RAPAT REDAKSI NUsa

Akhmad Zaini (Pimred Tabloid NUsa) memimpin rapat redaksi di halaman kampus STITMA Tuban.

DIKLAT JURNALISTIK

Peserta diklat jurnalistik dan crew Tabloid NUsa berpose bersama usai kegiatan diklat.

SILLATURRAHMI

Ketua LP. Ma'arif NU Kab. Tuban dan Pimred Tabloid NUsa berkunjung ke Rumah Gus Rozin (Putra KH. Sahal Mahfudz).

NUsa PEDULI SPESIAL

Mustain Syukur (Ketua PCNU Kab.Tuban) dan Fathul Huda (Penasehat LP. Ma'arif NU Tuban) berpose bersama siswa yang mendapatkan santunan NUsa Peduli.

STUDY BANDING LP. MA'ARIF NU KAB. TUBAN

Akhmad Zaini, ketua LP. Ma'arif NU Kabupatn Tuban saat menerima cinderamata dari LP. Ma'arif Kab. Pasuruan.

RAPAT BERSAMA

Pengurus PCNU, Pengurus LP. Ma'arif NU, PC.Muslimat Tuban, PC.Fatayat NU Tuban saat rapat bersama membahas pendidikan di Kabupaten Tuban.

GROUP SHOLAWAT SMK YPM 12 TUBAN

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

TURBA MAARIF NU TUBAN KE RENGEL

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

NUsa PEDULI EDISI 23

Tiga siswa berada di naungan LP. Ma’arif menerima santunan yang diberikan langsung oleh Dirjen Pendis (kanan) dan Kapala Kemenag Tuban.

PENGURUS PC. LP MA’ARIF NU

Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban.

AVANZA UNTUK OPERASIONAL MA’ARIF NU TUBAN

Zaini (Ketua PC. LP. Ma'arif) menerima hadiah mobil dari Bupati Tuban secara simbolis pada acara Rakor kepala sekolah dan pengurus yayaasan se-kabupaten Tuban.

PRESTASI FATAYAT

Fatayat NU Tuban Masuk 10 Besar Lomba Rias Provinsi.

JUARA MTK

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

TIM TABLOID NUsa

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

Tampilkan postingan dengan label RUBRIK BILIK MAARIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUBRIK BILIK MAARIF. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2014

Pengurus NU, Ma'arif dan Dewan Guru berjabat tangan dengan Wabup Tuban usai acara.


Berharap Pemda-DPRD Mencari Terobosan 


Usaha keras PC LP Ma’arif NU Tuban dalam menyetarakan bentuk bantuan dari Pemkab Tuban kepada sekolah-madrasah belum menemukan titik terang. Dalam lokakarya yang diadakan di gedung PCNU Tuban pada Kamis (19/06) lalu,Wakil Bupati Tuban Ir Noor Nahar Hussein mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi.

