RAPAT REDAKSI NUsa

Akhmad Zaini (Pimred Tabloid NUsa) memimpin rapat redaksi di halaman kampus STITMA Tuban.

DIKLAT JURNALISTIK

Peserta diklat jurnalistik dan crew Tabloid NUsa berpose bersama usai kegiatan diklat.

SILLATURRAHMI

Ketua LP. Ma'arif NU Kab. Tuban dan Pimred Tabloid NUsa berkunjung ke Rumah Gus Rozin (Putra KH. Sahal Mahfudz).

NUsa PEDULI SPESIAL

Mustain Syukur (Ketua PCNU Kab.Tuban) dan Fathul Huda (Penasehat LP. Ma'arif NU Tuban) berpose bersama siswa yang mendapatkan santunan NUsa Peduli.

STUDY BANDING LP. MA'ARIF NU KAB. TUBAN

Akhmad Zaini, ketua LP. Ma'arif NU Kabupatn Tuban saat menerima cinderamata dari LP. Ma'arif Kab. Pasuruan.

RAPAT BERSAMA

Pengurus PCNU, Pengurus LP. Ma'arif NU, PC.Muslimat Tuban, PC.Fatayat NU Tuban saat rapat bersama membahas pendidikan di Kabupaten Tuban.

GROUP SHOLAWAT SMK YPM 12 TUBAN

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

TURBA MAARIF NU TUBAN KE RENGEL

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

NUsa PEDULI EDISI 23

Tiga siswa berada di naungan LP. Ma’arif menerima santunan yang diberikan langsung oleh Dirjen Pendis (kanan) dan Kapala Kemenag Tuban.

PENGURUS PC. LP MA’ARIF NU

Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban.

AVANZA UNTUK OPERASIONAL MA’ARIF NU TUBAN

Zaini (Ketua PC. LP. Ma'arif) menerima hadiah mobil dari Bupati Tuban secara simbolis pada acara Rakor kepala sekolah dan pengurus yayaasan se-kabupaten Tuban.

PRESTASI FATAYAT

Fatayat NU Tuban Masuk 10 Besar Lomba Rias Provinsi.

JUARA MTK

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

TIM TABLOID NUsa

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

Tampilkan postingan dengan label RUBRIK KEWIRAUSAHAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUBRIK KEWIRAUSAHAAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Meneropong Usaha Anyaman Pandan

Pasarkan Sampai Malang dan Mojokerto

DAUN PANDAN: Pengrajin anyaman membuat tas dari daun pandan.
Bermodal keterampilan, semua pun jadi lading usaha yang mampu menghasilkan uang. Motto ini yang selalu tertanam dalam hati Suryani, seorang ibu rumah tangga yang kreatif dalam mengayam daun pandan. Bagaimanakah peluang bisnisnya?

Usaha menganyam daun pandan telah menjadi warisan leluhur bagi Suryani, warga Desa Sumberjo Kecamatan Widang.“YaMas, ini semua bermula dari keluargaku dulu. Entah kapan mulainya. Aku tidak  tahu,” katanya saat ditemui NUsa. Suryani mengaku sejak dulu sudah terbiasa dengan tangan yang terampil, sehingga ide-idenya untuk menciptakan karya dari hasil olah tangannya dalam menganyampan dan kian mudah dikeluarkan.Tak pelak, anyaman yang terbuat dari daun sejenis pandan yang biasanya hanya bisa dirupakan tikar, kini mampu beralih wajah menjadi tas cantik yang bernilai ekonomis. Apalagi, tuturnya, daun panda khas desa asalnya, yakni Sumberjo, memiliki kualitas lebih baik daripada daun pandan pada umumnya. Akhirnya, kini usahanya itu telah semakin diminati oleh ibu-ibu Fatayat maupun Muslimat NU.
Usaha yang bermodal awal hanya 1 juta rupiah itu dikenal dengan julukan Surya PW. Julukan itu bermula dari Ibu Suryani (38) dan  adiknya, Rina Niswatin (27). Untuk memperbaiki kualitas warisan leluhur, Suryani dan Rina pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh PNPM di desanya. Karena bahan yang dipakai dalam pelatihan itu relative lebih mahal, maka Suryani mencoba mencari bahan yang terjangkau harganya, sesuaikan tong orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Akhirnya Suryani memutuskan memproduksi tas cantik yang terbuat dari bahan sederhana, pandan. Meski demikian, kolaborasi antara hasil pelatihan dari PNPM, kemampuan pribadinya yang telah terbentuk daripara pendahulunya dan bahan pandan yang sederhana tapi berkualitas baik mampu menghasilkan karya kerajinan yang menarik.
Al hasil, usaha yang hanya dianggap sampingan itu ternyata berbuah manis. Ditangan terampil Suryani dan Rina, barang yang pada umumnya terkesan biasa, kini telah mendapat perhatian khusus dari para konsumen. Berbagai hasil karya mereka telah dibandrol dengan harga beragam. Seperti, tas dompet harganya sekitar 35.000 rupiah, tas ABG model harganya 50.000 rupiah, tas Hello Kitty harganya 60.000 rupiah dan tas belanja besar dihargai 70.000 rupiah. Bahkan ada bentuk lain, jika konsumen menghendaki bentuk yang berbeda.“Harga yang berbeda itu disebabkan oleh tingkat sesulitan dan bahan yang diperlukan waktu pembuatannya,” kata Rinadi sela-sela kesibukannya.
  
Beberapa tas dari duan pandan.

