RAPAT REDAKSI NUsa

Akhmad Zaini (Pimred Tabloid NUsa) memimpin rapat redaksi di halaman kampus STITMA Tuban.

DIKLAT JURNALISTIK

Peserta diklat jurnalistik dan crew Tabloid NUsa berpose bersama usai kegiatan diklat.

SILLATURRAHMI

Ketua LP. Ma'arif NU Kab. Tuban dan Pimred Tabloid NUsa berkunjung ke Rumah Gus Rozin (Putra KH. Sahal Mahfudz).

NUsa PEDULI SPESIAL

Mustain Syukur (Ketua PCNU Kab.Tuban) dan Fathul Huda (Penasehat LP. Ma'arif NU Tuban) berpose bersama siswa yang mendapatkan santunan NUsa Peduli.

STUDY BANDING LP. MA'ARIF NU KAB. TUBAN

Akhmad Zaini, ketua LP. Ma'arif NU Kabupatn Tuban saat menerima cinderamata dari LP. Ma'arif Kab. Pasuruan.

RAPAT BERSAMA

Pengurus PCNU, Pengurus LP. Ma'arif NU, PC.Muslimat Tuban, PC.Fatayat NU Tuban saat rapat bersama membahas pendidikan di Kabupaten Tuban.

GROUP SHOLAWAT SMK YPM 12 TUBAN

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

TURBA MAARIF NU TUBAN KE RENGEL

Group Sholawat Al-Banjari SMK YPM 12 Tuban melantunkan tembang sholawat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

NUsa PEDULI EDISI 23

Tiga siswa berada di naungan LP. Ma’arif menerima santunan yang diberikan langsung oleh Dirjen Pendis (kanan) dan Kapala Kemenag Tuban.

PENGURUS PC. LP MA’ARIF NU

Beberapa Pengurus PC. LP Ma’arif NU Tuban siap bekerjasama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Tuban.

AVANZA UNTUK OPERASIONAL MA’ARIF NU TUBAN

Zaini (Ketua PC. LP. Ma'arif) menerima hadiah mobil dari Bupati Tuban secara simbolis pada acara Rakor kepala sekolah dan pengurus yayaasan se-kabupaten Tuban.

PRESTASI FATAYAT

Fatayat NU Tuban Masuk 10 Besar Lomba Rias Provinsi.

JUARA MTK

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

TIM TABLOID NUsa

Beberapa Crew Tabloid NUsa, mereka semua generasi dari NU berasal dari Tuban, Lamongan dan Bojonegoro.

Rabu, 30 Juli 2014

OPINI TABLOID NUsa EDISI 2


Minimnya Budaya Munulis Warga NU


Oleh: M. WAKHID QOMARI *)