Dengan tema “Peningkatan Kualitas Madrasah dengan Pendekatan Sinergitas Politik dan Birokrasi” acara itu dihadiri oleh H. Arief Affandi (mantan wakil walikota Surabaya) dan H. Noor Nahar Hussein (wakil bupati Tuban). Keduanya datang sebagai panelis. Sementara itu, peserta yang hadir sekitar 50 orang. Mereka berasal dari calon legislator DPRD Tuban yang berasal dari warga nahdliyin, MWC LP Ma’arif, dan perwakilan Kepala Madrasah dari MI sampai MA.
Dalam kesempatan itu, Arief mengungkapkan kesalah-pahaman pemerintah dalam menginterpretasikan pendidikan agama dan pendidikan umum. “Madrasah itu (dianggap) kewenangannya Kemenag. Padahal tanggung jawab Pendidikan Dasar adalah tanggung jawab Pemda,” tegasnya. Untuk itu, dia menyerukan untuk menghapus stigma yang selama ini terjadi.
Bahkan, dia menyatakan bahwa urusan pendidikan tidak hanya mengurusi masalah bangunan fisik semata, tapi lebih dari itu dia juga menyebutkan variable lain, seperti guru, materi pembelajaran, kurikulum dan lain-lain. “Pemda bisa mengintervensi tentang hal ini,” tandasnya.
Dia menyontohkan satu kasus di Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur mampu mengalokasikan anggaran untuk madrasah diniyah. Meskipun sempat menjadi perdebatan di kancah nasional, hal itu berakhir sukses dan malah menjadi acuan SE Kemenadagri yang membolehkan pemda membantu madrasah diniyah dan pesantren.  “Kalau Madin saja bisa diberi, masak yang madrasah tidak bisa. Pemda bisa membuat keputusan itu sepanjang dapat bekerja sama dengan DPRD,” jelasnya.
Sementara itu, Noor Nahar Hussein, saat menyampaikan materi, tetap berprinsip bahwa madrasah adalah kewenangan Kemenag yang tersetruktur dari Pusat hingga bawah dan sekolah adalah kewenangan Kemendikbud dari pusat hingga bawah. Dalam hal ini, Pemda Tuban mempunyai kewajiban memberikan pelayanan kepada sekolah dan bukan kepada madrasah. “Kalau madrasah hanya sifatnya hibah. Dan itu sementara. Kami tidak bisa memberikan terus-menerus hibah itu,” ungkapnya.
Dia juga menyampaikan bahwa bentuk bantuan yang diberikan Pemda Tuban kepada dunia pendidikan ada 2 macam, yaitu bantuan berupa bangunan fisik dan bantuan berupa pemberian insentif kepada guru serta biaya pendidikan untuk para siswa. “Kalau bantuan berupa bangunan fisik antara sekolah dan madrasah telah seimbang malah bisa-bisa lebih tinggi madrasah, tapi untuk bantuan insentif guru dan biaya pendidikan murid, Pemda belum bisa memberi lebih. Aturannya belum kami temukan dan apalagi itu membutuhkan biaya yang besar,” ungkapnya.
Karena itu, dia mengusulkan sebuah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah yang melilit madrasah yang mayoritas bernaung di bawah LP Ma’arif itu. Di hadapan para calon DPRD lintas partai yang berlatar belakang nahdliyin itu, dia meminta agar Ma’arif menjalin komunikasi dengan Pengurus Wilayah Jawa Timur sampai Pusat untuk mengusulkan perundangan atau surat bersama antar-menteri, dalam hal ini Kemendikbud dan Kemenag RI, tentang keleluasaan Pemda memberikan bantuan kepada sekolah-madrasah. Di samping itu, dia juga meminta Ma’arif Tuban agar bisa bekerja sama dengan para DPRD dari warga nahdliyin supaya bisa bersinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Ma’arif.
Lebih dari itu, Noor Nahar juga mengajukan kritik tentang semakin bermunculannya madrasah-madrasah. Dia mengimbau kepada Ma’arif agar melakukan seleksi ketat dalam mendirikan madrasah. Dengan jumlah madrasah yang ada, dia meminta peningkatan kualitas manajemen madrasah, sehingga mampu memunculkan daya saing.
Ditanya tentang dasar yang dipakai untuk memberikan pelayanan yang lebih kepada sekolah dan hanya memberi hibah kepada madrasah, Noor Nahar menyebutkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sementara itu, Akhmad Zaini, ketua PC LP Ma’arif NU, ketika menyampaikan kata penutup, mengatakan bahwa jawaban dari Noor Nahar dengan mengajukan usulan diterbitkannya keputusan bersama kepada Kemedikbud dan Kemenag akan kesetaraan sekolah-madrasah dalam mendapat dana bantuan dari Pemda memang benar. Cara tersebut adalah cara ideal agar terbentuk dasar hukum yang mampu menjadi sandaran Pemkab Tuban dalam memberikan bantuan kepada sekolah-madrasah. Namun, langkah itu dinilainya membutuhkan biaya dan tenaga besar, serta waktu yang sangat lama.

“Kami harap di sisa waktu Pak Huda dan Pak Noor memimpin Tuban yang hanya kurang 2 tahun ini bisa memberikan sesuatu yang lebih kepada madrasah di bawah Ma’arif. Sekedar mengusulkan bagaimana dewan dan Pemda Tuban berkomunikasi dan berikhtiar bersama untuk mencari terobosan. Gus Ipul (Wakil Gubernur Saifullah Yusuf), dalam memberikan bantuan kepada Madin itu dengan mensiasati aturan. Jatim, Sidoarjo, Pasuruan, Gresik bisa mencari trobosan itu. Tuban juga diharapkan bisa,” ungkapnya. (wakhid/hisyam)

Selasa, 29 April 2014

Rapat Koordinasi LP Ma’arif Tuban

MASA DEPAN MA’ARIF TUBAN: Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif  NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban. 