Konsumen Sampai Malang dan Mojokerto
Usaha anayaman daun pandan yang digeluti Suryani dan Rina ini kini telah terpasarkan sampai Malang dan Mojokerto. Ceritanya, pada awalnya system pemasaran produk kreasinya itu hanya melalui getok tular. Karena getok tular itu akhirnya usahanya mampu dipasarkan sampai di Babad, Plumpang dan Lamongan. Karena banyak yang minat, iseng-iseng, Juki seorang warga dari Desa Tunah Kecamatan Widang meminta keluarganya yang ada di Malang dan Mojokerto untuk ikut memasarkan hasil kreasi Suryani. Tak disangka, sambutan pasar di dua kota itu ternyata baik. Sehingga produk hasil olahan Suryani ini telah menemukan pasarnya di sana. “Karena banyaknya pesanan tapi tenaga kami minim, kami sampai menolak pesanan,” kata Rina.
Namun, kini produk anyaman Suryani dan Rina ini telah dipasarkan via online. Bahkan pengusaha wanita ini kini telah berani memamerkan hasil karyanya di Rest Area Tuban sampai sekarang. Dikatakan, usaha kerajinan ini harus ditopang oleh 3 hal, yaitu kemauan, modal dan yang terpenting pemasaran.

Rahasia dan Tantangan
Membuat kerajinan itu merupakan sebuah tantangan tersendiri di benak para pengrajinnnya. Usaha ini murni membutuhkan tenaga ekstra dari mulai pencari anbahan, membuat sampai cara agar produk diminati para konsumen. Inilah letak diminati atau tidaknya usaha ini oleh para pemula usaha, sehingga banyak sekali orang yang kurang minat dengan usaha ini.Namun, rina berbeda. Dia mengungkapkan bahwa berkarya itu tidak sulit dan bahkan baginya mudah sekali. Hanya butuh keuletan dan kesabaran saja.
Sebenarnya, kerajinan yang satu ini sama seperti kerajinan pada umumnya, tapi yang menjadikan berbeda adalah bahannya yang pilihan dan metode pembuatannya yang unik. Langkah pertama pembuatannya, yaitu mempersiapkan bahannya yang meliputi lemkayu, gunting, palu, benang dan alat jahit. Kedua, kayu yang sudah disiapkan dilem untuk menghilangkan jamur. Kemudian membuat pola atau gambar, setelah itu barang setengah jadi itu dijahit sesuai pola yang disiapkan. Setalah terbentuk, tas diberi milamin/diflitur agar terlihat halus. Kemudian terakhir dijemur agar terlihat bagus dan mengkilat.
“Rahasianya agar produktas ini awet dan tetap bagus warnanya, jangan sampai disimpan pada tempat yang kedap udara seperti lem aria tertutup,” jelas Rina. (edy)


Rabu, 29 Oktober 2014

Mengintip ‘’Lezatnya’’ Bisnis Kepala Manyung di Tuban

 
Cukup Rp 25 Ribu, Lidah Bisa Bergoyang
 
Selain dikenal dengan sebutan Bumi Wali, Tuban juga dikenal makanan khas kulinernya. Salah satunya kepala manyung atau masyarakat menyebutnya “ndas manyung”. Warung penjual makanan khas pesisir tersebut hampir setiap hari tidak pernah sepi pengunjung.
 