Sebagai bagian dari warga NU, saya masih kurang puas, kalau tidak boleh berkata prihatin, dengan kemampuan menulis warga NU yang tersebar di desa-desa maupun kota, baik pelajar, mahasiswa sampai pegawai berkerah putih sekalipun. Saat diminta berargument dalam suatu musyawarah, banyak sekali warga nahdliyin itu yang mampu berbicara secara panjang lebar, baik yang runtut maupun yang glambyar
M. Wakhid Qomari, S.Pd
ke mana-mana sekalipun. Namun saat diminta untuk menulis secara runtut, sistematis dan panjang, sangat sedikit sekali yang mampu. Bisa dibilang mereka yang mampu menulis bisa dihitung dengan jari dari keseluruhan warga nahdliyin Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang jumlahnya sangat banyak. Sungguh sangat memprihatinkan, mengingat nahdliyin adalah masyarakat mayoritas di negeri ini.
Memang, cukup rumit mendapatkan kemampuan menulis. Oleh karena itu, kemampuan menulis menempati tempat yang paling prestisius dalam ilmu bahasa.
Di dalam ilmu bahasa, ada empat tingkatan kemampuan bahasa yang harus dilewati oleh orang yang berbahasa dan tingkatan itu telah tersusun secara runtut, yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Dari runtutan ini nampak sekali kemampuan menulis terletak pada bagian paling belakang. Hal ini terjadi karena memang kemampuan menulis adalah kemampuan yang paling rumit di antara kemampuan bahasa yang lain dan memang kegiatan menulis juga melibatkan beberapa tingkat tahapan kemampuan bahasa itu. Pada awalnya manusia terlahir di dunia, mereka akan mendengar. Setelah mendengar dan paham, mereka akan berucap-ucap kata, kemudian membaca-baca dan akhirnya menulis tulisan. Menulis tulisan terjadi saat manusia telah mampu mendengar, berbicara dan membaca.
Menurut Suhariyadi seorang dosen prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Unirow Tuban, apa yang orang bicarakan, betapa penting ide yang diucapkan itu, akan segera hilang ditelan keadaan apabila tidak dituliskan. Dan ide yang penting itu tidak bisa kita pelajari lagi di masa mendatang. Akan tetapi, beda halnya dengan tulisan. Tulisan tidak akan lekas hilang, bahkan akan ada terus selama tulisan itu masih ada dan bisa dibaca serta dipelajari. Ini adalah kekekalan ilmu di atas bumi ini.
Coba bayangkan ketika masa kepemimpinan kholifah Abu Bakar As-Shiddiq, di mana banyak hafidz yang dibunuh saat itu, sehingga tinggal sedikit sekali para hafidz di kalangan muslimin, ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an mungkin telah diobrak-abrik oleh pihak-pihak yang berkepentingan, karena sudah jarang yang menjaganya. Namun, berkat ayat-ayat yang telah tertulis dan ingatan para hafidz yang tersisa, yang kemudian berujung pada pengumpulan dan penataan ayat-ayat itu sehingga menjadi mushaf, apa yang kita lihat, sampai sekarangpun Al-Qur’an masih tetap utuh dan bisa dipelajari oleh siapapun. Oleh karenanya, kemampuan menulis adalah kemampuan yang sangat penting. Sangat penting!
Sebenarnya, kegiatan menulis sangat berkaitan dengan daya nalar (imagination), kreatifitas serta struktur fikir seseorang, yang dituangkan dalam bentuk tulisan sebagai akibat dari input yang masuk ke otak, yang kemudian berujung pada penilaian tingkat intelektualitas orang tersebut. Dan hal ini, di tubuh NU, telah ditunjukkan oleh sosok seorang KH. Abdurrahman Wahid “Gus Dur” (alm).
Gus Dur, betapa pun orang mengaguminya dari berbagai aspeknya: baik sebagai seorang kiai, budayawan, seniman, aktifis, ataupun politikus, adalah cermin bagi kita warga nahdliyin dalam dunia tulis menulis. Tulisan-tulisan beliau di berbagai media massa, selama beliau hidup, yang kini telah banyak dibukukan, menunjukkan keluasan dan keruntutan pemikiran beliau. Saat kita membaca tulisan beliau yang panjang dan padat itu, kita akan merasa berenang dalam lautan ide yang disuguhkan. Dan itu tidak terbatas pada satu aspek dari disiplin ilmu. Beliau berhasil memadukan ilmu agama dengan realitas sosial, humor, seni dan politik. Semua itu diramunya dengan apik dan menarik, dengan sentuhan religious akan tetapi tidak meng-abuse. Sehingga, saat kita membaca tulisan beliau, kita akan merasa ingin dan ingin membaca.
Namun, nampaknya, apa yang ditunjukkan Gus Dur belum mendapat respon yang menggairahkan dari kita sebagai warga NU secara umum. Kita lebih mangagumi Gus Dur sebagai sosok, sam’an wa tho’atan dalam cara berpikir, tetapi tidak mengikuti jejak beliau sebagai seorang penulis handal.
Tentu saja, kalau diminta untuk menyamai kapasitas beliau yang terlampau tinggi itu, kita jelas tidak mampu menandingi hasanah pemikiran beliau. Akan tetapi, budaya menulis yang beliau tunjukkan semestinya mampu menjadi motor penggerak semangat kita untuk menulis, betapapun jeleknya tulisan kita, apa lagi kalau kita tertakdirkan sebagai mahasiswa atau pegawai berkerah putih. Budaya menulis harus menjadi concern kita di era sekarang.
Setelah sekian lama saya bergelut dalam lingkungan nahdliyin, mulai sejak dulu masih bersekolah di SDNU Al-Falah Gajah-Baureno-Bojonegoro sampai sekarang bergelut dan berinteraksi dengan para nahdliyin di berbagai organisasi, nampaknya saya melihat ketidak mampuan warga nahdliyin untuk menulis itu karena ada keengganan sikap terhadap dunia tulis menulis. ‘Tidak mampu mengembangkan tulisan’ menjadi alasan utama kala ditanya mengapa. Alasan ini memang logis untuk menjelaskan masalah ini. Memang, mengembangkan tulisan itu sulit, kalau tidak mengerti caranya. Namun, apabila kita sudah tahu cara mengembangkan tulisan, maka dengan sendirinya masalah mandegnya ber’ide’ yang berakibat stagnannya tulisan tidak akan pernah terjadi lagi.
Tidak dapat mengembangkan tulisan terjadi, menurut saya, karena ketidak-tahuan kita akan teknik menulis yang sistimatis, kurang membaca (baik buku maupun keadaan alam dan lingkungan di sekitar kita) dan kurangnya latihan menulis.

Ketidak-tahuan Teknik Menulis Secara Sistimatis
Coba bayangkan bagaimana seseorang bisa menulis dengan baik dan runtut kalau belum memahami tekniknya. Anak yang baru belajar membaca tidak akan pernah bisa membaca kalau belum tahu teknik membaca. Huruf ‘o’ tidak mungkin dia ucapkan kalau dia belum tahu cara membacanya. Dan dia tidak akan pernah bisa membacanya kalau dia tidak berusaha belajar mengucapkannya. Tentu saja harus ada yang mengajarinya, kalau dia mau mempelajarinya. Dunia tulis menulis pun sama. Bahwa ada teknik yang harus dipelajari untuk bisa menulis dengan baik dan runtut.
Setiap jenis tulisan mempunyai karakteristiknya masing-masing, namun keruntutan tulisan tetaplah harus dijaga. Alur tulisan dengan loncatan-loncatan perubahan ide harus disampaikan secara enak dan menarik, tidak sekedar menyampaikan ide tanpa ada pengembangan yang tuntas.
Ide, bagaimanapun bentuknya, adalah pilihan yang telah dipilih oleh seorang penulis. Ide yang dipilih ini kemudian menjadi ide pokok, ide yang mendasari tulisan. Ide pokok itu akan menjadi ide utama tulisan manakala ide pokok itu telah dipecah menjadi ide-ide pokok yang lebih rinci yang kemudian dipersiapkan untuk ide-ide pokok di setiap paragraf.
Ide utama tetaplah ide utama yang akan menjadi inti tulisan, namun ide-ide pokok dalam setiap paragraf tadi harus menjadi ide-ide yang bisa dikembangkan menjadi paragraf-paragraf. Tentu saja yang harus dipahami di sini adalah pengembangan ide pokok dalam setiap paragraf itu bisa dengan penjelasan, contoh, ataupun penguatan/pendalaman. Di samping itu, dalam pengembangan paragraf itu harus tetap diperhatikan ketepatan pemilihan ide-ide pendukung. Baik penjelasan, contoh ataupun pendalaman ide pokok harus berupa ide-ide yang mampu mengembangkan dan memperjelas ide utama paragraf itu.