Harapan Besar di Pundak Ma’arif

Solidaritas dan soliditas keluarga besar PC LP Ma’arif NU Tuban kembali dipertontonkan dalam acara Rapat Koordinasi (Rakor) pada 22 Maret 2014 lalu di gedung KSPKP Tuban. Ekspektasi tinggi muncul dari para stakeholder.

Sedikitnya 500 orang lebih dari seluruh ketua yayasan lokal dan kepala madrasah-sekolah yang bernaung di bawah payung LP Ma’arif NU Tuban turut mengahadiri acara Rakor PC LP Ma’arif NU Tuban itu. Di tengah-tengah mereka hadir pula Pengurus Pusat LP Ma’arif NU H. Adul Gofar Rozin (wakil ketua LP Ma’arif NU Pusat), Dirjen Pendidikan Agama Islam Kemenag RI Prof. Dr. H. Nursyam, M.Si, Bupati dan Wakil Bupati Tuban, Ketua PCNU Tuban dan Kepala Kemenag Tuban. Kehadiran mereka dan ditambah dengan penampilan brilian siswa-siswi LP Ma’arif yang ada di berbagai daerah menambah gaung Rakor tersebut.
Dalam sambutannya, Akhmad Zaini (ketua PC LP Ma’arif NU Tuban) melaporkan bahwa Ma’arif telah melakukan registrasi ulang kepada seluruh lembaga yang masih berkomitmen menginduk di PC LP Ma’arif NU Tuban. Dia membacakan data sementara bahwa total lembaga yang menginduk di Ma’arif Tuban adalah 287 lembaga, dengan rincian MI 180 lembaga, SD 2 lembaga, MTs 67 lembaga, SMP 9 lembaga, MA 18 lembaga, SMA 6 lembaga, dan SMK 6 lembaga. ‘’Jumlah ini belum final, isya Allah akan masih bisa bertambah,’’ tandasnya optimistis.
Dengan lembaga sejumlah itu, Ma’arif memiliki hampir 5 ribu guru pengajar dan siswa-siswi hampir mencapai 35 ribu orang.
Dengan data itu, Zaini mengatakan bahwa LP Ma’arif adalah sebuah lembaga yang besar, yang kesatuannya bukan diikat oleh materi tapi ukhuwah nahdliyah yang dijabarkan dalam ajaran ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja). Mari kita terus perkuat ukhuwah ke-NU-an kita untuk menjaga ahlussunnah wal jama’ah,” ungkap Zaini.
“Tunjukkan bahwa NU dan Ma’arif itu besar, tunjukkan bahwa NU dan Ma’arif itu hebat, karena dengan kebesaran dan kehebatan itu kita akan diperhitungkan, dengan kehebatan itu kita tidak akan pernah disingkirkan, dengan kehebatan itu kita akan menjadi kuat dan disiplin,imbuhnya dengan penuh semangat.
Dalam rakor tersebut dilakukan pula penyerahan dan penerimaan secara simbolis SK registrasi kepada beberapa kepala sekolah dari MI, SD, MTs, SMP, MA, SMA dan SMK oleh Ketua PC NU Tuban H. Musta’in Syukur.
Menanggapi sambutan Zaini, Musta’in Syukur, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa PCNU Tuban bangga terhadap kinerja dan langkah-langkah seluruh jajaran pengurus LP Ma’arif NU Tuban. “Saat itu, SK belum keluar saja Pak Zaini sudah melakukan Turba untuk memperkenalkan diri dan konsolidasi dengan seluruh MWC LP Ma’arif NU di 20 kecamatan yang ada di Tuban. Sampai-sampai dia memboyong Ma’arif mengadakan study banding ke Kudus untuk belajar memimpin Ma’arif dengan baik dan benar,” ungkapnya.
Ditambahkan, bahwa usaha dan langkah yang ditempuh Ma’arif saat ini adalah sebuah awal kinerja yang bagus. Ini mampu menjawab keraguan masyarakat NU kepada Pak Zaini dalam mengemban amanat sebagai Ketua Ma’arif, karena latar Pak Zaini saat itu memang belum dikenal luas, ungkapnya.
Sementara itu, Gus Rozin –sapaan Abdul Ghofa Rozin--menyampaikan bahwa masyarakat saat ini menggantungkan harapan yang tinggi kepada LP Ma’arif. Dia bercerita dulu masyarakat mengamanahkan putra-putrinya di pondok pesantren karena keilmuan Kiai yang menjadi pemegang otoritas untuk legalisasi kelulusan santri. Namun, dalam perkembangannya, madrsah-sekolah umum memasuki pondok pesantren. Karena eksistensi lembaga umum mampu memberikan kontribusi langsung terhadap harapan-hara masa depan masyarakat, akhirnya kepercayaan yang awalnya dipercayakan kepada Kiai semata bergeser kepada lembaga umum. Otomatis pusat penanggung jawab ajaran Aswaja nahdliyah kini menjadi tanggung jawab lembaga umum tersebut.
 Untuk itu, Gus Rozin menegaskan bahwa Ma’arif-lah yang kini mempunyai tanggung jawab besar menjaga eksistensi ajaran Aswaja nahdliyah di tengah masyarakat.
Penasehat Ma’arif yang juga menjabat sebagai Bupati Tuban H. Fatchul Huda mengapresiasi antusiasme seluruh anggota Ma’arif dalam menjaga Aswaja. Dia menginginkan adanya perbaikan di berbagai aspek yang ada di Ma’arif. Untuk menanamkan ajaran Aswaja nahdliyah dengan baik, perlu adanya buku Aswaja yang baik pula. Dia masih melihat isi buku pelajaran yang selama ini dipakai LP Ma’arif masih memakai buku yang menjelaskan teorinya saja, tapi belum kepada esensinya Aswaja.
Dia menginginkan diciptakannya buku Aswaja yang mengandung poin-poin penting ajaran Aswaja an-Nahdliyah yang aplikatif, sehingga siswa-siswi Ma’arif tidak mengenal Aswaja hanya pada teorinya saja tapi lebih pada aplikasinya setiap hari.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut, Huda juga berpesan bahwa, masyarakat NU harus dapat mengambil, menciptakan, dan memanfaatkan setiap peluang. Sebagaimana disampaikan bahwa karomah dari Allah SWT itu muncul karena ada tantangan. “Cobalah bikin tantangan-tantangan, karomah muncul karena ada tantangan, ungkapnya.

