kesan kurang mampu, itu hanya faktor menejemen saja.
Langkah selanjutnya yang juga kami lakukan adalah menjalin komunikasi dengan beberapa elemen di NU. Menjelang Ramadlan kemarin, kami bersilaturrahmi dengan Ketua Lazisnu Nur Taufiq dan Direktur Aswaja Center NU Tuban Syariful Wafa. Dengan Lazisnu kami ingin bersinergi dalam hal pemasaran. Kami ingin mempublikasikan laporan keuangan Lazisnu secara rutin tiap bulan. Dengan harapan, mereka yang selama ini menjadi donatur Lazisnu sekaligus menjadi pelanggan NUsa. Sedang dengan Aswaja Center, kami ingin bersinergi dalam hal pengembangan wacana ke-NU-an (keaswajaan).
Ke depan, tentu kami tidak hanya akan menjalin komunikasi dengan Lazisnu dan Aswaja Center. Namun, akan membuka silaturrahmi dengan lebih banyak lagi elemen di NU Tuban. Kami sangat menyadari, tanpa dukungan semua elemen NU, NUsa yang dilahirkan memang untuk warga nahdliyin, tidak akan bisa langgeng dan berkembang secara baik. Harapan kami, semoga semua elemen NU Tuban sudi memberikan dukungan kepada kami.
Wassalam


Tim Redaksi