Menjual menu “Ndas Manyung” atau kepala ikan manyung yang diolah garang asem atau mangut sangat laris dan diburu pembeli. Para pembelinya tidak hanya asal Tuban saja, para pelancong yang kebetulan singgah di Bumi Wali banyak pula yang memburu. Selain harganya yang terjangkau, cita rasanya yang khas dan menyegarkan juga menjadi alasan konsumen untuk membeli dan mencicipinya.
Tidak hanya itu. Ukuran yang porsinya jumbo dan bumbunya yang khas membuat para konsumen datang kembali untuk membeli dan menikmatinya. Maka dari itu, tidak heran jika penjual makanan khas kuliner Tuban itu sebagai lahan kerja dan bisnis yang sangat menjanjikan.
Di Tuban yang menjual menu tersebut dan cukup terkenal di antaranya warung yang berada di Kelurahan Mondokan, Kecamatan Kota atau arah ke terminal wisata Tuban dan satunya lagi berada di Desa Bulu Jowo, Kecamatan Bancar, Tuban persisnya di depan polsek Bulu-Bancar.Setiap hari menu mangut dan asem-asem kepala manyung selalu menjadi pilihan para pembeli, baik yang sudah menjadi konsumen langganan, maupun hanya sekedar lewat untuk mencicipi makanan khas daerah.
Salah satu orang yang sudah menikmati ‘’lezatnya’’ berbisnis ndas manyun adalah Joko Santoso (55), pemilik warung di Kelurahan Mondokan, Tuban. Di warungnya yang sederahana itu, dia telah menyediakan berbagai menu kepala manyung. Mulai dari mangut, asem-asem dan garang asem. Dalam penyajiannya satu porsi menu, terdapat setengah kepala ikan.
“Satu porsi, kepala ikan itu dijadikan dua. Jadi satu piring itu terdapat setengah kepala,” kata Joko.
Menurutnya, kepala ikan manyung yang menjadi bahan utama merupakan jenis ikan laut besar yang lebih dikenal dengan nama ikan duri. Membelinya ikan tersebut tidak secara utuh. Namun, dia mendapatkan pasokan dari nelayan yang menjadi langgananya sudah dalam bentuk potongan kepala.
“Untuk ikannya dikirimi dari Brondong (Lamongan) sudah dalam bentuk kepalanya saja,” ucapnya sambil melayani konsumen yang membeli.
Pelangganya sendiri, kata Joko, berasal dari banyak daerah seperti Bojonegoro, Lamongan bahkan Rembang yang kebetulan singgah di Kabupaten Tuban. Satu porsi asem-asem, mangut dan garang asem manyung dihargai Rp 25 ribu. Harga itu belum ditambah nasi Rp 3 ribu dan Rp 2 ribu hingga Rp 4 ribu untuk minumannya.
Dalam sehari, warung milik Joko mampu melayani sedikitnya 100 orang pembeli atau menghabiskan sekitar 4 kwintal kepala ikan manyung yang ditaksir menghabiskan 50 kepala manyung perhari. Sedangkan, pada saat akhir pekan Sabtu dan Minggu, menyiapkan sedikitnya 6 kwintal atau sebanyak 70 kepala ikan manyung untuk persedian 160 pembeli. Dengan banyaknya pembeli itu, Joko dalam seharinya omset warungnya mencapi Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta lebih.
Tidak hanya Joko, pemilik depot di depan Polsek Bulu-Bancar, Ahmad Mujahidin (28) yang melayani aneka menu kepala manyung juga tak kalah ramai pembelinya. Strategi menjualnya pun cukup unik. Jika ada pembeli tidak langsung dilayani, namun disuruh menunggu selama 10 hingga 15 menit karena menunggu kepala manyung tersebut dimasak dulu. Meskipun menunggu dipastikan tidak akan jenuh, karena di situ sudah disiapkan aneka camilan khas yaitu krupuk cumi.
“Ada yang membeli, baru dimasakkan. Itu yang kami tawarkan kepada pembeli. Karena kalau menunya masih panas santapannya pun dijamin tambah lezat,” kata Adin sapaan akrabnya saat ditemui di depotnya.
Menurutnya, cara itu dilakukan karena banyak pembeli yang mintanya variatif mulai dari yang super pedas, pedas biasa maupun agak pedas. Sehingga dari situlah pembeli bisa mencicipi menu sesuai dengan kesukaannya. “Semua tinggal permintaan pembeli, mulai menu yang seperti apa, pedes atau yang biasa, semuanya dilayani,” ujarnya.
Harganya pun tidak terlalu mahal. Untuk menggoyangkan lidah, para pembeli cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 25 ribu satu porsi. Dalam seporsi pembeli akan mendapatkan satu baskom yang berisikan kepala manyung, es teh dan sepiring nasi. Di depot tersebut selain memesan kepala, pembeli bisa memesan badan manyung. Karena pemilik depot tersebut saat membeli ikan manyung tidak hanya kepala saja, tetapi beserta badannya.
“Selain menyediakan kepala, di sini juga melayani aneka menu yang berasal dari badan manyung. Dipastikan juga tidak kalah enak. Tidak hanya itu, khusus menu mangut, di sini kepala manyung diasapin dulu baru setelah itu dimasak mangut,” tandasnya.
Selain menyediakan berbagai menu kepala manyung, di depot yang sederhana itu juga menyediakan menu makanan lain. Seperti bebek goreng, bebek bakar, ayam bakar, ayam goreng, lele goreng kremes,togek bakar dan yang baru ini telah menyediakan lele bakar.
Ingin tahu rasanya, silakan datang dan kunjungi serta cicipi masakan kuliner yang ada di Tuban.
Bagi yang ingin membuat usaha ini silakan belajar dulu. Pantang menyerah, ulet dan tekun. Juga, harus siap-siap tahan amis, sebab ikannya tidak sama dengan ikan lainnya. “Ya kudu telaten, dan siap-siap tahan amis,” tambah Adin
Sementara itu, Ahmad Arif (26) warga desa setempat mengaku kerap mencicipi menu khas mangut milik depot yang dinamai Kalijodo itu. Selain rasanya yang menggoyang lidah, harganya pun terjangkau. Tidak hanya itu, masakan yang gurih dan super pedas menjadikan ciri khas tersendiri.
 
“Tapi di sini masakannya beda, soalnya sebelum dimasak manggut, ikannya itu bukan dipanggang, tapi diasapin. Makannya rasanya beda dengan penjual kepala manyung lainnya,” ungkap pegawai di salah satu perusahaan yang ada di Kecamatan Sale, Rembang ini yang saat itu sedang menyantap makan malam. (wandi)

Rabu, 03 September 2014

Geliat Bisnis Busana Muslim-ANGGUN BUSANA Tuban


Puasa, Omset Bisa Naik 500 Persen
BERKAH RAMADHAN: Karyawan Anggun busana menata beberapa baju muslim menjelang puasa akhir Juni lalu.

Momen Ramadhan dan Idul fitri, membuat sejumlah toko baju busana muslim di Tuban diserbu banyak konsumen. Omset pun meningkat tajam. Jauh dibanding dengan bulan-bulan lainnya.