Ditambahkan pula, mengenai pendidikan di Ma’arif, hendaknya ada pelatihan kepala sekolah, sehingga kepala sekolah dapat mengelola guru dengan baik. Dan tentunya hal tersebut akan lebih baik jika ditindak lanjuti dengan peningkatan kualitas guru. “Kalau sistematisnya sudah benar, itu akan semakin menambah kepercayaandiri dan kebanggaan masyarakat NU,” tandasnya. (wakhid/hisyam)

Study Banding L.P. Ma’arif Tuban ke Pasuruan


      PASURUAN- Guna meningkatkan kinerja organisasi, L.P. Ma’arif NU Tuban kembali melakukan study banding ke daerah lain. Bila pada awal Januari lalu menimba ilmu ke Kudus, Jawa Tengah, kali ini, lembaga di bawah PC NU yang menaungi ratusan lembaga pendidikan NU di Tuban ini menimba ilmu ke Pasuruan. ‘’Ke Pasuruan ini, kita fokus belajar soal hubungan sinergi antara L.P. Ma’arif dan Pemerintah Daerah (Pemda),’’ kata Akhmad Zaini, ketua L.P. Ma’arif NU Tuban.
        Study banding ke Pasuruan dilakukan pada, Sabtu, 5 April 2014. Sebanyak 25 pengurus Ma’arif yang terdiri dari pengurus harian dan beberapa ketua MWC Ma’arif NU mengikuti kegiatan tersebut. Dengan menumpang dua mobil, rombongan sampai di Pasuruan pukul 13.00 WIB.    
       Saat memberikan sambutan, Zaini mengatakan kalau kedatangan pengurus Ma’arif Tuban ke Pasuruan karena dinilai daerah tersebut berhasil membangun sinergi yang baik antara Ma’arif dan Pemda. Salah satu indikasi keberhasilan tersebut adalah keterlibatan Ma’arif dalam merancang Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan. ‘’Sebagai daerah yang kebetulan bupatinya sama-sama berlatar belakang NU, tentu kami ingin seperti itu. Kami ingin kepentingan sekolah, khususnya madrasah yang berada di bawah L.P Ma’arif bisa terakomudasi,’’ kata mantan Redakstur Jawa Pos ini.
      Merespon sambutan Zaini, Ketua L.P Ma’arif NU Pasuruan, KH Mujib Imroh, mengatakan kalau keinginan Ma’arif Tuban tersebut sangat bisa dipahami. Sebab, nasib sekolah/madrasah di bawah L.P. Ma’arif sangat terpengaruh oleh kebijakan-kebijakan Pemda yang mengacu kepada Perda Pendidikan. ‘’Di era otonomi daerah ini, Pemda-Pemda yang berbasis NU semestinya harus bisa mengikhtiarkan agar kepentingan warga NU terwadahi. Tentu, ini bukan berarti mengabaikan kelompok lain. Kita tetap mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamain, ‘’ ujar Gus Mujib.
       Mantan anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) ini, lebih lanjut memaparkan, di Pasuruan hubungan Pemda dan Ma’arif memang dibangun sangat erat. Ketika Perda Pendidikan hendak disusun, Ma’arif adalah perancangn utama dari Perda tersebut. Sehingga, kepentingan madrasah, diniyah serta pondok pesantren bisa terakomudasi dengan baik. ‘’Namun, ketika menyusun, tentu kami melibatkan semua unsur masyarakat di Pasuruan. Jadi, Perda itu hakekatnya hasil dari usulan masyarakat Pasuruan yang di dalamnya ada Ma’arif dan NU,’’ tandasnya.