Kurang Membaca
Kesalahan yang kedua sebagai faktor yang menyebabkan ketidak mampuan menulis secara sitematis adalah kurangnya membaca. Padahal jelas sebagai orang Islam, lebih-lebih kita sebagai nahdliyin yang mengaku ahlussunnah, kita diminta untuk membaca. Dengan kata “Iqro’”  di dalam Al-Qur’an yang berarti bacalah, maka kita sudah dengan sendirinya diminta Allah SWT. untuk membaca.
Suharyadi bahkan mengatakan bahwa menulis dan membaca umpama dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Orang membaca tetapi tidak menulis maka ilmu yang diserapnya tidak akan tersampaikan kepada orang lain dan dengan itu maka berakibat tidak berumur lamanya ilmu yang telah susah payah didapat itu. Sebaliknya, orang menulis tetapi tidak membaca jelas tidak mungkin, karena orang bisa menulis sebagai akibat dari input yang masuk ke dalam otak melalui membaca, baik buku maupun keadaan.
Oleh karena itu, di sini, yang perlu dipahami adalah apa yang menjadi pusat adanya kegiatan menulis dan membaca adalah otak. Otak manusia umpama perut yang diisi makanan, kemudian makanan itu akan dikeluarkan manusia sesuai dengan apa yang dimakan setelah berproses. Otak pun demikian. Otak akan mengeluarkan pikiran tentang meja yang ditutupi taplak warna hijau kalau sumber informasi dari mata (dalam proses membaca lingkungan) yang masuk ke otak adalah meja yang ditutupi taplak warna hijau. Begitulah. Apa yang masuk ke otak dari proses membaca akan keluar, setelah berproses, sesuai dengan apa yang masuk tadi.
Oleh karenanya, Suhariyadi mengatakan, “Menulis tanpa membaca tidak mungkin.” Coba pikirkan bagaimana mungkin orang menulis dengan lancar kalau tidak mau membaca. Membaca di sini adalah kegiatan membaca dalam arti yang luas, yakni membaca bukan sekedar membaca buku, tetapi bisa juga berupa membaca keadaan lingkungan sekitar. Jadi intinya adalah kalau mau menulis, maka harus sering membaca. Membaca!

Kurang Latihan
Kesalahan selanjutnya adalah kurangnya latihan menulis. Menulis sebagai sesuatu yang membutuhkan proses yang begitu rumit juga harus membutuhkan latihan. Seperti yang saya ceritakan di atas, bagaimana seorang anak mampu membaca huruh ‘o’ kalau tidak pernah latihan. Sehingga latihan menjadi tangga yang sangat penting untuk menghubungkan kemampuan penguasaan teknik menulis dan wawasan sebagai akibat membaca dengan hasil tulisan. Betapapun bentuk tulisan yang tercipta, akan mengalami perbaikan terus menerus apabila terus diasah setiap waktu.

Tentu latihan menulis itu butuh niat yang tulus untuk menjadi seorang penulis. Apabila seorang hanya mengatakan kegiatan menulis hanya sebagai kegemaran saja, maka tidak lama kegiatan menulis itu akan segera berhenti dan selesai. Tidak akan berlanjut kegiatan menulis itu dengan hanya dasar kegemaran. Akan tetapi akan berbeda kalau kegiatan menulis itu dilandasi niat yang tulus untuk menjadi seorang penulis. Hal ini juga sesuai dengan apa yang diungkapkan Suhariyadi bahwa kalau kita menulis seyogyanya kita bercita-cita menjadi seorang penulis, karena hanya dengan itu kita akan mendapat kekuatan menulis. (*)