Anggun Busana yang berada di Jalan Pemuda 49 Tuban adalah salah satu toko busana yang tidak pernah sepi dari pembeli. Paling tidak, sudah sebulan lalu toko yang menyediakan semua perlengkapan busana muslim ini telah diserbu banyak konsumen. Dipastikan, ramainya tersebut akan berlangsung hingga hari raya Idul Fitri tiba.
Informasi yang diterima, saat ini penjualan toko tersebut mengalami kenaikan sekitar 500 persen dibandingkan pada hari biasanya. Toko busana muslim terbesar dan terlengkap di Tuban itu, tiap harinya terus dipadati pengunjung. ‘’Yang datang ke toko kami, banyak pula yang bermaksud kulakan. Mereka datang dari berbagai kota kecamatan di Tuban,’’ tutur pemilik Toko Anggun Busana, Ana Arofah, 39 tahun.
Dijelaskankannya, kenaikan itu tidak hanya terjadi saat ini. Tapi sudah beberapa bulan sebelumnya. Peningkatan itu, dipicu momen bulan suci Ramadhan dan mendekati hari raya idul fitri. Selain itu, berkat penjualan yang tinggi pula, membuat omset penjualannya pun terus bertambah. Dibandingkan dengan hari biasanya, saat ini omsetnya naik sekitar 500 persen.
“Biasanya mendekati bulan-bulan seperti ini banyak pelanggan yang mulai berdatangan membeli baju muslim ini. Diperkirakan akan berlangsung hingga mendekati hari raya idul fitri,” katanya Ana Arofah.
Dikatakan Ana, toko yang dikelola buka tiap hari, dari pukul 07.30 WIB hingga 21.00 WIB. Dalam satu hari, sedikitnya sebanyak 300 dagannya yang terjual. Hal itu beda dengan hari-hari biasanya yang hanya mampu menjual sebanyak 50 hingga 60 stel busana muslim.
Masih lanjut Ana, pihaknya juga menyediakan harga yang bervariasi, mulai Rp 75 ribu hingga Rp 600 ribu. Produk  dijualnya pun bervariasi modelnya. Mulai busana muslim bentuk setelan kulot, gamis, gaun, dress, cardigan, stelan brezer. Bahkan, perlengkapan pendukung untuk busana muslim lainnya juga ada. Seperti jilbab, dalaman jilbab (cipat) aksesoris jilbab, bandana, bros juga banyak yang membelinya.
“Rata-rata yang saya jual ini baju busana muslim berbentuk modern seperti busana muslim Danies maupun Rabani,” ungkap perempuan jebolan IKIP Tuban ini.
Masih kata Ana, selain menjual busana muslim untuk kaum hawa, pihaknya juga menjual busana muslim untuk kaum pria. Meskipun persediannya tidak seperti busana muslim pada kaum wanita, namun penjualannya pun tidak kalah jauh dengan penjualan busana muslim milik kaum wanita. Mulai baju koko, celana bentuk sarung seperti kulot dan kopiyah juga banyak dibeli oleh para konsumen.
Saat ditanya soal kiatnya mengelola busana, Ana tidak berkomentar banyak. Hanya saja dalam menjalankan bisnisnya tersebut, dia mengaku selalu melakukan berbagai tips dan strategi agar pembeli datang ke tokonya. Di ataranya promosi dengan memasang barner, memberi diskon tambahan dan memberikan pelayanan yang baik pada konsumen. Saat ini pihaknya memiliki 19 pegawai untuk membantunya mengurusi tiga toko. Jumlah tersebut dipastikan bisa bertambah lagi 10-15 pegawai untuk membantunya di saat Ramadlan.
Sementara itu, dengan meningkatnya penjualan teserbut secara otomatis omsetnya pun terus bertambah. Peningkatannya itu diperkirakan hingga mendekati hari raya idul fitri. Namum, pihaknya tidak bisa membeberkan berapa besar omset yang dihasilkannya.
“Ya alhamdulillah omset naik, dibanding pada bulan-bulan sebelumnya, yang penting dalam bisnis maupun berdagang itu, diniati untuk ibadah, jangan lupa shodaqohnya pula. Selain itu, diniati untuk syiar agama islam, karena telah menjual baju busana muslim  untuk menutupi aurat seseorang,” lanjut ibu tiga anak ini. (wandi)

Jumat, 01 Maret 2013

Seni Ukir Tuban yang Kini Kian Diminati Pasar

Yakin Produk Lokal yang Terbaik

SENIMAN UKIR: Bapak Wait salah seorang yang menekuni ketrampilan ukir khas Tuban.

Tuban memang tidak memiliki predikat sebagai kota ukir seperti halnya Jepara atau Kudus. Namun, itu bukan berarti di Bumi Wali ini tidak memiliki pengrajin ukir. Sebut saja, Wait. Warga Widengan, Gedongombo, Semanding ini sejak lama menekuni ketrampilan ukir khas Tuban.