     Gus Mujib juga menekankan soal pentingnya komunikasi politik dibangun oleh Ma’arif. ‘’Di sini  (Pasuruan, Red) Ma’arif bisa sejajar dengan sekolah negeri karena LP Ma’arif Pasuruan berusaha semaksimal mungkin membangun komunikasi dengan legislatif dan eksekutif. Komunikasi politik itu penting karena tidak dipungkiri sesungguhnya pendidikan juga menjadi bagian dari  politik, tambahnya. (hisyam)

Jumat, 01 Maret 2013

Diskusi Terbatas Prof Dr H Nur Syam dan Pengurus LP Ma’arif Tuban

Madrasah Harus Punya Program Unggulan
DISKUSI: dari kiri Drs. Sujak (Kakanwil Kemenag Lamongan) , Prof. Dr. H. Nur Syam, M. Si (Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Pusat), Akhmad Zaini (Ketua PC. LP. Ma’arif NU Tuban) saat diskusi dengan pengurus harian LP. Ma’arif  NU Tuban.

TUBAN KOTA– Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Pusat Prof. Dr. H. Nur Syam, M. Si mengharapkan agar sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan LP Ma’arif segera berbenah diri demi meningkatkan kualitas pendidikannya. Sebab, hanya sekolah-sekolah yang berkualitaslah yang akan berkembang dan diminati masyarakat.
Nur Syam menyampaikan itu saat diskusi terbatas dengan pengurus harian L.P. Ma’arif Tuban, di gedung STITMA Tuban, Ahad (16/02). Nur Syam mampir ke kantor LP Ma’arif Tuban atas undangan Ketua L.P. Ma’arif Tuban Akhmad Zaini yang kebetulan memiliki hubungan dekat dengan tokoh asli Merakurak tersebut.
Sebelum ke kantor Ma’arif, Nur Syam menghadiri resepsi pernikahan anak KH Nasiruddin di Senori. Saat diskusi itu, Nur Syam didampingi Kakanwil Kemenag Jatim Drs. Sujak dan Kakemenang Lamongan Drs. Laksono. Dari jajaran pengurus Ma’arif, selain Zaini, hadir seluruh wakil ketua seperti Ainul Yakin, Muhlisin Mufa, Nur Khamid, Abdul Wahib, dan Komaruddin. Hadir pula Seketaris LP Ma’arif Tuban Sofyan Yunus.
Mantan Rektor IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya ini menuturkan, di Indonesia saat ini tumbuh kelas menengah muslim yang jumlahnya mencapai 100 juta orang lebih. Seiring dengan peningkatan ekonomi itu, tentu kebutuhan akan sekolah unggulan atau sekolah yang berkualitas akan terus meningkat. Karena itu, sekolah-sekolah di bawah Ma’arif harus berupaya meningkatkan kualitasnya.
‘’Saat ini, sekolah-sekolah yang dikelola oleh kelompok non NU terus bermunculan. Karena itu, kalau para pendidik NU tidak bangkit, jangan heran bila ke depan, para pemimpin di negeri ini bukan berasal dari kalangan nahdliyin,’’ ujar pejabat yang berlatar belakang NU ini. 
Dia lantas menuturkan, agar sekolah masuk katogori sekolah ungulan, maka setiap sekolah harus memiliki program unggulan atau program istimewa (excellency) yang bisa ditawarkan ke masyarakat. Program unggulan itu, bisa berupa kemampuan membaca kitab kuning, hafalan Al-quran, Bahasa Arab, Inggris, computer, IT dan ketrampilan lainnya.
Kalau sekolah atau madrasah dikelola seadanya dan asal-asalan, lanjut Nur Syam, maka tidak akan diminati masyarakat, apalagi bagi kalangan kelas menengah. ‘’Bagi kelas menengah, sekolah sedikit mahal tidak apa-apa, yang penting sekolah tersebut menawarkan keunggulan tertentu,’’ tandasnya. 
Selain itu, dalam diskusi yang dimoderatori Zaini ini, Nur Syam juga mengatakan kalau saat ini, merupakan momentum yang pas bagi madrasah untuk berkembang. “Sekarang respon masyarakat kepada madrasah sangat baik. Orang tua melihat anak yang sekolah di madrasah memiliki akhlak baik. Tidak ada anak madrasah yang tawuran. Karena itu, madrasah di mana-mana selalu kebanjiran siswa. Untuk itu, Ma’arif di berbagai daerah harus bisa melihat dan mengambil momentum kenaikan pamor madrasah ini,’’ ungkap bapak tiga putri ini.(amin)