Kasih Nestapa, Cerpen Asroeri


Kasih Nestapa
Oleh: Aghfiel Asroert
Cakrawala menampakkan wajahnya. Langit bercengkrama memaknai tetesan hujan dari tubuhnya. Berdesir air menghujat kehidupan di tanah gersang. Terlihat sepasang mata menatap gumpalan awan hitam, memaknai dirinya dalam kepilauan yang sangat. Sedangkan langit masih tetap saja mengguyur kegersangan yang tiada surut permukaanya. Matanya memandang begitu jauh menerawang hingga tak terbayang apa yang sebenarnya ada di benaknya. Kegelisahan memaknai deretan wajah dari pancaran dilema suraunya.  Nestapa namanya.
Di ruangan yang tak begitu besar dengan sebuah meja yang terlihat sedikit usang dengan tatanan buku di atasnya, Nestapa tetap bersandar menatap rintihan hujan yang menghilangkan keceriaan pagi. Gundah gulana hatinya begitu mengikat, memikul bebas asa yang begitu berat. Sementara di belakangnya, terlihat sesosok wanita setengah baya melangkahkan kakinya setapak demi setapak mendekati Nestapa.
“Nestapa?” katanya seraya memegang pundak kiri Nestapa. Sedangkan Nestapa hanya diam seribu bahasa dengan pandangan kosong.
“Nestapa.. dunia ini masih luas nak.. bunga mawar masih banyak yang bermekaran. Butiran bibit tak akan berhenti ketika manusia terpaku hanya karena cinta. Jika kau mau, ibu masih bisa mencarikan yang lebih baik dari Surya!” ungkap wanita setengah baya itu yang tak lain adalah ibu Nestapa.
Sedangkan Nestapa hanya tetap diam dalam kebisuanya. Bola matanya menatap kedinginan pagi bercampur rintihan air langit. Perlahan matanya mengeluarkan butiran mutiara yang begitu bening. Ibu Nestapa begitu memerhatikan kegundahan hati anaknya itu. Perlahan Ibu Nestapa sudah mencoba membongkar kegundahan yang penuh dengan asa dalam diri Nestapa. Dengan hembusan nafas kecil, Ibu Nestapa mencoba untuk bersabar.
“Nestapa.. !” suaranya tersentak oleh bibir kecil Nestapa.
“Sudahlah ibu. Biarlah Nestapa menatap jiwa Nestapa. Nestapa masih tak bisa percaya dengan semua ini. Nestapa sebelumnya tak pernah jatuh cinta. Baru sekali ini Nestapa membuka bunga hati Nestapa. Surya cinta pertama Nestapa ibu. Tapi kenapa, Surya menyayat-nyayat hati Nestapa ibu?” ratapan Nestapa disertai kucuran air kecil dari kelopak mata Nestapa.
“Nestapa anakku. Mungkin Surya pergi karena semuanya telah menjadi senja. Ayahnya, Ibunya, mereka telah tertimbun miliaran tanah Nestapa. Sekarang Surya harus membanting tulang demi adiknya”.
“Tapi haruskah dengan meninggalkan Nestapa bu..” desak Nespata.
“Ya,, mungkin itu yang terbaik Nestapa. Perlu kamu ketahui Nestapa, bahwa cinta sesungguhnya bukanlah dari manusia. Tapi nanti Nestapa akan mengerti dengan sendirinya!” tutur Ibu Nestapa memutar pikiran yang berkata-kata. Sedangkan Nestapa hanya mengangguk kecil disertai senyum kecil dari bibirnya bersama deraian air langit yang kian surut menghilangkan jejaknya.
***
          Mentari pagi begitu riuh dengan cicauan burung di angkasa. Bola warna matanya memikat setiap insan yang bangun dari samudra gelapnya. Terlihat burung-burung memberikan sayup merdu kicauanya. Berbeda dengan Nestapa yang dari hari ke hari hanya diam menatap kenangan indah bersama Surya. Sesekali kelopak matanya mengeluarkan seribu deraian kecil air mata.
Entah sampai kapan Nestapa seperti itu, menggeluti kesuramanya dalam mencari petak demi petak ladang diotaknya, mencari tahu apa sebenarnya maksud Surya.
          Tiba-tiba dalam lamunanya menatap seribu dilema yang tak kunjung usai, kelopak matanya menangkap satu buah kertas menempati kesantainya di atas tatanan kursi yang sedikit usang dengan tatanan buku diatasnya. Perlahan dalam diri Nestapa, Nestapa merasa ingin tahu apa sebenarnya isi dari kertas itu. Perlahan Nestapa mendekati tempat bersandarnya kertas itu. Kemudian dibukanya perlahan-lahan. Terlihat isinya seperti sepucuk surat. Nestapa kemudian membacanya.

Kasihku Nestapa...
Kutulis lukisan kata ini dengan sebilah pena
Hanya ingin memberimu sedikit cucuran kasih dariku
Jika Nestapa merasa memikul berat jawaban yang tak kunjung usai?
Cucurkan air dengan tuntunan agama yang Nestapa ketahui
Kemudian ambil sebuah kitab suci agama Nestapa
Buka dan bacalah
Maka segenap kegundahan akan sirna menjadi relung kegembiraan
Memaknai ayat perkata didalamnya
Kasihmu Surya....
         
          Perlahan Nestapa teringat akan kertas bertuliskan mantra itu. Surya memberikanya di saat sebelum pergi jauh meninggalkanya. Nestapa teringat akan semua kata-kata itu. Mungkin karena begitu dalamnya relung jiwa kasih Nestapa kepada Surya, hingga sekejap mata Nestapa melakukan apa yang tertera di surat itu. Setapak demi setapak kaki Nestapa berayun mendekati kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kesuraman wajahnya sirna digantikan rayana embun pagi memecah kegundahan malam yang memikat. Diputarnya penutup jalanya air hingga tsunami datang dari palaron. Nestapa mengambil pancaran air yang keluar itu. Diusapkanya ke mukanya dengan beberapa doa tuntunan agama hingga sampai batas mata kaki dikerjakanya. Kemudian sebuah kecerahan warna membayanginya dalam kelopak matanya. Setapak demi setapak kakinya menghantarkanya pada kecerahan sebuah warna. Diambilnya kecerahan warna itu yang tak lain adalah kitab suci Nestapa. Al qur an namanya. Kemudian sekelumit kata terucap dari bibir Nestapa.
Entah ada kekuatan dari mana. Hati Nestapa terasa ringan, sayup kesejukan, dan kejernihan jiwa terasa di kalbu Nestapa. Hingga lama Nestapa menatap ma’na dari ayat suci itu, mengantarkanya pada kesucian cinta dalam dirinya.
***
          Senja menancap erat di pelupuk langit biru. Meghantarkan segalanya menjadi membisu.  Kicauan burung hilang seketika tergantikan suara mamalia yang bersenandung dalam olah katanya. Berbeda dengen Nestapa yang bersuka ria di kala senja. Wajahnya penuh dengan senyuman kecil, menghiasi pancaranya yang mempesona seperti tak memikul beban penderitaan sedikit pun.
          Malam itu Nestapa dari sangkarnya merenungi keburamanya. Langkah kakinya mendekati meja tempat mengisi relung perut yang kosong. Ibunya merasa terkaget melihat kelincahan Nestapa malam itu. Senyum di bibirnya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa.
“Ada apa nak kok senyum-senyum?” tanya ibu Nestapa.
“Tidak ada apa-apa kok buk, cuman Nestapa gembira aja karena kegelisahan pikiran Nestapa telah terobati!”jawab Nestapa.
“Dengan apa Nestapa?”
“Dengan menemukan cinta yang sesungguhya yang pertama dalam hidup Nestapa, memberikan ketenangan palung jiwa Nestapa ibu!”.
“Siapa nak. Kenalkan dong sama ibu,” kata ibu Nestapa dengan senyum ria seperti rayana pagi.
“Bukan orang kok buk!”
“Lalu apa Nestapa?”.
“Ketika rayana pagi menghampiri kesendirianku, sepucuk kertas putih datang menghampiri. Kubaca dan kulakukan apa yang tertera di dalamnya,” jelas Nestapa mengulang sejarah cakrawalanya.
“Lalu apa isinya, ibu ingin tahu!”.
“Isinya; Kutulis lukisan kata ini dengan sebilah pena
Hanya ingin memberimu sedikit cucuran kasih dariku
Jika Nestapa merasa memikul berat jawaban yang tak kunjung usai?
Cucurkan air dengan tuntunan agama yang Nestapa ketahui
Kemudian ambil sebuah kitab suci agama Nestapa
Buka dan bacalah
Maka segenap kegundahan akan sirna menjadi relung kegembiraan
Memaknai ayat perkata di dalamnya. Kata-kata ini dari surya ibu”.
Ibu Nestapa hanya tersenyum kecil sembari berdiri dari tempatnya bersinggah memaknai kata syair yang keluar dari bibir kecil Nestapa. Kelopak matanya berkilau-kilau menatap lampu neon yang menerangi kegelapan malam Nestapa dan ibunya. Dan terucap kata indah dari wanita separuh baya itu.
“Alhamdulillah, kamu telah mendapatkan apa yang namanya cinta abadi yang terlindungi dari ancaman tuhan. Semoga hatimu sesuci alimat ayat penuh dengan kebersihan jiwa itu!”