   Seni pahat atau seni ukir memang kurang begitu dikenal di Kabupaten Tuban. Namun hal itu tak lantas membuat Wait berkecil hati. Dia nekat mempelajari teknik ukir secara autodidak dengan mengasah kemampuan seni ukirnya. Upayanya kini berbuah hasil manis. Lelaki yang hanya bermodalkan lulusan kelas 5 SD ini memulai usahanya sejak tahun 1972.
“Saya pernah membaca, kalau ke depannya produk lokal itu jadi best (terbaik) di Indonesia. Makanya saya hadirkan produk asli dari Tuban (Jawa Timur),” ujar Pak Wait.                                  
Semula, Wait hanya iseng mengukir sembarang pohon kayu. Lambat laun, kayu jati menjadi sasarannya.“Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap, meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan sehingga disukai para pengrajin ukiran,” ujarnya
Seni-seni yang diciptakannya sendiri yang direalisasikan menjadi sebuah karya seni ukir kayu adalah keunggulannya. Tak diduga, hasil karyanya mendapat perhatian warga sekitar. Beberapa orang langsung memesannya. Uang hasil penjualan karya seni ukirnya itu kemudian digunakan membeli tambahan modal kayu jati bahan ukiran. Sebab dia tak memiliki cukup modal sekedar membeli peralatan pahat maupun kayu bahan ukiran.
 Pria paruh baya ini mulai menggeluti usaha pembuatan kerajinan kayu ukir dengan bahan dasar kayu jati lokal asli Tuban dengan kreasi seni ukiran khas Tuban dengan modal awal Rp 1 juta. Kerajinan rumahan yang diberi nama Jati Seni ini,  memberinya penghasilan Rp 17 juta satu shet (meja dan 2 kursi) atau satu kali pesanan. Dia mengaku usaha kayu ukir yang dibuatnya memiliki variasi corak batik yang beragam seperti bunga, burung, macan, kaligrafi dan lain-lain. Dia juga menerima blubud kayu dan segala hal tentang kayu. Proses pembuatan kayu ukir ini memerlukan 15 hari untuk satu meja atau satu kursi.
Dalam alat kerjanya, Wait menggunakan 40 macam alat pahat yang dibelinya dari Jepara. ‘’Cara pembuatan kayu ukir dimulai dari mengukur kayu, menggambar dan mengukir kayu, menggosok dengan rempelas, menggunakan viler atau tiner, menggosok sampai halus setelah itu di finis atau di gilapkan,’’’ujarnya. Hanya saja, bagi masyarakat yang ingin memesannya harus sedikit bersabar karena proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu agak lama. Apalagi dengan proses pembuatan yang masih mengandalkan keterampilan tangan (handmade), waktu pengerjaan ditentukan oleh ukuran dan tingkat kerumitannya.
 “Namun tidak perlu khawatir. Meski waktunya lama, dari sisi kualitas sangat terjaga. Kami sangat menjaga kualitas produk karena kami tidak ingin konsumen kecewa. Kerajinan ini butuh ketekunan dan ketelitian sehingga produk yang dihasilkan sempurna dan memuaskan konsumen,” jelasnya.
Soal keuntungan, Wait dengan rendah hati mengatakan, hasil yang didapat cukup untuk makan sehari-hari, menggaji karyawan yang sekaligus putra pertamanya, dan berbelanja bahan baku lagi. Namun dilihat dari harga per karyanya yang tidak murah, setidaknya Wait mengantongi keuntungan jutaan rupiah.”Memang harganya tidak murah karena sebanding dengan tingkat kesulitan dan daya kreativitasnya,”ujarnya
Layaknya pebisnis pada umumnya, Wait juga menemui sejumlah kendala dalam usahanya. ”Kendala yang dihadapi adalah dalam proses pesanan yang terlalu banyak keterbasan pegawai dan alat produksi,” ungkapnya.
Untuk menjalankan usaha yang didirikan selama dua puluh lima tahun ini, Wait tidak mengambil pegawai. Usaha ini hanya dijalankan oleh dua orang saja, yang dipekerjakan sebagai pengelolah kayu adalah Ruhanto putra pertamanya dan sebagai pengukir adalah bapak wait sendiri. Meskipun demikian ia tetap mengedepankan kemampuannya dalam bidang seni ukir demi melanjutkan usahanya. Wait menuturkan, meski usahanya mengalami kondisi pasang surut, dengan keyakinan yang kuat, dia mampu bertahan di tengah gelombang pengusaha furnitur yang berskala lebih besar. ‘’Asalkan kita punya niat besar, kemampuan kita bisa dikembangkan untuk tetap menghasilkan keuntungan,” tandasnya.
Wait yang membuka usaha di desanya, Widegan, Gedongombo, Semanding ini mengaku selama ini kapasitas produksinya terbatas karena dikerjakan secara manual. Dia berharap pemerintah dapat memperhatikan nasib para seniman kecil, seperti dirinya, agar lebih berkembang dan maju. Terutama berkaitan dengan modal usahanya. “Kalau karya seni kita terkenal, toh nama Tuban juga akan menjadi harum,” pungkasnya (hafydz)

Selasa, 04 September 2012

Bermodal Kemauan dan Kepercayaan

KERJA KERAS: H. Anwar (kanan) bersa-ma dua orang dekatnya men-gawasi lahan pertanian yang dipenuhi dengan padi yang siap dipanen.
Penulis: Wakhid Qomari-Tulisan 2012

Siapa bilang berwirausaha membutuhkan modal yang besar? Siapa bilang kalau uang adalah modal pokok untuk memulai sebuah usaha? Dan siapa bilang kalau tanpa uang seseorang tidak mungkin bisa mengembangkan usaha?

Memang kebanyakan orang mengatakan bahwa untuk memulai sebuah usaha uang menjadi modal utama yang pertama kali harus dimiliki. Namun itu tidak berlaku bagi H. Anwar, pengusaha kelahiran Gresik yang berhasil mengembangkan usahanya di Tuban. “Uang hanyalah faktor pendukung dalam berwirausaha, bukan satu-satunya modal yang wajib dimiliki untuk memulai sebuah usaha,” katanya.
Dikatakan, hal yang paling utama untuk memulai sebuah usaha adalah kemauan dan kepercayaan, dalam arti mampu mengemban amanat. Jika seseorang sudah memiliki  dua hal tersebut maka segala hal yang berhubungan dengan usaha akan berjalan dengan sendirinya, termasuk uang. “Uang akan mengikuti alur pemikiran orang-orang yang memiliki kemauan tinggi dan kepercayaan besar dalam mengembangkan usaha,” kata bapak beranak tiga ini.
Lebih lanjut dikatan, seorang yang tidak memiliki uang sekalipun bisa memulai usahanya hanya dengan bermodalkan kemauan dan kepercayaan. Dengan memiliki kemauan, setiap orang akan senang dengan pekerjaannya dan itu mempermudah untuk mengembangkannya. Sedangkan dengan modal kepercayaan setiap orang akan mendapatkan kepercayaan timbal balik dari orang lain, sehingga mempermudah segala hal yang dibutuhkan untuk membuka usaha. Termasuk uang.
Bagi Anwar sosok seorang pengusaha harus memiliki tiga hal penting jika menginginkan uasahanya berkembang. Pertama seorang pengusaha harus mampu menjadikan tugasnya sebagai berkah, bukan beban. Berkah karena Tuhan masih memberikan keluasan waktu dan tenaga untuk menjalani pekerjaan tersebut. “Dengan mendapatkan tugas atau pekerjaan seseorang masih mendapatkan belas kasih Allah, dan itu merupakan berkah yang sangat berharga,” tegasnya.
Kedua, seorang pengusaha tidak pernah memiliki musuh, pesaing, atau lawan bisnis. Setiap orang yang dihadapi oleh pengusaha adalah teman, kendati secara strategis merupakan pesaing. Orang yang mengembangkan usaha yang sama dengan usahanya dan berpeluang untuk menghancurkan masa depan usahanya pada hakekatnya bukan merupakan musuh, tapi teman yang akan membantu membuka peluang lebih banyak belajar tentang bisnisnya.
 “Dengan demikian seorang pengusaha jangan pernah takut dengan persaingan, karena mereka adalah teman-teman yang membantu membesarkan usaha, kendati cara-cara yang ditempuh  sama,” katanya. Dalam mengembangkan masakan misalnya, orang boleh sama resepnya tapi rasa pasti beda. Demikian Anwar memberikan perumpamaan tentang banyaknya persaingan bisnis dengan kategori yang sama.
Ketiga, seorang pengusaha harus membuka diri, dalam arti menerima masukan, kritik, saran, dan mau berintropeksi diri dari semua kesalahan yang telah dilakukan. Dengan memberanikan diri untuk berintropeksi diri seseorang akan mengetahui kelemahannya dan bisa memperbaiki sehingga menjadi lebih baik. Dikatakannya, bahwa membuka diri akan memberikan peluang lebih banyak kepada seseorang untuk mendapatkan rahasia-rahasia yang telah membuatnya gagal.
“Gagal adalah pohon untuk belajar lebih banyak lagi peluang-peluang keberhasilan, sedangkan membuka diri untuk menerima kritikan dan masukan adalah buahnya,” demikian Anwar berfilsafat.
Ketiga hal itulah yang diterapkan oleh Anwar untuk mengembangkan bisninya, kontraktor dan pertanian.