Senori-Singgahan Antusias

PAPARAN: Zaini memberikan arahan kepada peserta Turba di Senori beberapa waktu yang lalu.

SENORI – Setelah melakukan kunjungan kerja di beberapa kecamatan lain, Ketua L.P. Ma’arif Tuban Akhmad Zaini mengadakan kunjungan atau Turba ke Senori  dan Singgahan (22/02). Dua kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang selama ini banyak melahirkan tokoh-tokoh NU di Tuban. Mereka menyambut kunjungan pengurus LP Ma’arif Tuban dengan penuh antusias. Pada kunjungan atau turba kali ini Zaini di dampingi H. Komaruddin (wakil ketua LP Ma’arif), juga sebagai koordinator wilayah Tuban bagian Selatan.
Dalam konsolidasinya, Zaini menceritakan arahan-arahan dari Dirjen Kemenag Pusat Prof Dr Nur Syam yang pada Ahad (16/02) berdiskusi dengan pengurus harian L.P. Ma’arif Tuban. Di mana, sekolah-sekolah di bawah LP Ma’arif diharapkan memiliki unggulan yang bisa ditawarkan ke masyarakat.
Para kepala sekolah yang mengikuti pertemuan, rata-rata memiliki keyakinan kalau kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Zaini bisa membawa kemajuan bagi L.P. Ma’arif Tuban. “Walaupun sekolah kami sudah punya yayasan nasional, tapi kami akan tetap ikut Ma’arif,” kata salah satu kepala sekolah di Singgahan.

Baik ketika di Senori atau Singgahan, Zaini memaparkan keinginanya untuk  menyelenggarakan pawai akbar atau karnaval dan halal bihalal seluruh guru yang bernaung di bawah lembaga pendidikan Ma’arif  Tuban. (amin)

Jumat, 03 Agustus 2012

Pupuk Cinta Tanah Air dengan Pekan Madaris

PEMBUKAAN: Ketua Ma’arif Tuban Drs.Mahfud memberikan sambutan pada upacara pembukaan pekan madaris ke-15 di Montong.