“Amin…, “ ungkap Nestapa dan ibunya memaknai malam yang sayup akan kegembiraan yang menerjang gelapnya malam di rumah Nestapa. (*)

Sabtu, 26 Juli 2014

TABLOID NUsa EDISI 26

Anda bisa membaca Tabloid NUsa EDISI 26 di Layar Komputer, Laptop, HP/I-Pad Anda dengan mudah.
Syaratnya antara lain:
1. Anda harus punya akun 4shared (www.4shared.com) 
2. Silahkan anda login atau masuk jika sudah punya akun 4shared, namun jika belum punya silahkan anda buat akun.
Catatan: Apabila ada kesulitan untuk download file kami, anda bisa menghubungi admin: kangaidi HP (0856-3301-799/0857-0628-2861) Fb: kangaidi


Contoh Halaman Tabloid NUsa EDISI 26

 
 















Untuk download Tabloid NUsa Format PDF,  silahkan Anda klik ikon download di bawah ini ...











Selasa, 01 Juli 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 26//Marhaban Ya Ramdahan!



Sungguh waktu terasa begitu cepat. Bulan Ramadhan yang rasanya belum lama meninggalkan kita, kini sudah hadir kembali. Rasa suka cita menyambut bulan nan suci tersebut, kini kembali menyertai hati kita umat Islam.
Pembaca yang budiman, di bulan istimewa ini, kami pertama-tama ingin mengucapkan, ‘’ Selamat Menjalankan Ibadah Puasa’’. Semoga kita bisa menjalani bulan puasa dengan penuh kerikhlasan hati. Semoga apa yang kita lakukan selama sebulan ini, semata-mata mencari ridla Allah SWT. Dan ending-nya kita berharap, di akhir puasa nanti kita tergolong orang-orang mutaqqin seperti yang menjadi target utama dari diwajibkannya puasa Ramadhan.
Dengan maksud untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, pada edisi ini kami mengangkat laporan soal tradisi minum toak pada sebagian masyarakat Tuban. Laporan ini kami angkat, dengan maksud untuk melihat lebih dekat mengapa tradisi itu begitu mengakar di sebagian masyarakat di bumi wali ini. 
Dari data-data yang dikumpulkan, terungkap bahwa di balik tradisi minum toak ini ternyata ada beberapa nilai positif yang terkandung,  yakni bolo ngombe yang memiliki nilai dasar pertemanan, persaudaraan dan persahabatan. Juga keyakinan kalau toak bisa menghancurkan kandungan kapur di dalam tubuh manusia, mengingat air di bumi Tuban mengandung zat kapur yang begitu tinggi.
Di sisi lain, tidak bisa dinafikan kalau tradisi ini juga mengandung unsur negatif, yakni unsur mabuk yang kemungkinan besar akan menimpa orang yang meminumnya. Karena mabuk (memabukkan), maka kalau dilihat dari kaca mata agama, jelas hal itu tidak diperbolehkan alias haram. Karena itu, kearifan atau kebijakan dalam melihat persoalan tersebut harus dikedepankan. Diperlukan kiat-kiat khusus untuk tetap mempertahankan nilai-nilai positif, semberi membuang nilai-nilai yang negatif yang terkandung di balik tradisi minum toak tersebut.

Selain menyoroti tradisi minum toak, kami juga mengangkat berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan Ramadhan. Dari tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan (megengan), membangunkan orang sahur, makanan yang sehat untuk buka dan sahur, serta amalan-amalan yang bisa dilakukan perempuan yang sedanag haid selama bulan Ramadhan. Kita berharap, laporan-laporan tersebut menjadi sanjian menarik dan menambah wawasan terkait dengan datangnya bulan mulia ini . Selamat menikmati! (*)  

NUsa Peduli 26- Disalurkan dalam Bentuk Uang Tunai


DITERIMA ANAK YATIM: Tiga peserta didik dari MI Tarbiyatul Banin Banat saat ber-pose bersama dewan guru usai menerima santunan NUsa peduli.

