Senin, 01 Desember 2014

Meneropong Usaha Anyaman Pandan

Pasarkan Sampai Malang dan Mojokerto

DAUN PANDAN: Pengrajin anyaman membuat tas dari daun pandan.
Bermodal keterampilan, semua pun jadi lading usaha yang mampu menghasilkan uang. Motto ini yang selalu tertanam dalam hati Suryani, seorang ibu rumah tangga yang kreatif dalam mengayam daun pandan. Bagaimanakah peluang bisnisnya?

Usaha menganyam daun pandan telah menjadi warisan leluhur bagi Suryani, warga Desa Sumberjo Kecamatan Widang.“YaMas, ini semua bermula dari keluargaku dulu. Entah kapan mulainya. Aku tidak  tahu,” katanya saat ditemui NUsa. Suryani mengaku sejak dulu sudah terbiasa dengan tangan yang terampil, sehingga ide-idenya untuk menciptakan karya dari hasil olah tangannya dalam menganyampan dan kian mudah dikeluarkan.Tak pelak, anyaman yang terbuat dari daun sejenis pandan yang biasanya hanya bisa dirupakan tikar, kini mampu beralih wajah menjadi tas cantik yang bernilai ekonomis. Apalagi, tuturnya, daun panda khas desa asalnya, yakni Sumberjo, memiliki kualitas lebih baik daripada daun pandan pada umumnya. Akhirnya, kini usahanya itu telah semakin diminati oleh ibu-ibu Fatayat maupun Muslimat NU.
Usaha yang bermodal awal hanya 1 juta rupiah itu dikenal dengan julukan Surya PW. Julukan itu bermula dari Ibu Suryani (38) dan  adiknya, Rina Niswatin (27). Untuk memperbaiki kualitas warisan leluhur, Suryani dan Rina pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh PNPM di desanya. Karena bahan yang dipakai dalam pelatihan itu relative lebih mahal, maka Suryani mencoba mencari bahan yang terjangkau harganya, sesuaikan tong orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Akhirnya Suryani memutuskan memproduksi tas cantik yang terbuat dari bahan sederhana, pandan. Meski demikian, kolaborasi antara hasil pelatihan dari PNPM, kemampuan pribadinya yang telah terbentuk daripara pendahulunya dan bahan pandan yang sederhana tapi berkualitas baik mampu menghasilkan karya kerajinan yang menarik.
Al hasil, usaha yang hanya dianggap sampingan itu ternyata berbuah manis. Ditangan terampil Suryani dan Rina, barang yang pada umumnya terkesan biasa, kini telah mendapat perhatian khusus dari para konsumen. Berbagai hasil karya mereka telah dibandrol dengan harga beragam. Seperti, tas dompet harganya sekitar 35.000 rupiah, tas ABG model harganya 50.000 rupiah, tas Hello Kitty harganya 60.000 rupiah dan tas belanja besar dihargai 70.000 rupiah. Bahkan ada bentuk lain, jika konsumen menghendaki bentuk yang berbeda.“Harga yang berbeda itu disebabkan oleh tingkat sesulitan dan bahan yang diperlukan waktu pembuatannya,” kata Rinadi sela-sela kesibukannya.
  
Beberapa tas dari duan pandan.

Konsumen Sampai Malang dan Mojokerto
Usaha anayaman daun pandan yang digeluti Suryani dan Rina ini kini telah terpasarkan sampai Malang dan Mojokerto. Ceritanya, pada awalnya system pemasaran produk kreasinya itu hanya melalui getok tular. Karena getok tular itu akhirnya usahanya mampu dipasarkan sampai di Babad, Plumpang dan Lamongan. Karena banyak yang minat, iseng-iseng, Juki seorang warga dari Desa Tunah Kecamatan Widang meminta keluarganya yang ada di Malang dan Mojokerto untuk ikut memasarkan hasil kreasi Suryani. Tak disangka, sambutan pasar di dua kota itu ternyata baik. Sehingga produk hasil olahan Suryani ini telah menemukan pasarnya di sana. “Karena banyaknya pesanan tapi tenaga kami minim, kami sampai menolak pesanan,” kata Rina.
Namun, kini produk anyaman Suryani dan Rina ini telah dipasarkan via online. Bahkan pengusaha wanita ini kini telah berani memamerkan hasil karyanya di Rest Area Tuban sampai sekarang. Dikatakan, usaha kerajinan ini harus ditopang oleh 3 hal, yaitu kemauan, modal dan yang terpenting pemasaran.

Rahasia dan Tantangan
Membuat kerajinan itu merupakan sebuah tantangan tersendiri di benak para pengrajinnnya. Usaha ini murni membutuhkan tenaga ekstra dari mulai pencari anbahan, membuat sampai cara agar produk diminati para konsumen. Inilah letak diminati atau tidaknya usaha ini oleh para pemula usaha, sehingga banyak sekali orang yang kurang minat dengan usaha ini.Namun, rina berbeda. Dia mengungkapkan bahwa berkarya itu tidak sulit dan bahkan baginya mudah sekali. Hanya butuh keuletan dan kesabaran saja.
Sebenarnya, kerajinan yang satu ini sama seperti kerajinan pada umumnya, tapi yang menjadikan berbeda adalah bahannya yang pilihan dan metode pembuatannya yang unik. Langkah pertama pembuatannya, yaitu mempersiapkan bahannya yang meliputi lemkayu, gunting, palu, benang dan alat jahit. Kedua, kayu yang sudah disiapkan dilem untuk menghilangkan jamur. Kemudian membuat pola atau gambar, setelah itu barang setengah jadi itu dijahit sesuai pola yang disiapkan. Setalah terbentuk, tas diberi milamin/diflitur agar terlihat halus. Kemudian terakhir dijemur agar terlihat bagus dan mengkilat.
“Rahasianya agar produktas ini awet dan tetap bagus warnanya, jangan sampai disimpan pada tempat yang kedap udara seperti lem aria tertutup,” jelas Rina. (edy)


0 komentar:

Posting Komentar