Berangkat dari Nol
Anwar pertama kali memulai usaha kontraktor tanpa ada modal sepeser pun. Ia mendirikan CV. Noviana pada 1993. Pada tahun pertama kerja perusahaannya sudah memiliki banyak keuntungan dan aset yang bernilai jutaan rupiah. Dan modalnya cukup sederhana, keyakinan dan kepercayaan. “Kunci keberhasilan dalam berwirausaha bukan pada berapa modal uang yang kita miliki, namun seberapa kuat kita ingin menjalani usaha itu dan mengemban amanat sebagai tugas yang mulia,” katanya.
Perkembangan itu dilanjutkan pada 1997 dengan merubah nama usahanya menjadi CV. Fimaco. Hasilnya sama, menghasilkan keuntungan yang melimpah dan aset yang lebih banyak.
Kemudian pada 2001, ketika di kawasan Tuban masih langkah pupuk orea petrokimia Gresik CV. Fimaco memanfaatkan kesempatan itu. Ia menjadi satu-satunya penyedia pupuk orea di kabupaten tuban. Tentu saja kondisi tersebut menjadikan usaha Anwar semakin berkembang pesat dan tidak memiliki halangan yang potensial.
Sukses sebagai penyedia pupuk orea memberikan ide bagi Anwar untuk mengembangkan pertanian lebih jauh. Dia membaca peluang yang tak terbaca oleh para petani tradisional. Sebuah metode yang sebetulnya sudah banyak diajarkan di dalam agama. “Saya hanya melaksanakan apa yang ada di dalam al-qur’an, bahwa usaha pertanian merupakan usaha yang paling barokah,” jelasnya.

Kunci mengembangkan Pertanian
Menurut ketua Pimpinan Cabang Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama Kabupaten Tuban ini para petani tradisional, khususnya petani desa banyak melakukan kesalahan dalam menjalani prosedur dalam bertani. Baginya masyarakat desa yang mayoritas muslim tidak menjalani kewajibanya sebagai seorang petani. “Mereka sering lupa dengan kewajiban membayar zakat dari hasil panennya. Padahal membayar zakat merupakan intruksi Tuhan dan cara mudah untuk sukses sebagai petani,” jelasnya.
Mengenahi zakat pertanian Anwar memberikan perbandingan, orang Bali yang notabenenya Hindu memiliki kebiasaan yang unik setiap selesai panen. Pada saat masa panen tiba mereka akan mengambil hasil tanamannya di sawah, lalu membiarkan 20 persen dari tanaman itu untuk tidak dipanen. Orang-orang Bali menyebutnya itu sebagai persembahan terhadap alam yang telah memberikan kesuburan pada tanahnya. Sebagian ada yang mengatakan sebagai persembahan kepada para dewa kesuburan. 20 persen tanaman tersebut dibiarkan saja, seolah mempersilahkan burung-burung dan serangga untuk menikmatinya. Jika sampai pada masa panen berikutnya masih ada yang tersisa, atau masih utuh semua maka akan menjadi haknya kembali dan boleh dipanen. Yang penting pada masa pasca panen bagian 20 persen sudah disisakan untuk alam.
Dalam Islam persembahan itu tidak lain adalah zakat yang hanya 10 persen dari hasil panen. Dan hal itu kurang dihayati oleh kebanyakan petani muslim. “Orang muslim jauh lebih sedikit dalam membayar hasil panennya kepada (pencipta) alam, namun jarang sekali hal itu menjadi renungan yang menyadarkan,” tegasnya. Karena itu, jangan salahkan jika kemudian terkadang musim panen tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Satu kesalahan lagi para petani tradisional, khususnya di Tuban adalah ketika memperlakukan tanaman. Bagi Anwar petani Tuban lupa kalau tanaman juga mahluk hidup, sama halnya dengan hewan dan manusia. Hanya saja tanaman gerakannya tidak terlihat secara nyata layaknya hewan dan manusia.  
Dikatakannya,  tanaman memerlukan perlakuan yang lembut, ramah, manja, dan kasih sayang seperti dalam merawat hewan. Mereka butuh diberi perawatan yang layak dan proporsional. Misalnya dalam memberi pupuk harus tepat, tidak kurang tidak lebih. Begitu juga memberi air, harus pas dan tidak berlebihan. Metode itu diterapkan olehnya dalam pengembangan pertaniannya, dari jagung, padi, hingga melon.
“Hasilnya cukup luar biasa, dalam satu tahun kami bisa mencapai penghasilan kurang lebih 8 miliar untuk setiap 1 hektarnya,” ungkapnya bangga.
  Dari situlah, dia berprinsip, di dunia ini tidak ada pekerjaan yang lebih menguntungkan dan memberikan keberkahan hidup selain pertanian. Hal itu dibuktikan dengan beban zakat maal yang dibebankan pada para pengelola pekerjaan pertanian lebih banyak dibandingkan dengan pekerjaan yang lain, perdagangan dan peternakan, misalnya.
Lebih lanjut, Anwar mengatakan kesalahan para petani desa, meraka kurang bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Para petani melakukan kesalahan fatal dan sangat beresiko, baik dalam segi syariah maupun ekonomis. Mereka menjual hasil panennya dalam kondisi masih mentah. Atau dengan kata lain “ditebaskan” kepada orang lain. Menebaskan sawah yang masih belum jelas hasilnya dalam kacamata syariah sangat dilarang, tapi selalu dilakukan oleh para petani.  Apalagi dalam sisi ekonomis, jika dikalkulasi dengan benar ternyata lebih banyak ruginya dari pada untungnya.
“Padahal jika para petani mau serius menekuni pekerjaannya dan mengelola dengan baik sawahnya mereka pasti mampu menghasilkan hasil yang cukup memuaskan,” kata Anwar.