MONTONG – Di sela-sela Haflah Akhirussanah MA Tarbiyatul Banin Banat Montong, NUsa peduli disalurkan. Penyaluran kali ini dilakukan di MI Tarbiyatul Banin Banat, dan diserahkan oleh Ketua MWC Ma’arif NU Montong Abdussalam, M.Pd.I pada Rabu (25/06).
            Seperti bulan sebelumnya, dana yang disalurkan sebesar Rp. 600 ribu diberikan kepada 3 siswa-siswi  MI Tarbiyatul Banin Banat. Bedanya, bila bulan sebelumnya penyaluran dalam bentuk barang, saat ini diberikan dalam bentuk uang tunai.
Ketiga siswa yang menerima santunan tersebut adalah anak yatim yang ditinggal oleh bapaknya sejak kecil. Mereka adalah Rizka Roihatul Jannah (kelas 5), putri dari Ny. Datun yang keseharianya sebagai seorang petani. Kemudian, Wawan Hendri Kurniawan (kelas 1), putra dari Ny. Darsih seorang buruh tani yang setiap harinya bekerja di ladang orang lain. Dan terakhir Ahmad Alfin Muzzaki (kelas 2) putri dari Ny. Walim.
            “Ketiganya berasal dari keluarga yang benar-benar kurang mampu, tetapi selama ini mereka tidak pernak mengecewakan guru-gurunya. Mereka selalu disiplin dalam keseharianya di sekolah,” jelas Abdussalam.

            Usai menerima, Rizka mengatakan kalau uang santuan yang dia terima akan dibelikan kebutuhan untuk sekolah besok pada tahun ajaran baru. Sedang Alfin bermaksud akan membeli baju baru untuk hari raya besok. (amin)

Rabu, 25 Juni 2014

TABLOID NUsa EDISI 25


Anda bisa membaca Tabloid NUsa EDISI 25 di Layar Komputer, Laptop, HP/I-Pad Anda dengan mudah.
Syaratnya antara lain:
1. Anda harus punya akun 4shared (www.4shared.com) 
2. Silahkan anda login atau masuk jika sudah punya akun 4shared, namun jika belum punya silahkan anda buat akun.
Catatan: Apabila ada kesulitan untuk download file kami, anda bisa menghubungi admin: kangaidi HP (0856-3301-799/0857-0628-2861) Fb: kangaidi

Contoh Halaman Tabloid NUsa EDISI 25




















Untuk download Tabloid NUsa Format PDF,  silahkan Anda klik ikon download di bawah ini ...



TOKOH INSPIRATIF NUsa EDISI 25//Hj. UMI KULSUM


AKTIFIS WANITA:Hj.Umi Kulsum aktif berorganisasi.

Nama lengkapnya Hj. Umi Kulsum S.Ag. M.Pdi. Karena kiprahnya di NU, hampir bisa dipastikan sebagian besar masyarakat NU Tuban mengenalnya. Dia adalah kader NU tulen yang berkhitmad di NU mulai dari bawah.

Umi adalah putri kedua dari pasangan Mohammad Mustain dan Rasminah. Dia lahir di Desa Morosemo, Kecamatan Plumpang, Tuban. Karena melihat perjuangannya yang gigih dan penuh semangat itu maka dia didaulat oleh Fatayat NU Tuban untuk menjadi ketua Cabang sejak....
Meski usianya belum tergolong sepuh, namun kegigihannya untuk berjuang di organisasi NU patut diberikan apresiasi. Dia telah mengabadi di oragisasi NU sudah puluhan tahun. Yakni dari duduk di bangku madrasah aliyah. Pada waktu itu, Umi muda bergabung di IPPNU tingkat desa dan kecamatan.
Di IPPNU, Umi pernah menjadi ketua PAC IPPNU Kecamatan Plumpang. Padahal, pada saat awal aktif di IPPNU dia sedang menempuh ilmu di tempat yang jauh, yakni Madrasah Aliyah di Lasem, Jawa Tengah. Karena jarak yang jauh itu, Umi harus bolak-balik Lasem-Tuban. Aktifitasnya pun akhirnya begitu padat. Namun, itu dia jalani dengan semangat dan senang hati.
“Awalnya bergabung di NU, saat saya liburan sekolah dan pulang kampuong. Dari situ saya diajak teman-teman hingga akhirnya mengenal IPPNU,” ucapnya saat ditemui di kantor PCNU Tuban.
Umi mengungkapkan, pihaknya mengenal NU secara mendalam pada saat duduk di bangku kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, persisnya semester 3. Mulai dari situ Umi mendapatkan kepercayaan sebagai ketua PAC IPPNU Plumpang dan mengenal NU lebih jauh. Kendati demikian, sebelum menjadi ketua, ia lebih dulu berkecipung dalam lembaga dakwah dan menjadi sekretaris PAC IPPNU Plumpang. Tidak berhenti di situ, selain aktif di tingkat PAC, dia aktif pula di tingkat PC IPPNU Tuban. Di tingkatan kabupaten kini, Umi awalnya mendapat tugas di bidang  dakwah. Kemudian menjadi sekretaris, selanjutnya menjadi ketua PC IPPNU Tuban.
“Dulu Bu Umi saat di IPPNU Cabang selalu menjadi patner saya. Selama kegiatan ia minta ditemani. Orangnya lincah, semangat dan sering melakukan turba, makanya saat ia menjadi ketua PC, banyak PAC IPPNU di Tuban yang aktif,” ungkap Siti Nur'aini, pengurus Fatayat Tuban yang juga pengurus PC LP Ma’arif Tuban ini.
Menurutnya, saat duduk di organisasi IPPNU cabang, Umi selalu aktif berkegiatan hingga sering keliling antar kecamatan. Perjuangan tersebut dia lakukan dengan penuh keikhlasan dan kebersamaan antar pengurus. Maka tak heran kalau kepengurusan semua PAC IPPNU se-Kabupaten Tuban saat itu menjadi aktif.
Setelah berjuang di IPPNU, Umi melanjutkan perjuangannya di Fatayat NU. Nasib yang dilalui juga hampir sama dengan ketika berada di IPPNU. Sebelum menjadi seorang ketua PC Fatayat NU Tuban, ia memulainya dari bawah. Awal memulai perjuangannya di Fatayat sebagai pengurus ranting, hingga di anak cabang sebagai koordinator di bidang dakwah pula. Kemudian, periode berikutnya sebagai sektertaris anak cabang. Selain aktif di tingkat anak cabang, aktif pula di tingkat PC Fatayat NU Tuban. Di pimpinan cabang ia diberi amanah untuk menjadi pengurus di bidang dakwah. Di saat Umi menjadi menjadi ketua PAC Fatayat NU Plumpang, dia juga menjabat sebagai pengurus harian di pimpinan cabang.
 “Saat saya menjadi ketua Fatayat NU Kecamatan Plumpang, saya juga aktif menjadi pengurus harian PC Fatayat NU Tuban. Hingga akhirnya menjadi sekretaris, lalu saat ini menjadi ketua PC,” tutur pegawai Kemenag Tuban ini.