MONTONG-Ma’arif Kecamatan Montong, pada awal Juli lalu mengadakan Pekan Madaris ke-15. Acara tersebut diikuti oleh Madrasah Ibtida’iyah se-Kecamatan Montong. Acara yang dijadwalkan pukul 09.00 WIB itu molor hingga pukul 10.30 WIB. Meskipun molor, semangat peserta pekan madaris ke-15 itu tidak menurun. Mereka tetap berdiri tegap sampai acara upacara pembukaan berakhir, pukul 11.30 WIB.
 Ketua PC LP Ma’arif NU Tuban, Drs. Mahfud, M.Pd dan Drs. Bambang Hariyono (sekretaris II PC LP Ma’arif NU Tuban) hadir dan membuka acara tersebut.
Dalam, Ketua KKM MI Montong, Abdul Qohar, yang mewakili ketua panitia KH. Mohtadji (absen karena sakit), mengatakan bahwa acara yang dilaksanakan di MTs Miftahul Huda Pucangan-Montong-Tuban itu diikuti oleh 13 madrasah yang terbagi menjadi 46 regu.
Acara itu menghabiskan biaya Rp. 11.000.000,- yang bersumber dari iuran seluruh madarasah ibtidaiyah se-kecamatan Montong.
Tema dalam acara yang berlangsung 3 hari itu (05-08 Juli 2012) adalah “Dengan Pekan Madaris, Kita Bangkitkan Kembali Citra Madrasah yang Islami dan Memupuk Rasa Cinta Tanah Air”.
Mahfud, dalam sambutannya mengatakan bahwa para peserta pekan madaris adalah para generasi bangsa yang akan meneruskan perjuangan para leluhur bangsa Indonesia.
“Mengikuti pekan madaris seperti ini sangat baik, Karena dengan madaris kalian akan banyak belajar, mendapakan ilmu dan pengalaman,” ungkap Mahfud. Selain itu, pelajaran dalam Dasa Darma Pramuka menurutnya sudah sesuai dengan ajaran agama Islam.
“Dalam Dasa Darma Pramuka kalimat ketiga, kalau tidak salah, terdapat kalimat mencintai alam dan sesama manusia,” kata Mahfud.
Dia menambahkan, “ada hadis yang berbunyi ‘Tidak sempurna iman kalian semua sehingga kalian mencintai lingkungan seperti kalian mencintai diri kalian sendiri’.”
Dari sini dia meminta kepada para peserta pekan madaris untuk mencintai lingkungan mereka, baik lingkungan manusia maupun lingkungan alam.
“Pemuda adalah generasi penerus bangsa, jadi pemuda harus menunjukkan kepada bangsa bahwa ‘Ini lho aku’, bukan sebagai pemuda yang mengandalkan kemampuan bapaknya. Pemuda harus mampu menunjukkan kualitasnya dan memenuhi panggilan bangsa dan negara untuk meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa Indonesia,” kata Mahfud.
Ditanya terkait alasan pemilihan tema, Abdul Qohar memaparkan itu adalah usaha untuk meningkatkan ulang semangat nasionalisme para generasi bangsa yang telah menurun. “Semangat anak-anak saat ini kan tertuju pada acara-acara televisi, tapi semangat nasionalisme sudah sangat minim,” ungkapnya.

Selain itu, tema tersebut juga dimaksudkan  untuk menunjukkan bahwa madarasah adalah motor penggerak syi’ar Islam di dalam sebuah lembaga pendidikan. (wakhid)