Jiwa Kewirausahaan
Sebagai seorang pengusaha Anwar memang memiliki insting bisnis yang luar biasa. Ia tidak ragu dalam melangkah, tidak segan dalam mencoba, dan tidak takut ketika bersalah. Bagi Anwar kesalahan merupakan langkah awal yang tepat untuk belajar menjadi seorang pengusaha.
Dia pun membedakan antara pengusaha dengan akademisi. Perbedaan seorang akademisi dan pengusaha sangat besar. Akademisi selalu melangkah dengan penuh perhitungan dan ragu-ragu, sedangkan pengusaha selalu melangkah dengan berani dan tidak takut salah.
Kepada para karyawannya Anwar mendorong untuk belajar menjadi wirausaha yang baik dan berharap sukses dengan kemampuannya sendiri. “Saya sangat senang dan bahagia ketika melihat anak buah saya menjadi seperti saya, bahkan lebih baik. Dan saya berharap itu selalu terjadi,” tegas lulusan D3 Teknik sipil Universitas Brawijaya Malang ini.

Karena itulah sosok pekerja keras ini lebih simpati terhadap para wirausahawan daripada PNS. Baginya sekarang bekerja sebagai PNS banyak dilakukan dengan cara yang kurang baik, terutama ketika melamar. “Tidak kurang dari 150 juta uang yang harus dikeluarkan untuk menjadi PNS, dan itu cukup untuk digunakan berwirausaha,” tegasnya. Karena itulah Anwar lebih menyarankan untuk berwirausaha daripada berebut kursi jabatan di PNS. (syihab)

Jumat, 03 Agustus 2012

Mengolah Ikan Laut yang Profesional dan Bermutu Tinggi

Penulis: Suwandi-Tulisan 2012
KERJA KERAS: Para Pekerja UD. HTN sedang mengeringkan ikan hasil tangkapan nelayan

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Itulah peribahasa yang tepat untuk ditematkan pada diri Hj. Salma, seorang ibu paruh baya, yang tegar dan selalu bersemangat untuk mengelola usaha ikan rebus dan kering miliknya. Usaha ikannya itu diberinama UD. HTN Pabean Tambakboyo Tuban.
Dengan perjuangan yang gigih semenjak ditinggal almarhum suaminya H. Cosim (dulu pernah menjabat pengurus MWC LP Ma’arif NU Tambakboyo dan bergabung juga di dalam kepengurusan PAC GP Anshor Tambakboyo), kini Hj. Salma bisa mengelola usahanya dengan mandiri dan bahkan mampu mengembangkannya. Selama 35 tahun dia memperjuangkan usahanya tersebut, kini hasilnya mampu mencukupi kebutuhan keluarga dan sekolah anak–anaknya.
            Usaha ikan rebus dan ikan kering yang dikelolanya ini terletak di desa Pabean, Tambakboyo. Karena banyak nelayan yang menjual hasil tangkapannya pada Hj. Salma, maka usaha itu menjadi usaha yang sangat besar dan bahkan kini telah mempunyai cabang usaha yang bernama UD. HTN Putra yang terletak di Kenanti, Tambakboyo.
Saat banyak nelayan yang menjual ikan padanya, maka secara otomatis banyak stok ikan yang dimiliki Hj. Salma. Dari stok yang berlimpah itu, dia bisa mengirim ikan ke tempat pemasaran dalam jumlah yang berlimpah pula. Hal ini mengakibatkan penghasilan dan omset usahanya terus bertambah.
Apalagi ketika harga ikan dari nelayan cukup murah dan harga jual ke tempat pemasaran sangat tinggi, maka hal ini semakin membuat usahanya berkembang dengan pesat. ”Setiap hari banyak para pelanggan yang menghubungi saya untuk segera mengirimkan ikan basah maupun kering ini. Biasanya sampai kuwalahan juga karena begitu banyaknya yang memesan dan segera untuk dikirim,”ujarnya penuh semangat.
Dan sejalur dengan kondisi itu, dia bisa mengembangkan usahanya sampai saat ini, sehingga mampu menghidupi keluarganya sekaligus menyekolahkan putra putrinya sampai di perguruan tinggi.
            Hj. Salma mengungkapkan kesuksesan yang didapatnya kini tidak diperolehnya dengan mudah. Dia memulai usahanya benar-benar dari nol. ”Saya merintis usaha ini mulai dari kecil bersama almarhum suami saya. Dari dulu saat kapal yang berlabuh di pantai masih sedikit sekali, sampai sekarang sudah banyak kapal yang berlabuh di sini dan banyak menjual ikan hasil tangkapannya kepada saya,” ungkap Hj. Salma.
Karena banyak nelayan yang menjual ikan hasil tangkapan padanya, kini usaha Hj. Salma telah memiliki cabang di desa Kinanti, Tambakboyo.
Salma merupakan sosok yang tekun dan qona’ah serta loman (suka memberi). Sebelum dia mengembangkan ikan rebus dan keringnya ini dengan besar, dia juga pernah mengalami masa paceklik. Hal itu menururtnya disebabkan harga ikan yang dikirim ke tempat pemasaran di bawah standar dan tidak sesuai dengan harga belinya dari nelayan.
Namun dengan ketekunan dan niatnya yang kuat, akhirnya dia bisa bertahan dan mampu menjadikan usahanya semakin berkembang dengan pesat.
”Ibu saya memang orangnya tekun dan selalu semangat sampai-sampai 1 bulan yang lalu ibu sakit. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah sehat kembali,”kata Ilma, putri Hj. Salma.
            Proses pengolahan ikan basah dan kering itu berada di dua tempat, yakni di desa Pabean (dekat rumahnya sekarang) dan di desa Kenanti (dekat rumah putranya). Masing-masing dari kedua tempat pengolahan ikan itu setiap harinya mampu mengolah 10-20 ton ikan.
Hj. Salma menjelaskan proses pengolahan ikan kering itu diawali dengan merendam ikan dalam beberapa jam. Lalu ikan itu direbus dan selanjutnya dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari hingga ikannya benar–benar kering. Sesudah ikan kering, kemudian ikan itu dipacking di dalam kardus dan siap untuk dipasarkan.
Berbeda dari proses pengolahan ikan kering, proses pengolahan ikan basah relatif lebih sederhana. Awalnya ikan direndam dalam air dicampuri bongkahan es dalam beberapa jam. Setelah itu ikan dipindah ke boks ikan yang sudah ada bongkahan es-nya hingga siap dikirim ke tempat pemasaran. Agar ikan basahnya dapat bertahan lama maka boks tersebut diberi bongkahan es yang banyak pula.
            Hj. Salma menuturkan dulu pelanggannya hanya sedikit, yakni sekitar daerah Jawa Timur saja, tapi sekarang pelanggannya sudah merambah ke kota–kota lain, seperti Jakarta, Bogor, Krawang, Cianjur, Bandung, Lampung dan Palembang. Ke depan dia mempunyai niat untuk memasarkan ikannya ke daerah pulau Sumatra karena menurutnya di daerah itu sangat berprospek dengan hadirnya ikan-ikan hasil produksinya.