Berbagai Terobosan 
Selama Umi memimpin organisasi, baik di IPPNU maupun di Fatayat, bisa dikatakan kalau sebagian program yang diagendakan bisa terealisasi. Untuk itu, berbagai langkah dia lakukan. Mulai dari melakukan koordinasi yang intensif dengan internal NU, dinas dan ormas, serta dengan para pejabat dan wakil rakyat. Dia membuat kegiatan mingguan, bulanan maupun semesteran.
 “Dulu saya juga pernah membuat kegiatan, saat itu bupatinya Bu Henny. Beliau saya undang beserta DPRD Tuban untuk menjadi pembicara di kegiatan seminar IPPNU,” tandasnya.
 Umi mengungkapkan, selama periodenya proses pengkaderan di IPPNU juga berjalan dengan lancar. Mulai pengkaderan makesta, lakmud, lakut maupun kemah dakwah. Pengkaderan yang aktif tersebut tidak hanya dilakukan di tingkat cabang, akan tetapi di anak cabang juga dilaksanakan.  “Kalau dulu itu semua aktif, dari ranting, anak cabang hingga pimpinan cabang, semua pengurusnya aktif. Maka dari itu, pengkaderannya juga berjalan dengan lancar,” imbuhnya.
 Saat Umi menduduki sebagai ketua PC Fatayat NU Tuban, berbagai program kegiatan pun ia gelar. Dalam program tersebut yang menjadi andalannya adalah di bidang dakwah, ekonomi dan pendidikan.
Dalam bidang ekonomi misalnya, ia beserta pengurus lainnya telah berhasil mendirikan koperasi Yasmin milik Fatayat NU dan selalu membuat usaha untuk ksejahtreaan anggotanya yang ada di tingkat ranting maupun anak cabang. Adapun di bidang akwah, dia membuat pengajian rutin setiap jum’at pon, pembinaan kepada anggota forum daiyah fatayat (Fordaf). Sedang di bidang pendidikan ia telah membuat program pemberantasan buta huruf pada usia lanjut. Dengan kemampuannya dan dukungan semua pengurus Fatayat yang dia pimpin, program tersebut berhasil dilaksanakan hingga saat ini. Selain itu menyelenggarakan pendidikan usia dini. Dengan kepeduliannya tesebut, ia beserta pengurusnya telah memiliki PUD binaan fatayat. (suwandi)

Tegas, Terbuka dengan Kritik
 Ketua PAC Fatayat Tuban Kota Dewi mengatakan, kalau Umi adalah sosok yang tegas. Dalam kondisi apapun, dia bisa ambil keputusan yang terbaik, meski kadang ada yang yang terpaksa harus dikorbankan. Namun demikian, Umi bisa menerima kritik yang membangun walaupun kadang meninggalkan begitu saja pada anggota yang dirasa lamban merespon apa yang diberikan.
 “Mbak Umi selalu berusaha membuat teman-teman Fatayat punya kesempatan. Selain itu, beliau juga kerap memberi motivasi kepada teman-teman untuk cari ilmu dan bekal untuk berdakwah. Contohnya untuk menyempurnakan ibadah yang kita laksanakan sehari-hari dengan program ngaji rutin, baik di cabang maupun seluruh ancab dan ranting se-Kabupatern Tuban,” katanya.
 Tidak hanya itu, upaya mendirikan majlis ta’lim yang digerakkan Fatayat seluruh ranting bisa memotivasi anggotanya punya usaha home industry. Hal tersebut digerakkan supaya perekonomian anggotanya bisa terangkat.
 “Upaya itu dilakukan Mbak Umi dengan maksud untuk meningkatkanekonomi keluarga anggota Fatayat,” tambah Dewi.
Siti Zulaichah, kakak kandung Umi mengatakan, kalau adik yang kedua dari tiga bersaudara itu terkenal baik dan suka memberi. Tidak hanya sekedar luman sama keluarga, akan tetapi juga kepada orang lain. ‘’Pada guru-guru diniyah, RA, TPQ pun juga luman," katanya.
Selain itu, sama suami Siti Zulaichah (kakak ipar), Umi juga baik. Para keponakannya kerap dibantu pula. "Umi sering membantu kami kalau ada kekurangan atau pas keluarga sakit, ia yang selalu bergerak dan membantu mengurus, karena yang ngerti ya hanya Umi," sambungnya.