Rabu, 11 Juli 2012

Oleh-Oleh Ketua Maarif Tuban Mahfud Sepulang dari Swiss

LAWATAN: Mahfud (dua dari kiri) bersama Wabup Noer Nahar Hussein ketika berada di Geneva, Swiss beberapa waktu yang lalu.
Pada 11 Juli yang lalu Ketua PC LP Ma’arif NU Tuban Drs. Mahfud, M.Pd.I berlibur ke Geneva-Swiss bersama keluarganya. Makhrus, Mansur dan Yasin adalah tiga saudaranya yang berangkat ke Geneva bersamanya. Selain ketiga saudaranya itu, Ismail Amir, seorang konsultan LSM, turut serta dalam perjalanan ke negara teraman di dunia itu.
Sepulang dari Geneva Kamis (19/07) malam di rumahnya, kepada NUsa Mahfud berbagi pengetahuan yang dia bawa dari sana. Dikatakan, setidaknya ada tiga hal yang dia pelajari selama perjalanannya menuju negara markas PBB itu. Yakni tentang pengembangan pertanian, peternakan dan pendidikan lingkungan.
Dia bercerita sekitar  pukul 6 malam dia bersama rombongan terbang dari Surabaya menuju Jakarta. Tepat pukul 7 malam dia sampai di Jakarta dan transit ke penerbangan menuju Abu Dhabi. Berangkat dari Jakarta pukul 7 malam, mereka sampai di Abu Dhabi pukul 00.00 malam, kemudian transit lagi ke penerbangan menuju Geneva-Swiss.
Dari Abu Dhabi jam 00.00 WIB dia tiba di Geneva tepat pukul 07.00 pagi waktu Geneva Swiss. Satu hal yang mengejutkan baginya adalah ternyata dia bersama rombongan tidak sengaja bertemu Wakil Bupati Tuban Noor Nahar Hussein yang sedang dalam perjalanan dinas ke negara tujuan yang sama. Namun, ketika sampai di Geneva mereka harus berpisah karena berbeda tempat tujuan.
Dari Bandara Geneva Mahfud kemudian melakukan perjalanan wisata ke sebuah kota bernama Lausan. Di kota inilah dia melihat keindahan tanaman pertanian. Dia melihat keindahan pertanian gandum, apel dan bunga matahari. Seluruh pertanian itu dikelola dengan sangat modern.
“Semua tahap penggarapan memakai mesin. Tahap pembajakan, penanaman, pengobatan sampai pemanenan telah memakai mesin. Tenaga manusia hanya sedikit sekali terpakai. Jadi, meskipun hanya seorang, petani di sana mampu menggarap lahan pertanian berhektar-hektar dan hasilnya pun cukup bahkan lebih untuk biaya hidup di sana,” ungkap Mahfud.
“Kalau di Indonesia, petani identik dengan kemiskinan, tapi kalau di sana petani bisa dibanggakan. Bahkan pertanian menjadi tulang punggung di beberapa kota di Swiss,” tambahnya.
Apalagi saat dia ada di Lausan, sedang terjadi musim panas, di mana pada musim panas bunga matahari sedang bermekaran. “Bunganya itu kuning dan indah sekali seperti permadani yang digelar,” ungkap Mahfud.
Dia mengatakan, selain sebagai bahan kuwaci, bunga matahari itu juga sebagai bahan pembuatan minyak wangi. Pohon apel di sana tidak terlalu tinggi, tapi buahnya sangat lebat. “Banyak sekali buahnya,” katanya.
Dari Lausan dia menuju Bern. Bern adalah daerah pegunungan yang sangat indah. Namun, dia tidak mempunyai banyak cerita di Bern. Dari Bern dia menuju Leng.
Leng berada di daerah dataran rendah yang diapit oleh pegunungan yang sangat indah. Di Leng banyak berdiri pohon pinus. Ternyata pohon pinus itu menjadi sumber pendapatan keuangan. “Semua rumah di sana terbuat dari kayu pinus. Makanya, bisa memberi penghasilan,” ungkapnya.
Di Leng itu pula tempat pusat peternakan. Di sana banyak terdapat peternakan sapi dan ada beberapa peternakan kambing. Peternakan-peternakan itu sudah dikelola secara moderen. Setiap peternakan mempunyai sebidang tanah yang cukup luas sebagai tempat tumbuhnya rumput. Setiap 2 minggu sekali rumput itu akan dipotong dan dibiarkan mongering. Setelah kering akan digulung dengan mesin dan setelah tergulung rapi, akan dimasukkan dalam gudang penyimpanan. “Rumput-rumput yang telah disimpan dalam gudang itu sebagai makanan ternak pada musim salju,” jelas Mahfud.
Dalam setiap lokasi peternakan itu pula telah didirikan semacam pabrik yang mengelola hasil ternak. “Kalau akan diproduksi sebagai keju ya, setelah susu diperah langsung diproses dalam pabrik dan kalau telah jadi langsung dipasarkan. Jadi waktunya sangat efektif,” ungkap Mahfud.
Menurut Mahfud perbedaan Indonesia dengan Swiss dalam mengelola peternakan adalah kalau di Swiss menyimpan makanan pada musim panas sebagai bahan makanan di musim salju. Namun, kalau di Indonesia seharusnya menyimpan makanan di musim hujan sebagai bahan makanan di musim kemarau. “Sayang orang Indonesia tidak ada yang mengerti ini,” Mahfud menyayangkan.
Setelah menikmati keindahan kawasan Leng, Mahfud beserta rombongan bergegas kembali ke Indonesia.
Dari ketiga kota yang dikunjunginya, Mahfud selalu mengamati masyarakat dan lingkungan dimana mereka hidup. Di sana lingkungannya sangat bersih dan sangat minim tindak kekerasan. Orang-orangnya sangat ramah. Meskipun dihuni oleh berbagai macam bangsa, mereka bisa hidup berdampingan dan rukun.

Ketika ditanya kemungkinan terciptanya pengelolaan pertanian, peternakan dan lingkungan sebagaimana di Swiss, Mahfud menjawab bahwa itu mungkin terjadi. “Indonesia harus memiliki langkah-langkah yang maju dalam bidang pertanian, peternakan dan kelautan. Hal itu bisa tercapai apabila ada sinergi antara masyarakat dan pemerintah setempat. Kebijakan pemerintah harus mendukung. Namun, kesadaran untuk bangkit dari warga sendiri juga sangat penting,” ungkap Mahfud. (Wakhid)