Perbanyak Jaringan
”Agar proses berwirausaha bisa berkembang, apalagi kalau ada hubungannya dengan konsumen, maka harus memperbanyak jaringan atau semacam relasi. Selain itu juga masalah produk yang ditawarkan harus dipikirkan,” ungkap Hj. Salma.
Menurutnya, semakin banyak konsumen yang tertarik dengan produk yang ditawarkan, maka semakin banyak pula pemasukan dan penghasilannya. Dia menambahkan bahwa dalam proses memperbanyak jaringan, dia menekankan harus selalu bersikap jujur dan tidak merekayasa sedikit pun. Dengan itu, maka sedikit demi sedikit pelanggan akan semakin bertambah.
            Memang nama U.D HTN usaha Hj. Salma ini kurang begitu populer di daerah lokal, tapi kalau di kota–kota besar, tempat pemasarannya sudah banyak yang kenal dan mengerti. Makanya, Hj. Salma mengatakan banyak pelanggan atau konsumen yang bertempat jauh di luar kota Tuban.

            Dengan banyaknya pelanggan atau konsumen yang dimiliki, Hj. Salma saat ini, praktis usahanya juga membutuhkan banyak karyawan. ”Sampai saat ini kami mempunyai sekitar 60 karyawan, dan pada waktu musim banyak ikan, biasanya jumlah karyawannya pun bertambah,” katanya. (wandi)


Kunci Sukses, Jujur dan Loman
 
Hj. Salma, Pengusaha Ikan Laut
        Meskipun dalam menjalankan usahanya Hj. Salma pernah mengalami musim paceklik dan permasalahan yang lain, tetapi hal itu tidak menjadikan wanita asli kelahiran Tambakboyo ini berkecil hati dan patah arang. Malah dia semakin semangat, menerima dan belajar dalam menghadapi permasalahan. Sebenarnya ada beberapa rahasia kunci sukses yang membuatnya seperti itu.
Hj. Salma menuturkan, ”Hal yang terpenting agar kita sukses kita harus sabar, neriman (qona’ah) dan semangat jangan lupa loman (suka memberi). Bersikaplah jujur pada pelanggan maupun konsumen sehingga pelanggan tidak kecewa dengan kita. Dengan begitu, insya Allah apa yang kita kerjakan akan selalu diberi kemudahan dan kelancaran oleh Allah SWT.”
”Kami sangat senang sekali, kerja di U.D HTN miliknya Hj. Salma ini, selain bisa bekerja dan dapat uang, saya juga banyak teman dan bisa kumpul-kumpul bareng dengan tetangga yang lain,” kata salah seorang karyawan Hj. Salma.
Hj. Salma berharap, semoga ke depan usahanya semakin berkembang dengan pesat. Lebih-lebih dia bisa membuka cabang lagi dan nantinya akan memperdayakan SDM Tuban, khususnya pada masyarakat Tambakboyo dan sekaligus menambah lapangan pekerjaan yang ada di kota Tuban.
”Jika itu terealisasi, maka angka pengangguran yang ada di kota Tuban khususnya untuk ibu-ibu rumah tangga yang ada di lingkungan pesisir yang belum bekerja semakin berkurang, ”imbuhnya. (wandi)