Sama halnya dengan Dewi, Zulaichah juga mengatakan kalau Umi orangnya tegas, lincah dan mengambil keputusana juga cepat. Tidak hanya itu, Umi juga cerdas, rajin, aktif dan berani menghadapi sesuatu. (suwandi)

Minggu, 01 Juni 2014

DARI KAMI TABLOID NUsa EDISI 25//Berkah Akhirussanah


Akhir tahun ajaran (akhirussanah) 2014 ini, membawa berkah tersendiri bagi Tabloid NUsa. Beberapa lembaga pendidikan di bawah lingkungan L.P. Ma’arif berkomitmen untuk membeli NUsa dalam jumlah besar (bahkan untuk Sunatunnur Senori pesan sebanyak 2500 eksemplar, Al Hidayah, Lajukidul Singgahan 800 eksemplar) guna dibagikan kepada wali murid, undangan dan beberapa pihak yang nanti diundang dalam acara tutup tahun (akhirussanah) tersebut.
Dengan adanya ‘’order’’ tersebut, maka untuk edisi 25 ini, kami harus melipargandakan oplah, yakni hingga 6000 eksemplar. Ini berarti naik hingga 600 persen. Sungguh ini angka yang fantastis. Karena itu, tidak ada kata lain kecuali kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan kepercayaan kepada Tabloid NUsa. Yang lebih penting, kami tentunya memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang tidak terhingga. Karena Allah-lah semua itu bisa terjadi.
Perlu kami tekankan di sini, rasa bahagia dan syukur tadi, insya Allah bukan semata-mata karena oplah NUsa meningkat berlipat-lipat. Lebih dari itu, kami menangkap adanya nilai yang lebih berharga yang terselip di baliknya. Yakni, semakin meningkatnya kepercayaan dan kebutuhan warga NU Tuban kepada Tabloid NUsa. Mereka sudah bisa melihat bagaimana manfaat adanya tabloid ini.
Berikutnya, kami bersyukur karena momentum ini juga terjadi karena adanya ‘’tangan-tangan’’ yang mengolahnya. Artinya, meski NUsa sudah cukup eksis, namun kalau tidak ada tangan kreatif yang menanganinya dengan penuh kesungguhan dan keseriusan, maka hal itu pun kemungkinan tidak akan terjadi. Karena itu, kami bersyukur dari hari ke hari, NUsa semakin kedatangan ‘’tamu’’ anak-anak muda NU yang kreratif, berdidikasi dan berkomitmen untuk membesarkan NUsa.
Jika NUsa dari bulan ke bulan semakin eksis –meski berbagai persoalan tetap ada--, salah satunya faktor utamanya karena di dalam awak redaksi NUsa senantiasa kedatangan ‘’tamu’’ tadi. Dan yang paling terkini, ‘’tamu’’ tersebut bernama Hidayatullah. Anak muda dari Bangilan ini mengajukan diri untuk bergabung dengan NUsa karena merasa terpanggil untuk ikut membesarkan tabloid ini. Kini, dia bergerak menggarap pemasaran. Dan hasilnya, alhamdulillah seperti kami sebutkan di atas, beberapa lembaga berkomitmen untuk membeli NUsa dalam jumlah besar.
Perjalanan masih panjang. Semoga yang terjadi pada edisi ini adalah awal dari kemajuan Tabloid NUsa. Masih banyak mimpi yang harus digapai. Komitmen dan kerja keras masih sangat dibutuhkan! (*)

  

NUsa Peduli 25 - Untuk Dua Lembaga di Karek

DUA LEMBAGA: Lima pelajar dari dua lembaga yang ada di Kecamatan Kerek men-erima santunan NUsa Peduli. Penyaluran dilakukan sekretaris MWC Ma’arif Kerek.



KEREK – Pada edisi 25 kali ini, NUsa Peduli tersalurkan di dua lembaga yang ada di Kecamatan Kerek. Dua lembaga tersebut yakni SDIT Al-Hikmah dan MI Salafiyah, keduanya berasal dari desa Margomulyo. Acara penyaluran diserahkan oleh Akhmad Mustagfirin, S.Pd.I (sekretaris MWC Ma’arif Kerek) pada Senin (26/05).
             Dari jumlah siswa-siswi tersebut, 3 dari SDIT Al-Hikmah dan 3 dari MI Salafiyah, kesemuanya tergolong dari siswa yang kurang mampu tetapi bisa meraih prestasi. SDIT Al-Hikmah, satu-satunya lembaga pendidikan di Kecamatan Kerek yang membuat sistem fullday School.
Di antara siswa-siswi tersebut, Faridatus Sholikhah (kelas 1) putri Yanto (berprofisi tukang) dan Muroikhah, Surendra Ardhani Pratama (kelas 1) putra Susanto (Alm) dan Munfayati, Endra semenjak bapaknya meninggal, dia tinggal bersama paman dan ibunya yang keseharianya sebagai penjahit. Kemudian, Ahmad Ronggo Said putra Ghozali dan ibu Romlah.
            Berikutnya, Yulia (kelas 6 di MI Salafiyah), putri Karsiman dan Kamyatun. Meski berasal dari keluarga tidak mampu, namun Yulia merupakan siswa beprestasi di sekolahnya. Denita Erviana (kelas 6 di MI Salafiyah), putra Sampurno dan Dwi Setyowati. Sama dengan Yulia, Denita selalu meraih prestasi yang bisa membanggakan orang tuanya dan guru-gurunya. Dan yang terakhir, Norma Elisa Putri (tidak masuk karna sakit) juga selalu berprestasi.

            Mustagfirin yang juga kepsek SDIT Al-Hikmah berharap bingkisan dari NUsa Peduli bisa semakin membangkitkan semangat mereka. ‘’Mereka anak-anak yang bisa membanggakan kita,’’ tandasnya. (amin)